Tiga Puluh Sembilan Tahun Tragedi Berdarah Sabra Shatila

Mereka menipu kami. Mereka memberitahu kami melalui pengeras suara bahwa siapa pun yang pergi meninggalkan kamp, akan diizinkan kembali pulang ke Palestina. Warga di kamp percaya akan perintah penuh kebohongan yang dikatakan oleh orang Israel dan agen Lebanon mereka. Ketika penduduk menuruti perintah, mereka malah diserang dan disembelih dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya.”

 Amal Al-Qirmi menceritakan peristiwa itu dengan penuh kesedihan. Ia adalah gadis Palestina yang berhasil mengungsi dari kamp pengungsian di Lebanon Selatan ketika terjadi tragedi berdarah Sabra Shatila. Usianya baru 15 tahun, tetapi bayangan tentang peristiwa itu selamanya membekas di ingatan dan meninggalkan trauma tak berkesudahan.

Sejak Israel mendeklarasikan ‘kemerdekaannya’ pada 1948, rakyat Palestina yang terusir dari tanah airnya, berdiaspora mencari tempat tinggal. Sebagian dari mereka pergi ke Lebanon Selatan dan tinggal di kamp pengungsi yang bernama Sabra dan Shatila. Tidak puas menindas rakyat Palestina di negaranya sendiri, Israel juga tidak berhenti menyulitkan rakyat Palestina yang telah mengungsi.

Serangan Juni 1982

Peristiwa Sabra Shatila tidak terlepas dari serangan yang dilancarkan pada Juni 1982. Saat itu, pasukan militer Israel menyerang Lebanon Selatan dan mengepung Beirut karena Israel menuduh PLO mencoba melakukan upaya pembunuhan terhadap Duta Besar Israel untuk Inggris, Shlomo Argov. Sejatinya, serangan tersebut diizinkan dengan syarat pasukan Israel tidak boleh maju lebih dari 40 kilometer dari perbatasan Lebanon. Akan tetapi, aturan yang disampaikan oleh kabinet Israel melalui Menteri Menachem Begin tersebut dilanggar oleh pasukan Israel itu sendiri. Di bawah komando Menteri Pertahanan Ariel Sharon, pasukan Israel menyerang hingga ke Beirut, ibukota Lebanon, yang jelas-jelas melewati batas 40 kilometer tersebut.[1]

Ariel Sharon dan tentara Israel di Beirut ketika perang Lebanon 1982

Pada Agustus 1982, Bachir Gemayel yang berasal dari partai Falangis yang berisi orang-orang Kristen Maronit terpilih menjadi Presiden Lebanon. Akan tetapi, hanya berselang beberapa minggu setelah pengangkatannya, Gemayel tewas akibat bom yang diledakkan di markasnya yang berada di Beirut pada 14 September 1982.[2] Pembunuhan Gemayel memicu kemarahan dari orang-orang Lebanon, terutama dari orang-orang Kristen Maronit dari partai Falangis yang sama dengan Gemayel. Dalam situasi yang memanas ini, Israel melalui Menteri Pertahanan Ariel Sharon bergerak menyusun ‘skenario’ dengan tujuan untuk menambah penderitaan warga Palestina.

Pasca-terbunuhnya Presiden Bachir Gemayel, para pengungsi Palestina menjadi sasaran kecurigaan tanpa dasar dari orang-orang Lebanon. Mereka menuduh bahwa pelaku pembunuhan Gemayel merupakan salah seorang muslim Palestina. Warga Palestina mendapatkan stigma buruk dari orang-orang Lebanon karena posisi mereka sebagai pengungsi. Situasi ini semakin mempermudah Ariel Sharon untuk ambil bagian dalam ‘menyutradarai’ rencana kejamnya dan menggunakan partai Falangis Lebanon sebagai ‘eksekutor’ aksinya.

Meskipun pada akhirnya terbukti bahwa pelaku pembunuhan Gemayel adalah seorang Kristen Maronit asli Lebanon yang bernama Tanious Sharthouni, Sharon tidak peduli dan tetap menjalankan rencana yang telah disusunnya. Tujuannya tak lain tak bukan yaitu untuk menghabisi warga Palestina dan memperluas wilayah penjajahan Israel.[3]

Darah membanjiri Sabra dan Shatila

Pasukan Israel mengepung kamp Sabra dan Shatila pada 15 September 1982. Pintu keluar dan masuk dijaga ketat sehingga tidak ada yang bisa keluar atau masuk dari Sabra dan Shatila. Warga Palestina dan Lebanon yang tinggal di sana sempurna terkurung tanpa celah untuk melarikan diri. Tindakan ini merupakan persiapan untuk eksekusi yang akan dilaksanakan keesokan harinya oleh orang-orang Falangis Lebanon.

