Biro Pusat Statistik Palestina (PCBS) mengungkapkan bahwa 22.057 perempuan di Jalur Gaza telah kehilangan suami mereka dan menjadi janda sejak pecahnya genosida. Ini menyebabkan peningkatan persentase keluarga dengan kepala rumah tangga perempuan dari 12% sebelum genosida menjadi sekitar 18% selama periode agresi.
PCBS mengumumkan bahwa perempuan mencakup sekitar 49% dari total populasi di Palestina pada akhir tahun 2025, atau berjumlah 2,74 juta orang. Mereka mengungkapkan bahwa jumlah perempuan di Tepi Barat sekitar 1,69 juta dan di Jalur Gaza sekitar 1,06 juta. PCBS menjelaskan data tersebut pada Ahad (08/03), bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Mereka menekankan bahwa data demografis ini mencerminkan peran sentral perempuan dalam masyarakat Palestina.
Baca juga : “Para Janda di Gaza Menjalani Ramadan di Tengah Kehilangan“
Data menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam angkatan kerja di Gaza tetap berada di angka 17% selama tahun 2025, sementara partisipasi laki-laki menurun dari 63% menjadi 31%. Tingkat pengangguran di kalangan perempuan mencapai 92% dan 81% di kalangan laki-laki.
Di Tepi Barat, tingkat partisipasi perempuan dalam angkatan kerja tercatat sekitar 19% dan 72% untuk laki-laki. Sementara itu, tingkat pengangguran di kalangan perempuan mencapai 27% dan 28% di kalangan laki-laki.
Biro tersebut menunjukkan peningkatan angka pengangguran di kalangan pemuda berusia 19 hingga 29 tahun yang memiliki ijazah diploma atau lebih tinggi menjadi 79%, dengan 86% untuk perempuan dibandingkan dengan 70% untuk laki-laki. Hal ini mencerminkan semakin lebarnya kesenjangan ekonomi antara kedua jenis gender.
Di sektor kesehatan, data menunjukkan bahwa sekitar 94% fasilitas perawatan kesehatan di Jalur Gaza rusak atau hancur. Pada saat yang sama, sekitar 37.000 perempuan hamil dan menyusui menghadapi kekurangan gizi akut selama periode antara Oktober 2023 dan Oktober 2025.
Indikator kesehatan juga mencatat peningkatan tajam dalam angka kematian ibu, yaitu mencapai 145 kasus per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2024, dibandingkan dengan 17,4 kasus pada tahun 2022. Angka ini merupakan indikator berbahaya dari memburuknya layanan kesehatan.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa kanker payudara merupakan sekitar 30% dari total kasus kanker di kalangan perempuan di Gaza. Kanker payudara mencatat 29 infeksi per 100.000 perempuan di Jalur Gaza. Peningkatan ini terjadi di tengah penangguhan layanan deteksi dini dan pengobatan selama lebih dari dua tahun.
Sumber: Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)