Hasil survei yang dirilis oleh Jewish People Policy Institute Politik pada 2–5 Agustus 2026 menyoroti kuatnya isu aneksasi Tepi Barat di tengah konstelasi politik Israel. Survei yang melibatkan 748 responden Yahudi dan Arab Israel menunjukkan perbedaan pandangan mengenai masa depan Tepi Barat.
Sebanyak 38% responden Yahudi mendukung aneksasi seluruh Tepi Barat. Sementara itu, 35% mendukung pembagian wilayah tersebut. Dalam hal pemindahan penduduk, sebanyak 22% mendukung aneksasi sekaligus pemindahan penduduk Arab ke negara lain. Di sisi lain, 21% mendukung berdirinya negara Palestina di wilayah mayoritas Arab, dan 14% mendukung penggabungan wilayah Tepi Barat dengan Yordania.
Survei tersebut juga menunjukkan keraguan terhadap kesepakatan pelucutan senjata Hamas di Gaza. Sebab, sebanyak 58% warga Israel tidak yakin kesepakatan tersebut akan terlaksana.
Di sisi lain, langkah militer Israel di perbatasan Lebanon turut mendapat sorotan dari pengamat regional. Mayor Jenderal Habis Al-Sharouf menilai bahwa eskalasi dan serangan yang terjadi setiap hari di wilayah perbatasan Israel manfaatkan sebagai alat politik menjelang pemilu.
Menurut Al-Sharouf, rangkaian serangan tersebut bertujuan untuk mengosongkan kawasan perbatasan guna menekan Hizbullah. Hal tersebut sekaligus Israel jadikan alat tawar dalam proses negosiasi dengan Lebanon. Langkah Israel tersebut merupakan alat untuk meyakinkan pemukim Israel di wilayah utara bahwa pemerintah mereka bersikap tegas menghadapi ancaman keamanan.
Dinamika ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri dan keamanan Israel. Hal ini termasuk eskalasi di Palestina dan Lebanon, kerap berkelindan dengan strategi pertarungan politik domestik.
Sumber: Times of Israel, MEMO








