PBB memperingatkan memburuknya kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza di tengah krisis pangan dan penurunan tajam pasokan makanan bagi warga sipil. Peringatan itu muncul ketika Israel membuka kembali satu-satunya penyeberangan kargo yang disetujui menuju wilayah yang terkepung tersebut, sebagaimana dilaporkan Anadolu.
Mengutip Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan, juru bicara PBB Farhan Haq melaporkan pada konferensi pers bahwa “otoritas Israel membuka kembali Penyeberangan Karim Abu Salim (Kerem Shalom), yang tetap menjadi satu-satunya titik penyeberangan untuk kargo yang mereka setujui untuk memasuki Gaza.”
“Sementara itu, PBB bersama mitra-mitra kemanusiaan kami terus berupaya merespons kebutuhan masyarakat di lapangan di tengah hambatan birokrasi dan kekurangan dana, demi mempertahankan operasional bantuan serta menjangkau sebanyak mungkin warga yang rentan,” tambahnya.
Baca juga : “Enam Negara Berikan Sanksi terhadap Jaringan yang Membiayai Serangan Pemukim di Tepi Barat”
Terlepas dari upaya bantuan yang terus berjalan, “kebutuhan warga tetap sangat besar, puluhan ribu keluarga tinggal di tempat penampungan yang penuh sesak, sementara banyak harus tidur di luar ruangan atau di gedung-gedung yang rusak,” katanya.
Saat suhu naik, tenda dan tempat penampungan darurat “menjebak panas dan menjadi tidak layak huni pada siang hari,” kata Haq. Oleh karena itu, para mitra mendesak agar pasokan material penting segera mendapat izin memasuki Gaza. Material tersebut termasuk karung pasir, kayu, kayu lapis, dan semen.
Terkait akses pangan, Haq mengungkapkan bahwa keluarga-keluarga di Gaza merasa “semakin sulit untuk mengakses makanan, termasuk roti, menyusul penutupan banyak dapur kemanusiaan.”
Pada akhir Mei, 23 mitra kemanusiaan hanya mampu mengantarkan sekitar 678.000 makanan setiap hari melalui 80 dapur. Angka ini turun tajam dari pertengahan Maret yang sempat mendistribusikan 1,5 juta makanan per hari yang 170 dapur sediakan.
Israel telah memblokade Jalur Gaza sejak 2007. Saat ini sekitar 1,5 juta dari 2,4 juta orang Palestina di wilayah tersebut menjadi tunawisma. Mereka hidup dalam kondisi bencana setelah genosida oleh Israel menghancurkan rumah mereka. Serangan Israel sejak Oktober 2023 telah membunuh hampir 73.000 orang Palestina dan melukai lebih dari 173.000 orang.
Sumber: MEMO







