Gaza yang Telah Melampaui Batas-Batas Kemanusiaan

“If there is a hell on earth, it is the lives of children in Gaza,” – Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.[1]

Judul tersebut tampaknya tidak berlebihan untuk menggambarkan bagaimana situasi yang saat ini dialami oleh dua juta penduduk  Gaza. Pada 2019, tercatat air di Gaza tercemar hingga 97 persen dan listrik hanya tersedia selama enam jam. Keadaan ekonominya lebih buruk lagi; tingkat pengangguran mencapai 53 persen dan tingkat kemiskinan mencapai 52 persen, sementara rumah yang rusak karena dihancurkan Zionis lebih dari 57 persen. Hal ini mengakibatkan tingginya angka pengungsi hingga menyentuh 66,2 persen–selain juga akibat dari kebijakan pengusiran Israel dari berbagai daerah di Palestina. Dampaknya dapat terlihat dari pertumbuhan ekonomi di Gaza, yaitu minus 6,9 persen, jauh sekali jika dibandingkan pertumbuhan ekonominya pada 2018, yaitu 3,7 persen dan 6,8 persen.[2]

Krisis yang dialami  penduduk Gaza sejak 2014 sungguh telah melampaui batas-batas kemanusiaan. Dalam laporannya pada 2012, PBB menyatakan bahwa pada 2020 Gaza akan menjadi ‘Zona Kematian’ jika tidak dilakukan perbaikan.[3] Jika blokade masih dibiarkan terus menerus tanpa adanya upaya perbaikan, sebagaimana yang diusulkan PBB, maka Gaza akan menjadi wilayah yang tidak layak huni.

Namun, pada kenyataannya, penderitaan yang dirasakan penduduk Gaza pada hari ini lebih buruk lagi. Pada 10 Mei 2021, Israel memborbardir Gaza selama sebelas hari dengan lebih dari 2000 rudal. Korban jiwa mencapai 256, termasuk di antaranya 66 orang anak-anak dan 40 orang perempuan. Sementara itu, korban luka mencapai 2000 orang, termasuk diantaranya 600 orang anak dan 400 orang perempuan. Banyak di antara mereka mengalami disabilitas yang memerlukan perawatan. UNRWA mencatat 113.000 orang mencari tampat bernaung ke sekolah-sekolah UNRWA akibat kehilangan tempat tinggal, 2.300 rumah hancur lebur, dan 16.250 rumah mengalami kerusakan. Fasilitas umum pun tak luput dari serangan, sebanyak 58 fasilitas pendidikan, 9 rumah sakit, dan 19 klinik mengalami kerusakan. Serangan ini mengakibatkan 600.000 anak usia sekolah harus berhenti bersekolah.[4]

Setelah terjadi gencatan senjata pada 21 Mei 2020, perbatasan Erez yang dikuasai oleh Israel dibuka secara terbatas untuk lembaga kemanusiaan internasional, jurnalis, pasien darurat, dan orang yang ingin kembali ke rumah mereka di Gaza, setelah sebelumnya tertutup selama terjadinya serangan. Sementara, lembaga kemanusiaan dan pasien medis biasa tidak diperbolehkan melewati  perbatasan. Bantuan yang diizinkan masuk pun sangat terbatas, yaitu perlengkapan medis, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar untuk sektor privat.

Akses laut untuk para nelayan kembali dibuka sejauh enam mil dari tepi pantai, padahal sebelum terjadi penyerangan, para nelayan dapat melaut sampai dengan 20 mil.[5] Hal ini tentunya bukan merupakan suatu keadaan yang ideal, tetapi setidaknya masih lebih baik dibandingkan tertutup sama sekali.

Berdasarkan laporan dari OCHA oPt (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs Occupied Palestinian Territory), bantuan kemanusiaan yang dibutuhkan untuk Palestina selama satu tahun ke depan akibat serangan ini adalah sebesar 95 juta dolar AS. Bantuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan makanan, tempat penampungan, pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan air di wilayah Gaza dan Tepi Barat. Khusus wilayah Gaza, akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan roket Israel, bantuan yang dibutuhkan mencapai 89 juta dolar AS, yaitu sebesar  8,2 juta dolar AS untuk pendidikan,  38 juta dolar AS untuk pangan, 10 juta dolar AS untuk kesehatan, 9,6 juta dolar AS untuk proteksi/perlindungan (hukum, mental, dll), 19 juta dolar AS untuk penampungan dan 7 juta dolar AS untuk air.[6]

Terkait upaya pemulihan Gaza, Adara Relief International telah enam kali menyalurkan bantuan darurat selama dan pascaserangan ke Gaza, yaitu berupa penyediaan tempat tinggal sementara, bahan pangan, dan dana kontan untuk 1675 keluarga. Adara juga menyediakan 125 tangki air, 250 selimut, dan 25 lemari, melakukan renovasi untuk 18 rumah, serta memberikan bantuan pemberdayaan bagi 7 keluarga.

