Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyampaikan bahwa lebih dari 900 hambatan fisik yang didirikan Israel di Tepi Barat menghambat penyaluran bantuan kemanusiaan kepada warga Palestina.
Hambatan ini mencakup pos pemeriksaan, gerbang, blokade jalan, serta berbagai pembatasan akses lainnya. Akibatnya, pekerja bantuan dan layanan kota kesulitan menjangkau sejumlah komunitas Palestina.
Dampak nyata dari pembatasan akses ini terlihat jelas di Desa Qusra, Kegubernuran Nablus. Tiga keluarga Palestina di wilayah tersebut terisolasi dan menghadapi pembatasan ketat setelah para pemukim Israel mendirikan pos terdepan ilegal di dekat kediaman mereka.
Baca juga: Hari Pengungsi Sedunia dan Penderitaan Pengungsi Palestina yang Tenggelam dalam Gejolak Timur Tengah
Meskipun petugas kemanusiaan telah berupaya berulang kali mengirimkan pasokan esensial—seperti makanan, air bersih, susu formula, obat-obatan, dan perlengkapan kebersihan. Upaya tersebut kerap menemui jalan buntu akibat blokade di lapangan. Akibatnya, kebutuhan dasar dari keluarga-keluarga yang terkepung tersebut hingga kini belum dapat terpenuhi.
OCHA juga melaporkan bahwa upaya perlindungan terhadap warga Palestina belum memberikan hasil efektif. Pemukim Israel dilaporkan kembali memasang sebuah tenda yang sebelumnya telah pasukan Israel bongkar.
Situasi tersebut menunjukkan bagaimana hambatan Israel di Tepi Barat tidak hanya membatasi pergerakan penduduk, tetapi juga menghambat akses masyarakat terhadap bantuan dan kebutuhan dasar. Hambatan ini juga memperlambat distribusi logistik darurat di tengah ketegangan yang meningkat..
Sumber: Palinfo








