Pemilu Israel 2026 menunjukkan tingginya partisipasi pemilih Palestina di tengah kebuntuan politik. Hasil sementara menunjukkan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan oposisi belum memperoleh mayoritas parlemen. Sementara itu, partai-partai yang mewakili warga Palestina di Israel meraih total 17 kursi.
Pada Selasa, 27 Oktober 2026, pemilih di berbagai kota dan desa Palestina di wilayah yang menjadi bagian Israel sejak 1948 mulai mendatangi tempat pemungutan suara sejak pukul 07.00 waktu setempat. Aktivis Joint List dan Ra’am juga mengajak warga memberikan suara lebih awal untuk mengantisipasi antrean.
Menurut Komite Pemilihan Umum Pusat Israel, jumlah pemilih terdaftar mencapai 7.331.981 orang, bertambah 543.177 dibandingkan pemilu sebelumnya. Warga Arab mencakup sekitar 18 persen dari total pemilih, atau sekitar 1,172 juta orang.
Baca juga: Pemilu Israel 2026: Apa Dampaknya bagi Palestina?
Partisipasi pemilih secara keseluruhan mencapai 77,7 persen, tertinggi sejak 1999. Angka ini muncul di tengah kehancuran Gaza, kekerasan pemukim di Tepi Barat, dan diskriminasi terhadap warga Arab.
Hasil sementara menunjukkan blok Netanyahu memperoleh 54 kursi, sedangkan oposisi meraih 49 kursi. Keduanya belum mencapai 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan mayoritas. Sementara itu, Joint List dan Ra’am meraih total 17 kursi. Jika hasil ini bertahan, jumlah anggota parlemen Arab di Knesset akan mencapai rekor tertinggi.
Namun, tingginya partisipasi dan perolehan kursi tersebut belum menjamin keterlibatan partai-partai Palestina dalam pemerintahan. Sejumlah pemimpin oposisi, termasuk Naftali Bennett dan Avigdor Lieberman, menolak kemungkinan berkoalisi dengan partai-partai Palestina.
Netanyahu tetap menjabat selama negosiasi pembentukan koalisi berlangsung. Hasil akhir pemilu akan menentukan apakah para politisi mampu membentuk pemerintahan atau Israel harus kembali menggelar pemilu.








