Israa Jaabis, Kisah Pilu Seorang Ibu yang Ditawan Zionis

Perempuan bernama lengkap Israa Riyad Jamil Jaabis adalah seorang ibu berusia 31 tahun. Ia ditangkap tentara Zionis pada 10 Oktober 2015 dengan tuduhan meledakkan bom, ketika mobilnya mengalami kecelakaan di Al-Quds.

Hari itu, Jaabis dalam perjalanan kembali dari tempat keluarganya di Jericho menuju tempat tinggal barunya di Jabal Al-Mukabber, Al-Quds. Sehari-hari ia bekerja di Al-Quds dan baru menyewa apartemen di sana. Oleh sebab itu, dalam beberapa hari, ia harus bolak-balik untuk memindahkan perabotannya. Saat itu, ia sedang membawa tabung gas dan TV di dalam mobil. Ketika berkendara sekitar 500 meter menjelang pos penjagaan Al-Zayyim, mendadak airbag mobil terbuka dan mengakibatkan ledakan tabung gas.

“Mobil itu terbakar tanpa saya sadari,” kata Jaabis bercerita, “Jadi saya keluar dengan cepat, lalu seorang polisi datang kepada saya dengan senjata terangkat dan berteriak, ’Jatuhkan pisaunya!’, padahal saya tidak membawa apa-apa, tubuh saya terbakar! Perwira lain memerintahkan para prajurit untuk melepaskan tembakan. Saya tetap di tanah selama sekitar 15 menit sebelum ambulans datang.”

Baca artikel terkait: Kejamnya Perilaku Israel terhadap Israa Al Jabis

Jaabis kemudian dibawa ke Rumah Sakit Hadassah EnkKarem di al-Quds. Ia kelihangan kesadaran akibat luka bakar yang dideritanya. Begitu terbangun, ia melihat perawat dan tahu bahwa dirinya telah berada di rumah sakit.

Kecelakaan ini membuat Jaabis mengalami kondisi yang memprihatinkan. Ia menderita luka bakar stadium tiga. Sebanyak 50 persen tubuhnya terbakar. Ia mengalami cacat di wajah dan punggungnya, beberapa tulangnya patah, delapan jari tangannya diamputasi karena meleleh saat terpanggang api. Dokter tidak menginformasikan kondisinya, mereka hanya mengatakan ia baik-baik saja kemudian pergi. Selama di rumah sakit Jaabis hanya bertemu dengan pengacaranya, Tariq Barghouth, sambil lengan kiri dan kaki kanannya diborgol ke tempat tidur. Ketika borgol dilepas dari lengannya, kedua kakinya diikat ke tempat tidur. Mereka juga memborgolnya saat ia ke toilet.  Selain kondisi fisiknya, ia juga berada dalam kondisi trauma; setiap tengah malam seringkali terbangun sambil menangis dan berteriak, “kebakaran, kebakaran! Tolong saya!”

Jaabis menghabiskan waktu hampir tiga bulan di Rumah Sakit Hadassah Ein Kerem, kemudian dipindahkan ke RS Tahanan Al Ramlah. Ia hampir tidak dapat mengerjakan apa pun seorang diri sehingga seorang tahanan bernama Alyah Al-Abbasi ditugaskan untuk membantunya. Seorang dokter dan beberapa perawat akan datang untuk mengganti perban untuk luka bakarnya, sementara seorang petugas berjaga di pintu. Beberapa kali protes terjadi sebab mereka hanya memberinya satu botol salep yang tidak cukup untuk menutupi semua luka bakar di tubuhnya. Selain itu, kamera keamanan yang dipasang, membuat Israa dan Alyah merasa kehilangan privasi. Setelah sebulan, ia dipindahkan ke penjara wanita Hasharon.

Dengan kondisi medis yang buruk, Jaabis tetap harus mengikuti persidangan berkali-kali sejak penangkapannya pada hari kecelakaan. Ia menyebutkan bahwa dia meninggalkan Hasharon untuk pergi ke Pengadilan Pusat di Al-Quds dengan mobil militer. Petugas di dalam mobil memperlakukannya dengan sangat buruk, menyita obat penghilang rasa sakitnya, dan terus-menerus memakinya. Perjalanannya akan dimulai pada pukul dua dini hari, dan akan tiba kembali di penjara pada pukul dua belas dini hari keesokan harinya.

