ADARA — Misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) kembali menjadi perhatian publik setelah armada sipil yang membawa bantuan untuk Gaza diintersep Israel di laut internasional. Dalam agenda “Waves to Gaza: Kesaksian Jurnalis Global Sumud Flotilla” pada Kamis (28/5), relawan Indonesia membagikan pengalaman mereka selama mengikuti misi tersebut.

Diskusi menghadirkan Maryam Rachmayani selaku Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) sekaligus Direktur Utama Adara Relief International. Sementara itu, Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai, relawan GPCI sekaligus jurnalis Republika yang turut berlayar menuju Gaza. Agenda ini dimoderatori oleh Fathimah Nurus Saadah, Marketing Communication Adara.
Persiapan Misi Global Sumud Flotilla

Misi ini merupakan misi kedua dari Global Sumud Flotilla yang telah berjalan di tahun lalu. Saat itu, Maryam, Abeng, dan Thoudy mengikuti serangkaian persiapan berlayar di Tunisia, namun belum mendapat kesempatan untuk berlayar.
Maryam menjelaskan bahwa GSF di tahun ini berkembang menjadi misi darat, laut, serta forum advokasi. Semua ini bertujuan untuk semakin menguatkan posisi GSF sebagai misi kemanusiaan untuk mendobrak blokade Gaza. Misi ini juga bertujuan untuk membuka mata dunia terhadap penjajahan yang terus berlangsung di Palestina.

Sebelum keberangkatan, GSF telah membangun berbagai jalur diplomasi internasional. Salah satunya, Global Sumud Parliamentary Congress di Brussel, Belgia yang dihadiri berbagai tokoh publik dari 60 negara. Wanda Hamidah, Prof. Sudarnoto, Feri Amsari, Arif Rahmadi Haryono, Prof. Heru Susetyo, dan Gustika Yusuf Hatta mewakili Indonesia di forum ini.
Sementara itu, GPCI juga telah membangun komunikasi dengan pihak legislatif dan eksekutif Indonesia mengenai rencana keberangkatan relawan dalam GSF.
Abeng dan Thoudy mengaku keberangkatan mereka sebagai jurnalis dalam misi ini bertujuan untuk memberitakan kondisi Gaza. “Kita punya kewajiban untuk mengetahui apa yg terjadi di Gaza, kita harus datang dan menyampaikan apa yang terjadi,” tegas Abeng.
“Kita percaya bahwa kita bisa melawan dengan narasi, dan itu yang membuat Israel takut,” ungkap Thoudy. “Setiap penjajah pasti takut dengan gerakan sipil, karena saat dunia tidak mampu menjalankan mandat internasional untuk menghentikan genosida, masyarakat sipil pasti akan bergerak,” tambah Abeng.
Waves to Gaza: Kesaksian Penculikan Relawan di Laut Internasional
Bambang Noroyono dan Thoudy Badai membagikan pengalaman saat mengalami penculikan di perairan internasional pada Senin (18/5).
Abeng berada di Kapal Boralize yang pertama kali mengalami intersep dari seluruh armada GSF, sementara itu Thoudy berada di Kapal Ozgurluk.

Keduanya menjelaskan bahwa seluruh partisipan sebenarnya telah memahami risiko intersep sebelum keberangkatan. Oleh karena itu, saat memasuki red zone di hari Ahad (17/5), mereka telah bersiap dengan protokol intersep.
Senin (18/5), perahu karet Zodiac IOF membajak kapal mereka. Militer IOF juga menembakkan peluru karet ke badan kapal. IOF lalu menggeledah setiap peserta untuk mengecek paspor dan memastikan relawan tidak membawa senjata. Mereka juga mencabut atribut Palestina yang melekat pada pakaian relawan secara kasar dengan makian.
Seraya menodong senjata, IOF membawa mereka ke kapal militer besar. Kapal tersebut penuh dengan kontener, dan terdapat kontener khusus eksekusi. Setiap relawan, baik laki-laki, perempuan, maupun lansia mengalami penyiksaan di kontener tersebut. Setelah itu, mereka memasuki ruang tahanan kemudian disiksa secara keji selama 3 hari, baik fisik maupun psikis.
Setiap relawan yang menyanyikan yel-yel untuk Palestina diancam ditembak. IOF menyodorkan roti yang tak layak, juga melempar gelondongan air mineral di atas kepala relawan.

Kapal tahanan ini kemudian membawa para relawan ke Ashdod. Sesampainya di sana, relawan menjalani proses imigrasi, kemudian kembali mengalami penyiksaan. Mereka bersujud dengan kondisi terikat. Jika berusaha untuk bergerak, IOF akan menginjak punggung relawan.
Setelah itu, relawan mengalami penyiksaan di Penjara Ketziot selama satu malam. Mereka mengenakan pakaian tawanan dengan bau najis yang menyengat. Di Ketziot, banyak hewan yang dilatih untuk menyiksa tawanan, dan ini tercermin dari banyaknya bercak pada pakaian tawanan.
“Semua partisipan mengalami perlakuan sama. Tidak ada yang mendapat perlakuan khusus,” ujar Thoudy. “Apalagi narasi bahwa WNI mendapat perlakuan baik. Faktanya, Zionis memperlakukan WNI dengan tidak baik, bahkan teman kami masuk rumah sakit sesampainya di Indonesia.”
Jika pada relawan pun Zionis Israel berani melakukan penyiksaan, bagaimana dengan tahanan Palestina?
Meskipun telah mengalami serentetan penyiksaan, semua aktivis GSF terus menuturkan bahwa penyiksaan ini hanyalah sedikit dari penderitaan para tahanan Palestina.
“Ini hanyalah setetes dari perihnya yang dialami masyarakat Gaza,” ujar Abeng.
“Kita yang tidak berdarah Palestina saja mengalami penyiksaan seperti ini. Lalu, bagaimana dengan warga Palestina yang ditahan tanpa alasan dan tidak ada kepastian kapan dibebaskan. Penyiksaan mereka bisa lebih sadis,” papar Thoudy. “Oleh karena itu, teruslah berada di barisan saudara di Palestina apa pun kondisinya.”
“Perjuangan untuk Palestina tidak boleh berhenti. Hidupkan sosmed dan kirim donasi. Gaza tetap butuh bantuan kemanusiaan, itu yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup,” imbuh Maryam. “Kemudian, teruslah mengedukasi. Sesederhana memakai pin semangka pun sudah menjadi edukasi untuk menunjukkan keberpihakan dan menggerakkan orang di sekitar.”







