Jurnalis Al Jazeera kembali menjadi korban serangan Israel di Gaza. Pada Sabtu (21/6), jurnalis Al Jazeera Ahmad Washah terbunuh setelah serangan udara menghantam sebuah rumah di Kamp Pengungsi Al-Bureij, Gaza tengah.
Kanal berita Al Jazeera menyatakan Ahmad Washah bekerja sebagai kameramen Al Jazeera Mubasher. Sebelumnya, saudaranya, Mohammed Washah, yang juga bekerja untuk Al Jazeera Mubasher, telah terbunuh dalam serangan Israel pada April lalu.
Dengan kematian Ahmad Washah, jumlah jurnalis dan staf Al Jazeera yang terbunuh di Gaza sejak Oktober 2023 meningkat menjadi 12 orang.
Militer Israel mengakui melakukan serangan tersebut kemudian menuduh Ahmad Washah sebagai anggota Hamas tanpa menyertakan bukti yang mendukung klaim tersebut.
Baca juga: “Dewan Fatwa Palestina Peringatkan RUU Israel yang Bertujuan Membungkam Azan Umat Muslim”
Menanggapi insiden itu, Al Jazeera mengecam keras pembunuhan terhadap jurnalis Al Jazeera yang bertugas meliput situasi di Gaza. Jaringan media tersebut juga mendesak komunitas internasional dan lembaga hukum internasional mengambil langkah nyata untuk menghukum Israel.
Selain itu, Al Jazeera menegaskan akan menempuh seluruh jalur hukum guna menuntut pelaku kejahatan tersebut. Mereka juga menyatakan tetap berkomitmen melanjutkan peliputan di Gaza meski menghadapi risiko besar dan serangan yang terus berulang.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sedikitnya 262 jurnalis dan pekerja media telah terbunuh sejak agresi di Gaza dimulai pada Oktober 2023. Federasi Jurnalis Internasional juga melaporkan angka serupa.
Bagi Al Jazeera, kematian jurnalis bukan hanya kehilangan bagi dunia media, tetapi juga ancaman terhadap kebebasan pers. Karena itu, pihaknya kembali menyerukan perlindungan bagi jurnalis dan seluruh pekerja media yang bertugas di wilayah konflik.
Sumber: Al Jazeera, TRT World








