Pasukan Israel menghancurkan enam rumah warga Palestina dan sebuah bengkel pertukangan di beberapa wilayah Tepi Barat pada Senin. Penghancuran tersebut berlangsung dalam gelombang terbaru penghancuran bangunan Palestina di wilayah tersebut.
Di Kota Barta’a, sebelah barat Jenin, buldoser Israel meratakan lima rumah milik warga Palestina dan menyebabkan puluhan orang kehilangan tempat tinggal.
Kepala Dewan Barta’a, Ghassan Qabha, mengatakan bahwa rumah-rumah tersebut merupakan bagian dari 20 bangunan yang menjadi target pembongkaran dengan alasan tidak memiliki izin bangunan.
Menurutnya, pengadilan Israel telah menolak banding yang warga ajukan terhadap perintah pembongkaran tersebut. Israel mengklaim bangunan itu warga dirikan tanpa izin di Area C. Area C merupakan wilayah yang berada di bawah kendali penuh Israel berdasarkan Perjanjian Oslo.
Qabha menegaskan bahwa penghancuran tersebut telah membuat puluhan warga kehilangan rumah, Mereka menilai Israel hendak mendorong pengusiran serta pemindahan paksa penduduk Palestina dari wilayah tersebut.
Baca juga : “1.659 Pelanggaran dalam Sebulan, Serangan Pemukim Israel Terus Meningkat”
Barta’a sendiri berada di belakang tembok apartheid Israel. Area itu secara administratif termasuk dalam wilayah Jenin, sementara penduduknya memegang kartu identitas Palestina.
Di wilayah selatan Tepi Barat, pasukan Israel juga menghancurkan sebuah rumah dan bengkel pertukangan di Khirbet Qalqas, selatan Al-Khalil (Hebron).
Seorang warga setempat, Abdul Rahman Abu Sneineh, mengatakan bahwa rumah dua lantai milik keluarganya yang dihuni lima orang telah buldoser Israel ratakan. Selain itu, pasukan Israel juga merusak lahan di sekitarnya. Mereka menghancurkan tembok pembatas, mencabut sejumlah pohon buah-buahan, serta membongkar bengkel pertukangan di desa tersebut.
Warga Palestina dan berbagai organisasi hak asasi manusia telah lama menyoroti bahwa izin pembangunan di Area C hampir mustahil warga Palestina peroleh. Akibatnya, banyak bangunan kemudian Israel anggap ilegal dan menjadi sasaran pembongkaran.
Area C mencakup sekitar 61 persen wilayah Tepi Barat dan tetap berada di bawah kontrol penuh Israel berdasarkan Perjanjian Oslo
Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Tepi Barat sejak Oktober 2023. Menurut data Palestina, kekerasan yang terjadi telah menyebabkan 1.169 warga Palestina terbunuh. Di samping itu, sebanyak 12.666 terluka, hampir 23.000 Israel tangkap, dan sekitar 33.000 orang mengungsi.







![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)