Kondisi mengerikan yang mendera para tawanan Palestina di dalam jaringan penjara pendudukan Israel kembali merenggut nyawa. Mu’taz Nizam Al-Atrash, seorang pemuda berusia 21 tahun yang mendekam sebagai tahanan administratif, meninggal dunia di Penjara Ofer pada Rabu (16/09). Ia meninggal setelah hampir 11 bulan Israel sekap tanpa adanya dakwaan resmi maupun proses peradilan.
Pasukan Israel menangkap Mu’taz pada Oktober 2025 dan menahannya berdasarkan apa yang mereka sebut “berkas rahasia”. Itu kerap Israel gunakan untuk membungkam warga Palestina tanpa transparansi hukum. Keluarganya mengatakan ia tidak memiliki penyakit yang diketahui sebelum penahanan.
Sementara itu, Pusat Pertahanan Tawanan Palestina menyerukan penyelidikan independen untuk mengungkap penyebab kematiannya. Mereka juga meminta keterbukaan rekam medis dan kondisi penahanannya.
Baca juga: Gedung Enam Lantai Runtuh di Kota Gaza: 20 Orang Gugur, 100 Masih Terjebak di Bawah Puing
Menurut Palestinian Prisoner Society (PPS), kematian Al-Atrash meningkatkan jumlah tawanan Palestina yang meninggal sejak awal genosida di Gaza menjadi 92 orang. Sebanyak 53 dari mereka merupakan tawanan asal Jalur Gaza. Sementara itu, jumlah total tawanan Palestina yang meninggal sejak 1967 mencapai 329 orang.
Lembaga tawanan Palestina mendokumentasikan berbagai dugaan pelanggaran, termasuk penyiksaan, kelaparan, penelantaran medis, kekerasan seksual, penghinaan, dan pencabutan hak dasar. Nasib sejumlah tawanan asal Gaza juga masih belum diketahui akibat dugaan penghilangan paksa.
PPS menyebut otoritas Israel saat ini menahan jenazah 100 tawanan Palestina yang identitasnya telah mereka ketahui. Sebanyak 89 di antaranya meninggal sejak awal genosida di Gaza. Kasus kematian Mu’taz Al-Atrash kembali memperkuat desakan global agar ada pertanggungjawaban hukum yang nyata atas krisis kemanusiaan yang menimpa para tawanan di penjara Israel.
Sumber: Palinfo








