Wilayah Jalur Gaza terus menyempit sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025 akibat perluasan wilayah kontrol Israel. Dalam perjanjian gencatan senjata, pasukan Israel awalnya mundur ke batas yang disebut “garis kuning”. Namun, Israel kemudian memperluas area larangan hingga membentuk “garis oranye”.
Peta baru militer Israel menunjukkan area terlarang bertambah sekitar 11 persen wilayah Gaza. Akibatnya, hampir dua pertiga wilayah Gaza kini tertutup sehingga memaksa sekitar 2,1 juta warga Palestina untuk hidup berjejalan di wilayah sempit yang tersisa. Selain itu, zona Gaza yang masih dihuni terus menghadapi pengeboman dan krisis layanan dasar.
Peneliti Palestina Jad Isaac mengatakan pencaplokan yang Israel lakukan itu dapat mendorong warga Palestina untuk keluar dari Gaza karena wilayah yang tersisa tidak layak huni. Di sisi lain, Hamas dan kelompok Palestina menolak perluasan zona tersebut. Mereka menilai Israel sedang menciptakan fakta baru di lapangan melalui kekuatan militer.
Hamas juga menegaskan tidak akan melanjutkan negosiasi tahap kedua sebelum Israel memenuhi kesepakatan awal. Kesepakatan itu mencakup masuknya bantuan, penghentian serangan, dan penarikan pasukan Israel. Selain itu, Israel terus menghancurkan rumah, lahan pertanian, dan bangunan di dekat garis pembatas baru. Militer Israel bahkan membangun puluhan pos di sepanjang area tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran banyak pihak bahwa garis pembatas baru akan berubah menjadi perbatasan permanen di masa depan.
Sumber: The New Arab







![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)