Lebih dari 10 ribu warga Gaza gagal haji dan sedikitnya 71 warga meninggal saat menunggu keberangkatan ke tanah suci selama tiga tahun terakhir akibat agresi genosida dan penutupan perbatasan oleh Israel. Kementerian Wakaf Gaza menyatakan kuota tahunan jemaah haji Gaza mencapai sekitar 2.508 orang. Namun, perang dan blokade membuat warga Gaza gagal haji untuk tahun ketiga berturut-turut.
Direktur Humas Kementerian Wakaf Gaza, Amir Abu al-Amrain, menegaskan bahwa haji merupakan hak agama dan kemanusiaan bagi umat Islam. Meski begitu, ribuan warga Gaza yang telah menyelesaikan proses administrasi dan membayar biaya tetap tidak dapat berangkat.
Baca juga : “Nakba: Malapetaka yang Ditanggung Bangsa Palestina (Bagian I: 1799-1936)”
“Palestina Abad 19: Bagaimana Mungkin Ia Tanah Tak Bertuan”
Kementerian Wakaf menilai bahwa larangan perjalanan ini melanggar hak kebebasan beribadah dan kebebasan bergerak. Oleh karena itu, mereka mendesak komunitas internasional, Arab Saudi, dan Mesir agar segera membuka jalur perjalanan kemanusiaan bagi jemaah asal Gaza.
Israel sendiri menutup Perlintasan Rafah sejak Mei 2024 setelah menguasai wilayah tersebut. Meski perlintasan kembali terbuka secara terbatas pada Februari 2026, Israel tetap memberlakukan pembatasan ketat terhadap izin keluar masuk warga Gaza, termasuk bagi mereka yang hendak menunaikan ibadah haji.
Baca juga : “Berpacu dengan Waktu, Pengungsi Palestina di Libanon Berjuang Mengatasi Kemiskinan”
Sumber: Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)