Bagi wilayah pesisir, laut seharusnya menjadi sumber kekayaan, stabilitas, dan makanan segar. Namun, di bawah blokade Israel yang mengendalikan daratan, udara, dan laut Gaza sejak tahun 2007, laut telah menjadi mekanisme kontrol dan penganiayaan lainnya.
Bahkan sebelum Oktober 2023 ketika Israel memulai genosida di Gaza, para nelayan di wilayah Gaza terpaksa beroperasi di bawah pembatasan ketat Israel. Zona penangkapan ikan berulang kali telah Israel kurangi. Batas maritim yang tertulis dalam perjanjian sejak Kesepakatan Oslo 1993 jarang Israel terapkan di perairan. Jarak yang Israel izinkan bagi nelayan untuk berlayar di laut terus berubah, seringkali menyusut tanpa peringatan.
Lebih jauh lagi, hanya dalam beberapa hari setelah genosida, semuanya berubah. Pelabuhan Gaza hancur akibat serangan udara Israel. Israel juga mengebom instalasi perikanan dari utara ke selatan. Israel juga membakar atau menggelamkan kapal-kapal Palestina. Sektor perikanan runtuh seketika.
Di pelabuhan Khan Younis, dampaknya tidak berbeda. Pelabuhan telah berubah menjadi lokasi pengungsian yang penuh sesak. Yang rusak atau terbakar tidak hanya kapal, melainkan penyangga tenda. Warga mengikatnya dengan tali untuk menahan tempat berlindung yang rapuh agar tetap di tempatnya. Kerangka logam berkarat dari sebuah kapal pukat menonjol dari pasir tempat anak-anak pengungsi sekarang bermain. Tetapi bahkan dalam reruntuhan, para nelayan berusaha terus berimprovisasi.
Baca juga : “Israel Bunuh 232 Nelayan di Gaza Sejak Awal Agresi“
Kerusakan materiil hanyalah sebagian dari penderitaan nelayan Gaza. Menurut Serikat Nelayan Gaza, setidaknya 238 nelayan Gaza berada dalam daftar 72.000 warga Palestina yang telah Israel bunuh sejak Oktober 2023, baik di laut maupun di darat.
Sebelum genosida, sektor perikanan Gaza memainkan peran penting dalam ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan. Menurut PBB, pada akhir 2024, sektor ini beroperasi kurang dari 7,3 persen dari kapasitas produksi sebelum Oktober 2023. PBB juga memperkirakan bahwa 72 persen armada perikanan Gaza telah rusak atau hancur.
Sektor ini dulunya terdiri dari lebih dari 5.000 nelayan yang menghidupi lebih dari 50.000 anggota keluarga. Mereka bergantung pada penangkapan ikan sebagai sumber pendapatan utama. Namun, pelanggaran Israel terus berlanjut sejak “gencatan senjata” pada bulan Oktober, termasuk membunuh dan menangkap lebih dari 20 nelayan.
Keruntuhan tersebut sangat memengaruhi ketersediaan pangan, penghasilan, dan ketahanan masyarakat. Pengurangan akses penangkapan ikan hingga kurang dari satu mil laut (1,85 km) telah membatasi baik kuantitas maupun keanekaragaman spesies secara drastis.
Saat ini, dengan adanya sedikit kelegaan dari “gencatan senjata”, ikan yang terlihat di pasar Gaza sebagian besar adalah ikan impor beku. Ikan impor seringkali lebih mahal daripada ikan segar lokal sebelum genosida. Keruntuhan ekonomi yang dahsyat ini telah membuat banyak keluarga tidak mampu membelinya.
Sumber: Al Jazeera








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)