Makam tentara Kanada hancur di Gaza setelah serangkaian operasi militer Israel di wilayah tersebut. Makam tentara Kanada itu menyimpan jenazah 22 prajurit yang gugur dalam misi penjaga perdamaian pertama Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1956.
Lia Bons, saudara dari Adriann Bons yang dimakamkan di lokasi tersebut, menggambarkan kondisi makam yang sangat memprihatinkan. Menurutnya, batu nisan sudah tidak terlihat lagi. Kini, area itu hanya tampak seperti hamparan tanah, kerikil, dan pasir.
Seorang perwira militer Israel mengakui bahwa pasukan Brigade Combat Team menggali hingga kedalaman 20 hingga 30 meter pada Februari lalu. Mereka melakukan penggalian untuk menghancurkan terowongan Hamas yang berada di bawah area pemakaman. Namun, pasukan tidak mengambil langkah khusus untuk melindungi jenazah karena operasi berlangsung dalam situasi pertempuran.
Baca juga: “Genosida Berlanjut: Anak-Anak Palestina Jadi Sasaran Utama di Gaza“
Makam tentara Kanada tersebut berada di Gaza War Cemetery, Distrik Tuffah, Kota Gaza. Sejak agresi berlangsung, lokasi itu berulang kali mengalami kerusakan. Para tentara Kanada yang dimakamkan di sana gugur setelah invasi Israel ke Mesir pada 1956. Mereka merupakan prajurit Kanada terakhir yang dimakamkan di luar negeri.
Selain itu, laporan media menyebut Israel menghancurkan sejumlah batu nisan, menggunakan alat berat di area pemakaman, dan menempatkan tank di sekitarnya. Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam dari pihak keluarga mengenai nasib makam tentara Kanada yang berada di wilayah tersebut.
Sementara itu, sejumlah keluarga tentara mendesak pemerintah Kanada untuk mengambil tindakan lebih besar guna melindungi jenazah para prajurit. Bahkan, beberapa keluarga meminta pemerintah memulangkan jenazah mereka ke Kanada.
Marguerite Picard berharap jenazah saudaranya, Paul, dapat ia bawa pulang dan ia makamkan di samping kedua orang tuanya. Dengan demikian, keluarga dapat mengenangnya di tanah kelahirannya.
Sumber: TRT World, MEMO








