UNRWA menghadapi ancaman baru setelah Board of Peace (BoP) bentukan Amerika Serikat menyatakan UNRWA tidak lagi memiliki tempat di Gaza. Pernyataan itu juga beserta ajakan menghentikan pendanaan bagi UNRWA dan mengalihkannya kepada BoP. Hal ini memicu kekhawatiran banyak pihak sebab hingga kini UNRWA tetap menjadi tulang punggung bantuan bagi jutaan pengungsi Palestina.
Duta Besar Amerika Serikat Jeff Bartos meminta negara-negara donor menghentikan dukungan kepada UNRWA dan mengalihkan dana mereka untuk mendanai BoP. Namun, Otoritas Palestina menegaskan UNRWA tetap berperan penting dalam menyediakan pendidikan, layanan kesehatan, dan bantuan darurat di Gaza serta wilayah Palestina lainnya.
Euro-Med Human Rights Monitor menilai upaya tersebut bertentangan dengan mandat Majelis Umum PBB yang membentuk UNRWA pada 1949. Menurut lembaga itu, penghapusan peran UNRWA tidak akan mengakhiri konflik. Sebaliknya, langkah tersebut berpotensi melemahkan hak pengungsi Palestina, termasuk hak untuk kembali ke tanah mereka.
UNRWA saat ini melayani sekitar 5,9 juta pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat, Yordania, Suriah, dan Lebanon. Namun, sejak larangan Israel berlaku pada 2025, badan PBB itu kesulitan menyalurkan bantuan meski gudangnya masih menyimpan pasokan untuk ratusan ribu warga.
Euro-Med juga menyebut sedikitnya 391 pegawai UNRWA telah terbunuh dan 312 fasilitasnya rusak atau hancur selama agresi genosida. Euro-Med mendesak negara-negara anggota PBB mempertahankan mandat UNRWA, memenuhi komitmen pendanaan, serta menolak segala upaya menggantikan badan tersebut dengan mekanisme politik yang dinilai mengabaikan hak-hak pengungsi Palestina.








