Krisis air Gaza semakin mengkhawatirkan setelah sejumlah fasilitas desalinasi berhenti beroperasi akibat kelangkaan bahan bakar. Kondisi ini mengancam pasokan air minum bagi ratusan ribu warga di wilayah tersebut.
Asosiasi Stasiun Desalinasi Air Gaza memperingatkan bahwa krisis air Gaza dapat berkembang menjadi bencana kemanusiaan dalam waktu dekat. Dalam pernyataannya pada Sabtu (20/6), asosiasi tersebut mengungkapkan beberapa fasilitas desalinasi telah tutup selama dua hari terakhir karena kehabisan bahan bakar.
Menurut asosiasi, perwakilan UNICEF menyampaikan pada Kamis lalu bahwa lembaga tersebut belum mampu menyediakan solar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan fasilitas pengolahan air.
Penutupan fasilitas desalinasi membuat krisis air Gaza semakin serius. Sebab, sebagian besar penduduk Gaza bergantung pada fasilitas tersebut untuk memperoleh air minum setiap hari. Selain itu, gangguan operasional yang berlangsung meski hanya beberapa hari dapat langsung memengaruhi keamanan air bagi masyarakat. Akibatnya, banyak keluarga berisiko kehilangan akses terhadap sumber air bersih.
Asosiasi menegaskan bahwa krisis air Gaza tidak hanya berdampak pada kebutuhan minum. Kondisi ini juga memicu masalah kesehatan dan sanitasi yang lebih luas, terutama di tengah keterbatasan layanan dasar akibat perang yang berkepanjangan.
Dalam rangka meminimalisasi dampak tersebut, asosiasi mendesak komunitas internasional dan lembaga kemanusiaan segera bertindak. Mereka meminta pasokan bahan bakar untuk fasilitas desalinasi menjadi prioritas agar operasional dapat kembali berjalan normal.
Jika tidak ada langkah cepat, krisis air Gaza bisa mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan demikian, jutaan warga dapat menghadapi ancaman yang lebih besar terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup mereka.
Saat ini, krisis air Gaza menjadi salah satu tantangan kemanusiaan paling mendesak di wilayah tersebut, di tengah berbagai kesulitan yang masih penduduk Gaza alami.
Sumber: Palinfo