Di bidang kesehatan, Adara memberikan bantuan untuk 515 keluarga dan 759 orang yang mengalami luka. Adara juga menyuplai bantuan keperluan medis untuk tiga rumah sakit dan satu buah ambulans. Secara khusus, Adara memberikan bantuan operasi untuk dua anak. Selain luka fisik, para korban serangan, khususnya anak-anak, juga mengalami luka mental. Untuk itu Adara memberikan trauma healing bagi 549 anak-anak di Gaza. [7]

Upaya membantu mereka adalah sebuah panggilan kemanusiaan.  Namun demikian, di sisi lain kita juga melihat bahwa warga Gaza adalah  manusia pilihan  yang mampu melewati batas-batas kemanusiaan. Mungkin memang benar, bahwa dengan sederet restriksi yang diberlakukan Israel terhadap wilayah Gaza, seharusnya penduduk Gaza akan mati perlahan. Kalaulah bukan karena keracunan air, mungkin karena kelaparan, atau karena buruknya akses kesehatan. Dengan kondisi tersebut, jalan menuju kematian dapat ditemui dengan mudah oleh penduduk Gaza. Akan tetapi, penduduk Gaza menolak untuk kalah. Jumlah populasi yang masih bertahan di wilayah ini masih sama seperti saat Israel memblokadenya 15 tahun lalu, bahkan cenderung naik karena tingkat kelahiran yang tinggi mencapai 33,4 persen, yang juga merupakan angka kelahiran tertinggi di wilayah Palestina.[8]

Gaza, Bukan Sekadar Angka

Angka-angka kematian, korban luka, kelaparan, kemiskinan, rumah yang hancur akan terus bertambah jika persoalan kemanusiaan di Gaza tidak dituntaskan. Tanpa bantuan kemanusiaan, Gaza hanya akan menjadi persoalan deretan angka; tentang wilayah dengan polusi air tertinggi di dunia, tentang kemiskinan yang membelit sehingga kelaparan terjadi di mana-mana, juga tentang besaran angka korban jiwa dan luka-luka. Namun, Gaza bukan sekadar angka, sehingga tidak layak jika Gaza hanya diekspos untuk menghitung deret-deret angka penderitaannya. Gaza adalah fenomena tentang penjara terbesar di dunia yang sengaja dipasung untuk dibiarkan mati perlahan, jika blokade masih dilakukan.

Persoalan kemanusiaan di Gaza juga tidak akan pernah usai jika perhatian yang diberikan hanya ‘sebatas’ kemanusiaan. Sebab, permasalahan kemanusiaan yang ada di Gaza bukan karena permasalahan kemiskinan semata. Permasalahan yang ada di Gaza merupakan upaya pemiskinan sebagai akibat dari persoalan politik yang tak kunjung usai.  Selama Gaza masih diblokade,  maka persoalan ekonomi dan kemanusiaan akan terus membelit Gaza. Blokade yang terjadi selama lima belas tahun terakhir, telah melumpuhkan bahkan mematikan perekonomian Gaza. Penduduk Gaza kesulitan melakukan aktivitas ekonomi karena adanya pelarangan untuk mendapatkan berbagai barang-barang kebutuhan pokok. Akibat blokade, pasien-pasien di Gaza  mengalami kesulitan bahkan dilarang untuk berobat ke luar Gaza. Seorang pasien bisa meninggal karena penyakitnya yang bertambah parah akibat restriksi Israel untuk pergi berobat. Atas segala kesulitan hidup yang mereka telah lewati, sudah 15 tahun ini warga Gaza melampaui batas-batas kemanusiaan yang tak lagi mampu ditakar nalar. Perlu berapa lama lagi kita membiarkan ini terjadi?

 

Fitriyah Nur Fadilah

Penulis merupakan pengurus sekaligus peneliti Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana dan master jurusan Ilmu Politik, FISIP UI.

 

Sumber Tulisan :

United Nation. (2021). Gaza children living in ‘hell on earth’, UN chief says, urging immediate end to fighting. Diakses dalam https://news.un.org/en/story/2021/05/1092332

Gazze Destek Dernegi. (2019). Sustainability Report 2019 : For a Decent Sustainable Life. Istanbul : GDD.

United Nation. (2012). Gaza in 2020. Diakses dalam https://www.unrwa.org/userfiles/file/publications/gaza/Gaza%20in%202020.pdf.

OCHA oPt. (2021). Response to the escalation in the oPt : Situation Report No. 2 (28 May – 3 June 2021). Diakses dalam https://www.ochaopt.org/content/response-escalation-opt-situation-report-no-2-28-may-3-june-2021.

OCHA oPt. (2021). Escalation of Hostilities and Unrest in the oPt, diakses dalam https://www.ochaopt.org/sites/default/files/flash_appeal_27_05_2021.pdf

Adara Relief International. (2021). Laporan Tengah Tahun Adara Relief International. Jakarta : Adara Relief International. Laporan Tidak Diterbitkan.

Palestine Central Bureau of Statistics. (2020). About 13,5 Million Palestinians in the Historical Palestine and Diaspora. Diakses dalam : http://pcbs.gov.ps/site/512/default.aspx?lang=en&ItemID=3774

 

[1] Gaza children living in ‘hell on earth’, UN chief says, urging immediate end to fighting, 20 Mei 2021, diakses dalam https://news.un.org/en/story/2021/05/1092332

[2] Sustainability Report 2019 : For a Decent Sustainable Life, Turkey : Istanbul, 2019, Gazze Destek Dernegi (GDD), hlm. 15-16.

[3] Gaza in 2020, Agustus 2012, UN, https://www.unrwa.org/userfiles/file/publications/gaza/Gaza%20in%202020.pdf.

[4] Response to the escalation in the oPt : Situation Report No. 2 (28 May – 3 June 2021), 6 Juni 2021, diakses dalam https://www.ochaopt.org/content/response-escalation-opt-situation-report-no-2-28-may-3-june-2021.

[5] Escalation of Hostilities and Unrest in the oPt, 27 Mei 2020, diakses dalam https://www.ochaopt.org/sites/default/files/flash_appeal_27_05_2021.pdf

[6] Escalation of Hostilities and Unrest in the oPt

[7] Laporan Tengah Tahun Adara Relief International, Juni 2021, Laporan Tidak Diterbitkan.

[8] About 13,5 Million Palestinians in the Historical Palestine and Diaspora,  http://pcbs.gov.ps/site/512/default.aspx?lang=en&ItemID=3774

 

***

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Leave a Reply