Toko-toko dan lembaga publik Palestina, termasuk universitas di seluruh Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) bagian timur tutup sementara waktu karena pemogokan umum. Warga melakukan unjuk rasa untuk memprotes undang-undang baru Israel yang memberlakukan hukuman mati bagi warga Palestina yang dituduh bersalah karena melakukan serangan mematikan.
Ratusan orang berkumpul pada Rabu (01/04) untuk berunjuk rasa di Ramallah. Mereka menentang undang-undang yang mendapat dukungan Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir. Mereka meneriakkan slogan-slogan yang mengutuk undang-undang tersebut dan menyerukan kepada komunitas internasional untuk membatalkan pengesahan undang-undang tersebut.
Dalam sebuah protes di Kota Nablus, di bagian utara Tepi Barat, para demonstran membawa spanduk yang memperingatkan bahwa waktu semakin menipis. “Hentikan hukum eksekusi tawanan, sebelum terlambat,” demikian bunyi salah satu spanduk. Spanduk tersebut menampilkan ilustrasi seorang tawanan mengenakan syal keffiyeh Palestina di samping tali gantungan.
Dalam protes di Ramallah, Riman, seorang psikolog berusia 53 tahun dari Ramallah, mengatakan kepada AFP bahwa “tidak ada satu pun orang yang berdiri di sini yang tidak memiliki saudara laki-laki, suami, putra, atau bahkan tetangga di penjara. Tidak ada keluarga Palestina tanpa seorang tawanan.”
Baca juga : “Rakyat Palestina dan PBB Menentang UU Hukuman Mati Bagi Tawanan Palestina“
Lebih dari 9.500 warga Palestina saat ini berada di penjara-penjara Israel, termasuk 350 anak-anak dan 73 perempuan. Kelompok hak asasi manusia Palestina dan Israel mengatakan para tawanan menghadapi penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis, yang menyebabkan puluhan kematian.
“Tapi jujur saja, hari ini kami merasakan banyak kemarahan, karena ada juga kelemahan nyata dalam solidaritas dengan mereka. Pendudukan [Israel] bertaruh pada kelemahan rakyat jelata,” kata Riman, yang menolak untuk menyebutkan nama belakangnya.
Sumber: MEE, Al Jazeera








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)