Pengadilan Pusat Yerussalem menuntutnya dengan dakwaan terorisme dan upaya pembunuhan dengan meledakkan tabung gas. Jaksa penuntut militer menggunakan beberapa postingan Facebook-nya untuk memperkuat klaim mereka bahwa ia memiliki motif nasionalis untuk membunuh orang Zionis Israel.

Saudaranya, Mona Jaabis, mengatakan pembelaannya, “Jika ia mencoba meledakkan mobilnya di pos pemeriksaan, bagaimana mungkin jendela mobilnya utuh? Eksterior mobil bahkan tidak berubah warna. Dan jika memang ada ledakan, Israa akan ikut meledak dan tercabik menjadi beberapa bagian.”

Mona meyakini bahwa saudaranya tidak bersalah. Ia membawa tabung gas bukan sebagai upaya pembunuhan melainkan dalam rangka kepindahannya ke Al-Quds. Sementara itu, kebakaran terjadi akibat kesalahan teknis dalam mesin mobil yang mempengaruhi airbag di roda kemudi. Pendapat ini juga didukung oleh Kelompok hak-hak tahanan Palestina, Addameer, yang mengatakan bahwa tabung gas meledak akibat kesalahan teknis mesin. Pendapat ini diabaikan oleh Otoritas Israel yang diketahui tidak memeriksa mobil tersebut.

Setelah satu tahun bernegosiasi dengan pengadilan, tepatnya pada 7 Oktober 2016, Jaabis dijatuhi hukuman 11 tahun penjara dan denda 50.000 shekel. Dia bergabung dengan 41 perempuan Palestina lainnya yang mendekam di penjara Israel, bersama dengan 200 anak-anak. Bahkan, empat dari perempuan tawanan ini, menurut the Palestinian Prisoners Society (PPS), ditahan tanpa pengadilan.

Jaabis memiliki seorang putra, yaitu Mutasem Jaabis, yang saat ibunya dijatuhi hukuman penjara masih berusia 8 tahun. Ia sekarang tinggal bersama nenek dan bibinya di Al-Quds, setelah suami Israa mengalami kecelakaan mobil di Jericho yang mengakibatkannya harus menggunakan kursi roda.

Baca juga: Menteri Kesehatan: Kami Lakukan Segala Upaya untuk Bebaskan Israa Jaabis

“Saya akan bermain dengan ibu saya ketika ia kembali,” katanya kepada Kantor Berita Anadolu Agency. Muna Jaabis, yang merawat anak itu, mengatakan bahwa ia mencoba untuk tetap kuat meski terus menahan rindu kepada ibunya.

Mutasem tidak memiliki kartu identitas sebagai warga Al-Quds karena ayahnya berasal dari Tepi Barat, sehingga ia tidak dapat mengunjungi ibunya secara berkala di Penjara Hasharon utara Israel. Setelah berbagai upaya, pada 1,5 tahun setelah penahanan, Palang Merah berhasil mengatur pertemuan khusus antara Mutasem dan ibunya.

Israa Jaabi berkecamuk dalam emosi, sebab untuk pertama kali, putranya akan melihat wajahnya yang cacat, ”Apakah ia akan mengira aku terlihat seperti gorila?” tanyanya. Para perempuan tawanan pun membantunya menjahit kostum harimau untuk menyembunyikan bekas luka bakarnya, juga untuk membawa senyum di wajah putranya. Ini adalah kunjungan khusus sehingga para penjaga penjara mengizinkan ibu dan anak itu untuk berpelukan.

Menjawab kekhawatiran Israa saat bertemu, anak lelaki itu mengatakan, ”Saya mencintai ibu saya apa adanya, dia akan selalu menjadi ibu saya, sebelum ataupun sesudah menderita luka bakar,”

Penulis :

Ihdal Husnayain, SE, MSi (Han).
Penulis merupakan anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita anak dan perempuan Palestina. Ia merupakan lulusan Fakultas Ekonomi UI dan telah menempuh pendidikan masternya di Universitas Pertahanan Indonesia.

 

Sumber: Link 1 / Link 2 / Link 3 / Link 4

***

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Leave a Reply