Sebuah bangunan perumahan enam lantai yang menampung keluarga-keluarga pengungsi runtuh di Kota Gaza pada Rabu (16/09). Insiden ini membunuh sedikitnya 20 warga Palestina, termasuk sejumlah anak-anak, sementara puluhan orang lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan.
Bangunan bernama Gedung Al-Saada yang terletak di kawasan Al-Sinaa, bagian barat Kota Gaza. Sebelumnya bangunan itu telah mengalami kerusakan struktural akibat hantaman serangan militer Israel selama agresi genosida berlangsung. Namun, kehancuran tempat tinggal memaksa ribuan warga sipil untuk berlindung di dalam bangunan-bangunan yang tidak stabil.
Baca juga: Norman Finkelstein Sebut Israel sebagai “Negara Pembunuh Anak”
Pihak Pertahanan Sipil Gaza memperkirakan terdapat sekitar 100 orang yang masih terjebak di bawah puing-puing bangunan tersebut. Namun, upaya evakuasi dan pencarian korban menghadapi hambatan ekstrem akibat krisis parah berupa ketiadaan alat berat dan mesin-mesin khusus penyelamatan di tengah blokade.
Pertahanan Sipil Gaza juga memperingatkan bahwa hampir 2.000 bangunan rusak yang masih para warga dan pengungsi tempati berisiko mengalami keruntuhan. Pemerintah Gaza mendesak agar akses masuk bagi alat berat serta penyediaan tempat tinggal sementara segera terbuka. Ia menyeru pembukaan segera sebelum datangnya musim dingin yang akan memperparah penderitaan para pengungsi.
Sementara itu, Hamas menyerukan kepada mediator, pemerintah Amerika Serikat, dan komunitas internasional untuk membuka akses bagi peralatan penyelamatan dan alat berat.
Tragedi runtuhnya bangunan ini semakin menambah panjang daftar korban jiwa di tengah kehancuran infrastruktur total. Berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, total korban yang gugur atau terbunuh akibat agresi militer sejak 7 Oktober 2023 kini telah hampir mencapai 74.000 jiwa, dengan lebih dari 174.000 warga lainnya mengalami luka-luka.








