Kelaparan Gaza kembali mengancam ribuan keluarga pengungsi akibat blokade dan berkurangnya bantuan makanan. Selain itu, Kelaparan Gaza semakin parah setelah dapur umum mulai menghentikan distribusi makanan.
Umm Mohammed, pengungsi dari Shujaiya, mengatakan anak-anaknya sering tidur tanpa makan. Selama beberapa pekan, ia bergantung pada makanan dari dapur bantuan dekat tenda pengungsian.
Namun kini, distribusi makanan semakin berkurang bahkan sering berhenti total. Sementara itu, harga bahan pangan di pasar terus naik dan warga sulit menjangkaunya.
Pemerintah Gaza menyebut Israel terus membatasi jumlah truk bantuan yang masuk. Sejak gencatan senjata Oktober 2025, hanya 48.636 truk bantuan masuk dari total 131.400 truk yang dijanjikan.
Selain itu, sepanjang Mei 2026, hanya 2.719 truk yang masuk dari target 10.800 truk. Pemerintah Gaza menilai kondisi ini mempercepat peningkaan angka kelaparan di Gaza secara sistematis.
Di sisi lain, organisasi World Central Kitchen juga mengurangi distribusi makanan panas hingga setengahnya. Produksi makanan turun dari satu juta menjadi 500 ribu porsi per hari akibat kenaikan biaya pangan dan bahan bakar.
Akibatnya, antrean makanan semakin panjang di berbagai kamp pengungsian. Banyak keluarga pulang dengan wadah kosong setelah makanan habis dibagikan.
PBB juga memperingatkan lebih dari satu juta anak di Gaza terancam malnutrisi akut. Selain itu, banyak warga kini hanya mampu makan sekali sehari.
Kelaparan Gaza terus meluas di tengah perang, blokade, dan runtuhnya layanan kemanusiaan. Banyak keluarga kini hanya berharap mendapat sepotong roti untuk bertahan hidup.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)