Ketegangan di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) kembali meningkat. Ini terjadi setelah pasukan Israel menggelar latihan militer di kompleks Masjid Al-Aqsa pada Selasa (14/7). Aksi tersebut memaksa penutupan akses di sejumlah gerbang utama, termasuk Gerbang King Faisal, selama kurang lebih 30 menit. Penutupan mendadak ini melumpuhkan aktivitas jemaah yang hendak memasuki maupun meninggalkan area masjid. Hal ini memicu kritik luas atas pembatasan akses yang terus otoritas Israel berlakukan di situs suci tersebut.
Baca juga: “Uni Eropa Luncurkan Dana Pemulihan Gaza”
Laporan dari kantor berita Palestina, WAFA, menyebutkan bahwa pasukan Israel tidak hanya menutup akses di Gerbang King Faisal. Akan tetapi, Israel juga memperketat penjagaan di seluruh pintu masuk. Tindakan ini merupakan bagian dari rangkaian upaya yang kian mempersempit ruang gerak umat Islam di Al-Aqsa. Berdasarkan data Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina, eskalasi di kawasan ini memang menunjukkan kenaikan. Dengan catatan, terjadi 26 kali penyusupan pasukan Israel ke dalam kompleks Masjid Al-Aqsa sepanjang Juni 2026.
Pihak Palestina menegaskan bahwa serangkaian latihan militer dan pembatasan akses ini merupakan upaya sistematis Israel untuk memperkuat kontrol penuh atas Al-Quds bagian timur. Tindakan tersebut dipandang sebagai langkah provokatif yang bertujuan mengubah identitas Arab dan Islam di kawasan Masjid Al-Aqsa. Hingga kini, Palestina tetap berpegang teguh pada pendiriannya bahwa Al-Quds adalah ibu kota negara Palestina yang sah sesuai dengan resolusi internasional, sehingga segala upaya perubahan status quo di kawasan tersebut terus mendapat kecaman keras.








