Upaya mitigasi dan persiapan logistik kemanusiaan dalam menghadapi musim hujan di Jalur Gaza kembali menemui hambatan struktural. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa pembatasan akses terhadap 65 persen wilayah Gaza kini menjadi kendala terbesar bagi penyaluran bantuan serta relokasi warga.
Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stéphane Dujarric, menegaskan bahwa organisasi-organisasi kemanusiaan beroperasi dengan ruang gerak yang sangat terbatas di sisa wilayah Gaza yang kini telah mengalami tingkat kepadatan penduduk yang ekstrem.
PBB dan mitranya telah menilai tiga lokasi potensial untuk relokasi sementara. Lokasi tersebut tertuju bagi keluarga yang memilih meninggalkan kawasan rawan banjir atau bangunan rusak yang berisiko runtuh.
Selain itu, Tim kemanusiaan memeriksa lebih dari 450 lokasi pengungsian yang teridentifikasi berisiko tinggi mengalami banjir. Berdasarkan data OCHA, sebanyak 464.400 orang (menempati sekitar seperlima populasi Gaza) saat ini tinggal di 451 lokasi rawan tersebut.
Namun, relokasi dalam skala besar membutuhkan persiapan panjang. Tim harus membersihkan sisa bahan peledak, meratakan tanah, membangun saluran air, memasang jaringan air dan penerangan, serta membuka akses jalan.
Persoalan lahan juga perlu terselesaikan sebelum keluarga dapat berpindah secara sukarela dan aman. Karena itu, pembatasan akses terhadap 65 persen wilayah Gaza turut membatasi pilihan lokasi yang lebih aman. Selain itu, organisasi kemanusiaan terus menghadapi penundaan izin masuk untuk berbagai kebutuhan operasional krusial, seperti alat berat, suku cadang mesin, oli, bahan bakar, dan material perbaikan infrastruktur.
Tanpa adanya pembukaan akses logistik dan pencabutan pembatasan wilayah, upaya untuk memperbaiki sistem drainase serta memperkuat tempat tinggal sebelum puncak musim dingin dikhawatirkan akan menemui jalan buntu, menempatkan ratusan ribu jiwa pengungsi dalam ancaman bencana.
Sumber: MEMO







