Serangan dan operasi militer berskala masif yang dilancarkan pasukan Israel di Kota Al-Khalil (Hebron), Tepi Barat bagian selatan yang diduduki, telah memaksa sedikitnya 3.971 warga Palestina mengungsi hingga Senin (26/10). Operasi darat yang kini memasuki hari keempat tersebut berdampak langsung pada 619 keluarga sipil, diiringi penangkapan massal, penutupan total wilayah, serta pembatasan ketat pergerakan penduduk.
Menurut Komite Pemantauan, Dukungan, dan Bantuan Al-Khalil, jumlah keluarga terdampak terus meningkat. Sebanyak 283 keluarga mengungsi ke rumah kerabat, sementara 266 keluarga belum menemukan tempat tinggal yang aman. Sebanyak 47 keluarga menempati akomodasi alternatif dan 23 keluarga terpaksa menyewa rumah.
Pasukan Israel menutup akses masuk ke Kota Al-Khalil, sejumlah desa, dan kamp pengungsi di sekitarnya. Mereka juga membatasi pergerakan warga di kawasan Al-Jilda dan Deir Baha setelah memerintahkan keluarga Palestina meninggalkan sejumlah area. Penutupan ini menghambat warga mencapai tempat kerja dan layanan penting.
Baca juga: Israel Paksa 2.000 Warga Palestina Mengungsi dari Al-Khalil (Hebron)
Sejak mulainya operasi pada Jumat (23/10), pasukan Israel menangkap sedikitnya 85 warga Palestina, termasuk seorang perempuan. Masyarakat Tawanan Palestina juga melaporkan lebih dari 250 orang menjalani interogasi lapangan. Sejumlah warga, termasuk anak-anak, turut mengalami penahanan dan perlakuan buruk.
Wali Kota Al-Khalil, Youssef al-Jabari, sebelumnya menyebut sekitar 2.200 warga telah Israel paksa meninggalkan rumah. Komite bantuan setempat kemudian memperbarui angka pengungsi menjadi 2.649 orang. Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan warga tidak boleh kembali sebelum apa yang disebutnya sebagai “infrastruktur Hamas” dibongkar.
Tekanan terhadap warga Palestina di Al-Khalil juga terlihat sepanjang September. Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina mencatat 272 serangan oleh pasukan Israel dan pemukim ilegal. Pada bulan yang sama, 19 operasi pembongkaran menghancurkan 91 bangunan Palestina.
Di tengah pengungsian dan pembatasan akses, keluarga terdampak kesulitan memperoleh tempat tinggal aman serta memenuhi kebutuhan dasar. Komite bantuan setempat mulai menyalurkan bantuan darurat, tetapi kondisi kemanusiaan berpotensi memburuk jika operasi militer dan penutupan wilayah terus berlanjut.








