Aktivis Flotilla mengungkap dugaan penyiksaan dan pelecehan selama ditahan Israel setelah kapal bantuan Gaza dicegat di perairan internasional. Selain itu, Aktivis Flotilla menyebut kondisi penjara Israel menyerupai kamp konsentrasi.
Aktivis asal Amerika keturunan Palestina, Haitham Arafat, mengatakan tentara Israel menculik mereka dari laut internasional sebelum membawa mereka ke penjara. Ia mengaku melihat nama-nama tawanan Palestina tertulis di dinding sel. Menurutnya, banyak tawanan mengalami penghinaan dan perlakuan tidak manusiawi setiap hari.
Arafat mengatakan penjaga memaksa para tawanan tetap membungkuk dan menundukkan kepala. Jika ada yang berdiri tegak, tentara langsung memukul mereka. Selain itu, Aktivis Flotilla lain mengaku mengalami kekerasan fisik, pelecehan seksual, dan penyiksaan selama penahanan. Beberapa aktivis menyebut tentara Israel menembakkan peluru karet, memukul, serta menyetrum tawanan dengan taser.
Baca juga : “Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Kekerasan”
Jurnalis Italia Alessandro Mantovani mengatakan tentara Israel memborgol tangan dan kaki para tawanan sebelum membawa mereka ke bandara.
Sementara itu, aktivis Australia Juliet Lamont mengaku mengalami water torture dan pelecehan seksual saat Israel menahannya. Ia juga menyebut beberapa tawanan mengalami patah tulang rusuk akibat pemukulan.
Lembaga HAM Adalah menyatakan operasi Israel terhadap Aktivis Flotilla melanggar hukum internasional. Adalah juga menilai penahanan dan penyiksaan tersebut Israel lakukan secara sistematis. Kasus Aktivis Flotilla memicu kecaman dunia internasional. Sejumlah negara Eropa memanggil perwakilan Israel dan meminta penjelasan terkait perlakuan terhadap para aktivis.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)