Otoritas Air Palestina menerapkan langkah darurat di kolam penampungan Sheikh Radwan, Kota Gaza untuk mengurangi risiko kesehatan dan lingkungan menjelang musim hujan. Kolam yang berfungsi menampung curah hujan ini menghadapi tekanan berat akibat lumpuhnya fasilitas sanitasi. Hal tersebut menyebabkan limpahan air limbah masuk ke dalam kolam serta memicu ancaman banjir limbah dan kontaminasi massal.
Kolam Sheikh Radwan memiliki daya tampung sekitar 500.000 meter kubik dan melayani area sekitar 20 kilometer persegi di Kota Gaza serta sebagian Jabalia. Namun, kerusakan pompa, jaringan listrik, dan saluran transmisi membuat kapasitas stasiun pompa merosot menjadi sekitar 30%. Saat ini, hanya dua dari enam pompa yang beroperasi.
Baca juga: Norman Finkelstein Sebut Israel sebagai “Negara Pembunuh Anak”
Sebagai langkah mitigasi darurat, pihak otoritas telah menghentikan aktivitas pemompaan air limbah melalui dua unit pompa dan tengah berupaya mematikan pompa ketiga demi menurunkan permukaan air kolam yang kian mengkhawatirkan. Tahap berikutnya mencakup rehabilitasi stasiun pompa dan jaringan transmisi. Proyek senilai sekitar US$500.000 itu didanai Uni Eropa dan dilaksanakan UNICEF.
Secara paralel, Pemerintah Kota Gaza juga tengah merehabilitasi jalur utama air limbah yang mengarah ke fasilitas pengolahan di Sheikh Ajleen, yang sebelumnya hancur lebur akibat hantaman bom selama perang.
Menurut data Kantor Media Gaza Gaza agresi Israel telah menghancurkan sekitar 655.000 meter jaringan air limbah. Sementara itu, data PBB, Uni Eropa, dan Bank Dunia menunjukkan sekitar 90% infrastruktur air dan sanitasi Gaza rusak atau hancur.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko penyakit pernapasan, penyakit kulit, dan diare, terutama di tengah pengungsian serta kepadatan tempat tinggal sementara.
Sumber: Palinfo








