Sebanyak 100 jenazah warga Palestina ditemukan di bawah reruntuhan bangunan di kawasan Zeitoun,Kota Gaza. Pada Ahad (6/9) warga menggelar pemakaman massal bagi para korban.
Dari 100 korban tersebut, 62 di antaranya merupakan anak-anak. Tim Pertahanan Sipil Gaza menemukan jenazah dan sisa-sisa tubuh dalam beberapa hari terakhir.
Sebanyak 55 korban berasal dari keluarga Malaka. Mereka terbunuh dalam serangan udara Israel pada November 2023. Korban lainnya berasal dari keluarga Irahem, Qanbour, Balawi, dan Dahdouh.
Ratusan warga, keluarga korban, serta tokoh masyarakat mengikuti prosesi pemakaman. Jenazah dibungkus dengan kain kafan dan bendera Palestina sebelum dibawa menuju pemakaman Al-Maamadani di Kota Gaza.
Operasi evakuasi dan pencarian korban di bawah reruntuhan hingga kini masih menghadapi kendala berat. Tim Pertahanan Sipil Gaza berjuang dengan keterbatasan ekstrem akibat sebagian besar peralatan berat mereka hancur selama agresi. Hal ini semakin parah akibat blokade ketat Israel yang melarang masuknya alat-alat berat ke wilayah Gaza.
Upaya pencarian tersebut merupakan bagian dari proyek pemulihan jenazah sejak Juli 2026. Fase kedua mencakup 800 jam pencarian di 147 bangunan yang hancur.
Otoritas Gaza memperkirakan sekitar 1.072 jenazah masih tertimbun di lokasi-lokasi tersebut. Selain itu, sekitar 6.000 orang telah tercatat sebagai orang hilang sejak mulainya agresi genosida pada Oktober 2023.
Namun, Omar Nofal, selaku komite pemerintah Gaza untuk urusan orang hilang, memperkirakan jumlah sebenarnya dapat mencapai 15.000 orang. Banyak dari mereka kemungkinan masih berada di bawah reruntuhan bangunan.
Pemakaman 100 jenazah ini menjadi salah satu pemakaman terbesar di Palestina berdasarkan jumlah korban yang dimakamkan. Pada Agustus lalu, warga Gaza juga memakamkan jenazah 112 korban di kawasan Sabra.