Pada 16 September 1982, milisi Falangis Lebanon memasuki kamp Sabra dan Shatila atas ‘restu’ dari Menteri Pertahanan Ariel Sharon. Di sana, para milisi Falangis bagaikan kehilangan rasa kemanusiaan. Mereka menyiksa, membunuh, memerkosa, bahkan memutilasi warga sipil[4]. Selain warga Palestina dan Lebanon, mereka juga membantai warga Iran, Suriah, Pakistan, dan Aljazair tanpa memandang apakah itu perempuan, lansia, ataupun anak-anak.[5] Di balik aksi keji Falangis, terdapat militer Israel yang membantu dengan cara melepaskan tembakan ke langit untuk menerangi orang-orang Falangis yang sedang melancarkan aksi biadab mereka. Dalam sekejap, Sabra Shatila dipenuhi teriakan rasa sakit, jeritan meminta tolong, dan digenangi lautan darah.

Jenazah korban pembantaian Sabra Shatila

“Adalah keajaiban bahwa beberapa dari kami lolos dan dapat meneruskan kehidupan. Setelah para pembunuh dan Zionis pergi, bau kematian meresap ke kamp selama berbulan-bulan.” Ujar Mohamed Al-Hasanein, seorang warga Palestina yang meyaksikan tragedi berdarah tersebut ketika usianya masih sepuluh tahun. Ia juga memberi kesaksian bahwa saat kejadian, ia melihat seorang tentara Israel dan dua pria Lebanon memotong janin yang diambil dari perut wanita hamil, kemudian menggantungnya di dinding sebuah rumah. Sebuah tindakan keji yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang telah kehilangan kesadaran dan rasa kemanusiaan dari dalam hatinya.[6]

Milisi Falangis baru meninggalkan Sabra dan Shatila pada 18 September 1982, dua hari setelah pembantaian dimulai. Mereka meninggalkan kamp pengungsi yang penuh darah dan potongan-potongan tubuh setelah membuang mayat-mayat penduduk sipil, dengan menggunakan buldoser. Para pemuda yang ditemukan dalam keadaan hidup, dibawa untuk diinterogasi oleh intelijen Israel. Di antara tawanan-tawanan ini kemudian ada yang dikembalikan kepada Falangis, beberapa di antaranya dieksekusi mati.

Tragedi berdarah ini memakan ribuan korban jiwa. Banyaknya korban dengan kondisi yang mengenaskan dan tidak lagi utuh membuat data spesifik yang disebutkan berbeda-beda. Anadolu Agency pada 2020 menyebutkan bahwa jumlah korban mencapai 3000 jiwa yang terdiri atas warga Palestina dan Lebanon yang mayoritas merupakan penganut Syiah.[7] Sementara itu, TRT World pada tahun 2019 menyebutkan jumlah korban tewas dalam peristiwa ini berjumlah 3500 jiwa.

Perempuan Palestina yang menangis ketika menemukan jenazah kerabat mereka setelah peristiwa Sabra Shatila

Sumber : www.republika.co.id

Tiga perempuan menangisi kerabat mereka yang menjadi korban pembantaian Sabra Shatila

Sumber : trtworld.com

Pada 16 Desember 1982, PBB menetapkan peristiwa pembantaian besar-besaran yang terjadi di Kamp Pengungsian Sabra dan Shatila sebagai tindakan genosida. Komisi penyelidikan pun dibentuk untuk mengurai benang merah kejadian yang sesungguhnya. Pada 9 Februari 1983, Komisi Penyelidikan Israel menetapkan bahwa pasukan Israel, termasuk Ariel Sharon, secara tidak langsung terlibat dalam peristiwa pembantaian tersebut.[8]

Seluruh dunia mengecam Ariel Sharon atas tindakan tidak berperikemanusiaan yang telah disusunnya tersebut. Ariel Sharon pun direkomendasikan untuk dicopot dari jabatannya. Akan tetapi, pada kenyataannya, Sharon “Si Jagal dari Beirut” tetap berkarir di pemerintahan, bahkan menjadi anggota kabinet selama periode 1984—2001.

Lebih mengejutkan lagi, pada 2001, Sharon memenangkan pemilihan khusus yang menempatkannya menjadi Perdana Menteri Israel, seakan tindakan keji yang pernah dia lakukan tidak memiliki pengaruh apa pun atas keberadaannya di kontestasi politik.[9]

Pada Juni 2001, pengacara dari 23 korban yang selamat dari pembantaian Sabra dan Shatila, memulai proses hukum melawan Sharon dalam pengadilan Belgia. Pemimpin Falangis saat tragedi 1982, Elie Hobeika, siap untuk bersaksi melawan Sharon yang saat itu telah naik jabatan sebagai Perdana Menteri. Nahasnya, Hobeika tewas sebelum sempat memberikan kesaksian akibat bom mobil yang diledakkan di Beirut pada 24 Januari 2002.[10] Tuntutan keadilan atas peristiwa tersebut kemudian berujung kekecewaan karena hakim Belgia menolak tuduhan kejahatan perang yang diarahkan ke Ariel Sharon dengan alasan ia tidak pernah hadir di Belgia.

