Zionis Mencetak ‘Prestasi’ dengan Membunuh 77 Anak dalam Setahun

“Bahaya paling besar bagi anak-anak kita dan anak-anak Palestina adalah pendudukan. Hingga pendudukan berakhir, anak-anak kita tidak akan merasakan kedamaian.”

Kalimat tersebut diungkapkan oleh seorang aktivis bernama Abu Ayyash, sekaligus merespon tindakan Zionis Israel yang membunuh seorang anak Palestina berusia 12 tahun dengan menembaknya di bagian dada pada Rabu (28/7). Mohammed Moayyad Bahjat Al-Allami merupakan anak ke-11 yang dibunuh oleh Zionis di Tepi Barat dan anak ke-77 yang dibunuh oleh pasukan Zionis sepanjang tahun 2021 ini.

Mohammed bersama ayah dan saudara-saudaranya baru saja selesai berbelanja. Dengan mengendarai mobil, mereka hendak pulang dan makan siang, sementara tentara Zionis tengah berjaga di pintu masuk kota mereka, Beit Al-Umar, yang hanya berjarak 50 meter dari pangkalan militer Zionis.

Keberadaan tentara Zionis di sekitar situ merupakan pemandangan yang sangat biasa sehingga Mohammed juga keluarganya, tidak menaruh curiga. Ia kemudian meminta kepada ayahnya untuk singgah di sebuah toko karena ingin membeli beberapa permen. Ayahnya dengan senang hati menuruti keinginan putranya dan mulai memutar mobil. Saat itulah kisah hidup mereka menjadi sebuah mimpi buruk.

Baca berita terkait: Pasukan Zionis Membunuh Warga Palestina Ketika Berlangsung Konvoi (Protes) Pemakaman di Tepi Barat

Ashraf Al Allami, paman Mohammed yang menyaksikan kejadian tersebut mengatakan, “Tentara itu tidak menembak ke udara atau menembak dengan tembakan peringatan. Mereka sepenuhnya menghujani mobil dengan peluru!” Menyadari Mohammed terkena peluru, mereka segera membawa Mohammed ke rumah sakit terdekat di Hebron. Saudara-saudara Mohammad yaitu Anan (8) dan Ahmed (5) hanya bisa mendekap Mohammed sambil menangis selama perjalanan ke rumah sakit.

Mohammed sempat mengalami kritis sebelum meninggal akibat luka-lukanya. Berdasarkan keterangan keluarga, Mohammed ditembak dengan lima peluru di bagian perut dan dada. “Dia tidak hanya ditembak dengan satu atau dua peluru, melainkan lima! Dia hanyalah anak-anak.” kata pamannya, Ashraf. “Tentara mengklaim bahwa mereka mencoba menghentikan mobil saudara saya karena suatu alasan. Namun, ada sejuta cara lain untuk menghentikan mobil selain menghujaninya dengan peluru.” lanjutnya.

Setelah membunuh Mohammed dengan brutal, Zionis tetap tidak membiarkan keluarga memakamkan putra mereka dengan tenang. Ketika orang-orang mendekati kuburan untuk memakamkan Mohammed, tentara Zionis menembaki mereka dari segala arah. Banyak anak-anak yang berada di sana juga diserang dengan gas air mata sehingga banyak yang tersedak dan tercekik. “Aku hanya ingin menguburkan putraku. Itu adalah hak paling dasar, bukan? Mereka menembaki kami saat pemakaman. Tidak bisakah Mohammed mendapat kedamaian bahkan di dalam kuburnya?” Ujar Moayyad, ayah Mohammed.

Warga Palestina membawa jenazah Muhammad Munir al-Tamimi selama pemakamannya di Deir Nizam di Tepi Barat yang diduduki, pada 24 Juli 2021 (AFP)

Sebelum Mohammed, Zionis telah membunuh seorang remaja berusia 17 tahun pada Sabtu (24/7) lalu. Muhammad Munir Al-Tamimi meninggal akibat ditembak di bagian perut oleh tentara Zionis ketika terjadi demonstrasi di desa Nabi Saleh di Beita. Demonstrasi tersebut merupakan protes terhadap kebijakan Zionis Israel yang memperluas permukiman ilegal Yahudi Eviatar. Berdasarkan data dari Bulan Sabit Merah Palestina, 146 warga Palestina terluka saat peristiwa demonstrasi di Beita tersebut. Sembilan orang terluka akibat tembakan langsung, 34 oleh peluru berlapis karet, dan 87 oleh gas air mata.

Baca berita terkait: Demonstran Palestina Ditembak Mati Tentara Zionis

“Mereka mengeksekusinya dengan darah dingin, dengan peluru yang dilarang secara internasional,” kata ibu Tamimi. Sementara itu, tentara Zionis menolak tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa Tamimi ditembak karena melemparkan batu dan “mengancam nyawa seorang tentara” sehingga penembakan Tamimi telah sesuai dengan aturan dalam pertempuran. Sebuah pernyataan yang ganjil mengingat Tamimi hanyalah seorang remaja 17 tahun yang tidak memegang senjata, sangat berbanding terbalik dengan tentara Zionis yang bersenjata lengkap.

Perdana Menteri Zionis Israel, Naftali Bennett, pernah mengatakan, “Saya telah membunuh banyak orang Arab dalam hidup saya. Ini adalah hal yang bagus. Sayang sekali kami tidak membunuh lebih banyak teroris.” Pernyataan ini mendapat kritik dari sejumlah selebriti pro-Palestina seperti Bella dan Gigi Hadid.

Bertolak dari pernyataan yang rasis tersebut, mari bayangkan kekerasan seperti apa yang setiap waktunya akan hadir dan membayangi warga Palestina, juga masa depan seperti apa yang tergambar dalam benak anak-anak Palestina. Mereka, seperti anak-anak lainnya, memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang secara wajar. Namun, penjajahan merenggut hak-hak mereka. Mereka lahir di sela dentuman dan pengusiran, tumbuh di dalam luka yang menggores fisik dan batin mereka.

Mohammed dan Tamimi hanyalah dua di antara sekian banyak anak Palestina yang telah direnggut haknya, dilukai, bahkan dibunuh oleh Zionis Israel. Tujuh puluh tujuh bukanlah angka yang sedikit untuk hitungan nyawa yang hilang. Anak-anak, sedegil apa pun mereka, tidak berhak untuk disakiti apalagi dibunuh seakan mereka adalah sesuatu yang tidak berharga.

Photo by MEE/Akram al-Waar

Death to Arabs” “A good Arab is a dead Arab” adalah senandung yang digemakan saat pawai bendera Zionis Israel pada pertengahan Juni lalu di kawasan Al-Quds. Kemanusian telah lenyap dikubur rasisme. Hanya karena seorang anak terlahir sebagai warga Palestina, nyawanya tidak dianggap berharga. Bukankah para tentara yang membunuh anak Palestina tersebut juga memiliki anak? Tidakkah pernah terlintas dalam benak mereka perasaan orang tua yang kehilangan anaknya akibat dibunuh? Atau mungkin, membunuh banyak anak-anak merupakan sebuah ‘prestasi’ bagi mereka?

 

Reporter : Salsabila

Editor : LM

Dari berbagai sumber.

 

***

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply