Ribuan pasien dan warga Palestina yang terluka di Gaza berjuang mempertahankan hidup di tengah kelangkaan pangan, obat-obatan, dan perlengkapan medis. Blokade Israel dan serangan yang terus berlangsung memperburuk krisis kesehatan, sementara banyak pasien tidak dapat mengakses perawatan yang mereka butuhkan.
Keluarga pasien menjalani hidup dalam kecemasan akibat ancaman pengungsian dan kekhawatiran terhadap keselamatan rumah sakit. Penangguhan evakuasi medis serta menurunnya kapasitas layanan kesehatan semakin memperbesar risiko kematian bagi pasien.
Salah satu korban krisis ini adalah Ahmed al-Sahloub, seorang anak yang mengalami kelainan genetik dan malnutrisi berat sejak lahir. Ibunya, Rawand al-Ramlawi, berulang kali berusaha menyelamatkannya melalui perawatan rumah sakit. Namun, keterbatasan fasilitas medis dan ancaman evakuasi membuatnya khawatir kehilangan tempat terakhir untuk merawat sang anak.
Baca juga: Hampir 50.000 Perempuan dan Anak Perempuan Gaza Terbunuh atau Cacat Permanen
Juru bicara Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, Dr. Khalil Al-Daqran, menyatakan bahwa 19 dari 38 rumah sakit di Gaza telah berhenti beroperasi. Sementara itu, rumah sakit yang masih berfungsi menghadapi kekurangan peralatan, layanan laboratorium, dan tenaga medis spesialis. Sekitar 20.000 pasien dan warga terluka juga membutuhkan evakuasi medis ke luar Gaza.
Data otoritas kesehatan Gaza menunjukkan bahwa 43 persen pasien penyakit ginjal meninggal selama serangan berlangsung. Selain itu, sebanyak 2.027 pasien dilaporkan meninggal ketika menunggu dibukanya perlintasan untuk evakuasi medis. Fasilitas kesehatan juga mengalami lebih dari 793 serangan langsung.
Anak-anak menghadapi risiko yang semakin besar akibat kekurangan pangan dan malnutrisi. Sekitar 650.000 anak dilaporkan terancam meninggal akibat malnutrisi berat, sementara hampir 5.200 anak membutuhkan evakuasi medis segera.
Krisis ini diperkirakan memburuk saat musim dingin, terutama bagi pasien dan warga terluka yang tinggal di tenda pengungsian atau menunggu perawatan di rumah sakit yang penuh sesak.
Peneliti hak asasi manusia Bassem Abu Jri memperingatkan bahwa narasi media Israel yang menyasar fasilitas kesehatan Gaza dapat membuka jalan bagi serangan lanjutan. Ia menegaskan bahwa hukum humaniter internasional memberikan perlindungan khusus bagi rumah sakit, tenaga medis, dan pasien.
Berbagai pihak mendesak komunitas internasional segera bertindak untuk menghentikan serangan, membuka akses obat-obatan dan bantuan kemanusiaan, serta menjamin evakuasi medis yang aman bagi pasien Gaza.
Sumber: Palinfo