Seakan mendapat hukuman atas tindakan biadabnya, Ariel Sharon mengalami koma pada 2006 akibat stroke berat yang dideritanya. Kekuasaan kemudian dialihkan ke wakilnya, Ehud Olmert. Pada April 2006, Kabinet Israel menyatakan bahwa masa jabatan Sharon sebagai Perdana Menteri Israel telah berakhir karena tidak akan pulih secara permanen. Ariel Sharon berada dalam kondisi koma selama delapan tahun sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada usia 85 tahun.

Kabar kematian Sharon disambut sukacita oleh para penghuni kamp pengungsi Sabra dan Shatila. Mereka membagikan permen untuk ‘merayakan’ wafatnya pembunuh yang telah membantai keluarga mereka. “Tentu saja saya senang ia meninggal dunia. Namun, sebenarnya saya ingin melihatnya diadili di hadapan dunia sebelum Tuhan mengadilinya,” kata Mirvat al-Amine, seorang pemilik toko di Shatila.[11]

Kini, 39 tahun telah berlalu semenjak tragedi berdarah tersebut terjadi. Akan tetapi, pembantaian terhadap rakyat Palestina tidak kunjung usai. Usai Ariel Sharon, eksekutor di Palestina hanya berpindah dari tangan satu ke tangan yang lainnya. Berbagai cara dan upaya mereka lakukan untuk menghabisi warga Palestina agar Palestina kehilangan penerus yang akan berjuang memerdekakan tanah airnya.

Serangan di Gaza pada Mei lalu, Israel telah menghabisi nyawa 256 warga Palestina, termasuk 40 wanita dan 66 anak-anak berdasarkan laporan dari Reliefweb.[12] Lalu pada serangan terbaru di Gaza tanggal 21 Agustus 2021[13], sebanyak 41 korban berjatuhan dan 22 di antaranya merupakan anak-anak. Selain di Gaza, Israel juga membunuh 12 anak di Tepi Barat, salah satunya Mohammed al-Alami (12) yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang setelah berbelanja bersama keluarganya. Al-Alami ditembak oleh tentara Israel menggunakan 13 peluru sehingga nyawanya tidak dapat terselamatkan.[14] Sepanjang 2021, Israel tercatat telah membunuh lebih dari 77 anak Palestina,[15]

Selain membunuh, mereka juga menawan warga Palestina kemudian menyiksa fisik dan mental mereka di dalam penjara. Berdasarkan data dari Addameer pada 12 Agustus 2021, Israel telah menawan setidaknya 4.750 warga Palestina.[16] Pakar urusan penjara dan tawanan Palestina, Nasser Farwanah mengatakan bahwa Israel telah menawan 130 perempuan Palestina sepanjang tahun 2021[17], sementara 12 di antaranya telah memiliki anak, tetapi tidak diizinkan untuk bertemu dengan anak dan keluarga mereka.[18]. Jika dijumlahkan, sejak 1967 hingga saat ini Israel telah menawan sebanyak 17.000 perempuan Palestina dari berbagai usia.[19]

Segala tindakan keji selalu dilancarkan oleh Zionis agar dapat menguasai setiap jengkal tanah Palestina. Pada Maret 2021, Israel telah menghancurkan 58 bangunan milik warga Palestina yang terletak di Tepi Barat. Sebanyak 81 orang, termasuk 42 anak-anak terkena dampak dari penghancuran ini berdasarkan data dari Reliefweb.[20] Sementara itu, Anadolu Agency melaporkan pada 11 Agustus 2021, sebanyak 81 rumah milik warga Palestina di Al-Quds Timur dihancurkan oleh Israel.[21] Bagi mereka, hukum internasional dan kemanusiaan hanyalah angin lalu.[22] Penyiksaan, pembunuhan, penawanan, home demolishing, dan Yahudinisasi adalah rutinitas, sebab yang terpenting bagi mereka adalah mengambil tanah Palestina dari penduduk aslinya, walaupun itu artinya mereka harus melakukan tindakan yang menghilangkan rasa kemanusiaan dari diri mereka.

 

Salsabila Safitri

Penulis merupakan anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita anak dan perempuan Palestina. Ia sedang menyelesaikan pendidikan strata 1 di Sastra Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

 

Referensi :

http://addameer.org/statistics

https://alray.ps/en/?act=post&id=13669#.YSx38t8xXIU

https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/occupied-palestinian-territory-protection-civilians-report-15

https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/west-bank-demolitions-and-displacement-overview-march-2021

https://www.timesofisrael.com/journalist-reckons-with-israeli-blame-for-1982-sabra-and-shatila-massacre/

https://www.aljazeera.com/opinions/2017/9/16/remembering-the-sabra-and-shatila-massacre-35-years-on

https://www.aljazeera.com/news/2021/8/24/global-outcry-over-israels-targeting-of-palestinian-children

https://www.haaretz.com/israel-news/with-sharon-gone-israel-reveals-the-truth-about-the-lebanon-war-1.5451086

https://www.trtworld.com/middle-east/remembering-the-sabra-and-shatila-massacres-29865

https://www.aa.com.tr/en/middle-east/1982-beirut-massacre-still-haunts-survivors/1975532

https://www.aa.com.tr/en/middle-east/81-palestinian-homes-demolished-by-israel-in-east-jerusalem-in-2021/2331427

https://www.middleeastmonitor.com/20190916-remembering-the-sabra-and-shatila-massacre/

https://www.middleeasteye.net/video/what-sabra-and-shatila-massacre

https://www.arabnews.com/node/1660936

https://libnanews.com/en/lebanon-history-bachir-gemayel/

https://www.jstor.org/stable/41857694

https://www.youtube.com/watch?v=mbw8COm0sJY

https://www.liputan6.com/news/read/183253/pembantaian-sabra-shatila-diperingati

https://www.republika.co.id/berita/qguynv385/kisah-kesalahan-israel-dalam-pembantaian-sabrashatila-1982-part2

https://tirto.id/tangan-ariel-sharon-dalam-pembantaian-sabra-dan-shatila-cxnM

https://internasional.kompas.com/read/2014/01/12/0416520/Kematian.Sharon.Dirayakan.di.Kamp.Pengungsi.Sabra.dan.Shatila

https://internasional.kompas.com/read/2014/01/03/0313511/Ariel.Sharon.Jagal.dari.Beirut?page=2

[1] https://tirto.id/tangan-ariel-sharon-dalam-pembantaian-sabra-dan-shatila-cxnM

[2] https://libnanews.com/en/lebanon-history-bachir-gemayel/

[3] https://www.youtube.com/watch?v=mbw8COm0sJY

[4] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/perempuan-palestina-yang-ditawan-zionis-israel-mengalami-penyiksaan-dan-pelecehan-seksual/

[5] https://tirto.id/tangan-ariel-sharon-dalam-pembantaian-sabra-dan-shatila-cxnM

[6] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/gaza-yang-telah-melampaui-batas-batas-kemanusiaan/

[7] https://www.aa.com.tr/en/middle-east/1982-beirut-massacre-still-haunts-survivors/1975532

[8] https://www.arabnews.com/node/1660936

[9] https://internasional.kompas.com/read/2014/01/03/0313511/Ariel.Sharon.Jagal.dari.Beirut?page=2

[10] https://www.youtube.com/watch?v=mbw8COm0sJY

[11]https://internasional.kompas.com/read/2014/01/12/0416520/Kematian.Sharon.Dirayakan.di.Kamp. pengungsi.Sabra.dan.Shatila

[12] https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/occupied-palestinian-territory-protection-civilians-report-15

[13] Selengkapnya di https://adararelief.com/peringati-peristiwa-pembakaran-masjid-al-aqsa-anak-anak-gaza-ditembaki/

[14] https://www.aljazeera.com/news/2021/8/24/global-outcry-over-israels-targeting-of-palestinian-children

[15] Selengkapnya di https://adararelief.com/zionis-mencetak-prestasi-dengan-membunuh-77-anak-dalam-setahun/

[16] http://addameer.org/statistics

[17] Selengkapnya di https://adararelief.com/sebanyak-130-perempuan-palestina-menjadi-tawanan-sejak-awal-2021/

[18] https://alray.ps/en/?act=post&id=13669#.YSx38t8xXIU

[19] http://www.womenfpal.com/news/2021/8/29/الاحتلالاعتقل-130-فلسطينيةمنذبدايةالعام

 

[20] https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/west-bank-demolitions-and-displacement-overview-march-2021

[21] https://www.aa.com.tr/en/middle-east/81-palestinian-homes-demolished-by-israel-in-east-jerusalem-in-2021/2331427

[22] Selengkapnya di https://adararelief.com/perang-senyap-silent-war-di-al-quds-timur-palestina/

Leave a Reply