Bicara tentang kurban berarti bicara tentang Surat Al-Kautsar. Di dalam surat terpendek ini, Allah SWT menegaskan betapa nikmat-Nya telah tercurah dengan begitu berlimpah. Namun, di balik curahan nikmat tersebut, Allah hanya menitipkan dua perintah sederhana sebagai wujud syukur: dirikanlah salat dan berkurbanlah. Menariknya, meski ringkas, turunnya ayat-ayat ini adalah momen yang menyunggingkan senyuman di bibir Baginda Nabi ﷺ, menjadi pelipur lara sekaligus kabar gembira bagi beliau
Sampai para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Mengapa engkau tertawa wahai Rasul?” kemudian Rasulullah ﷺ menjawab; “Sesungguhnya barusan saja turun kepadaku satu surat, (beliau ﷺ membacakan Surat Al-Kautsar seluruhnya) kemudian beliau melanjutkan sabdanya; Tahukah kalian, apakah Al-Kautsar itu?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Beliau lalu berkata: “Ia adalah sungai yang Rabb-ku berikan kepadaku di surga. Di dalamnya terdapat banyak kebaikan. Kelak pada hari kiamat umatku akan hilir mudik ke sungai itu. Bejananya sebanyak jumlah bintang di langit.(….)” (HR. Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud)
Baca juga : “Akikah atau Kurban, Mana yang Lebih Utama?“
Dalam Kitab Asbabun Nuzul, Imam As-Suyuthi menuliskan sebuah hadis dengan sanad dhaif yang diriwayatkan dari Abu Ayyub, beliau mengatakan ketika Ibrahim bin Rasulullah ﷺ wafat, musyrikin Mekah mengolok-olok Rasul dengan mangatakan bahwa Rasulullah ﷺ abtar (terputus keturunannya, seperti hewan yang putus ekornya). Selain itu, dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Ibnu ‘Abbas menuturkan, ada salah satu tokoh kafir Quraisy yaitu Al-’Ash bin Wail yang jika nama Rasulullah ﷺ disebut beliau akan mengatakan “biarkanlah dia karena dia seorang yang tidak memiliki penerus, jika dia binasa, maka terputuslah penyebutannya.”
Turunnya Surat Al-Kautsar menjadi oase sekaligus jawaban telak dari Allah atas hinaan para pembenci Rasulullah ﷺ tersebut. Allah memutus harapan orang-orang yang ingin melenyapkan nama beliau dengan menegaskan:
(إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ)
“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus.” (Q.S: Al-Kautsar: 3)
Sebagai bentuk pembelaan dan karunia yang begitu melimpah, Allah pun menitipkan dua perintah utama: salat dan berkurban. Dua amalan ini, meski tampak sederhana, sejatinya adalah cerminan tertinggi dari rasa syukur seorang hamba atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan.
Bukan Sekadar Salat Kebiasaan
Salat bukanlah sekadar rutinitas atau ibadah yang dilakukan karena kebiasaan. Salat yang dimaksud adalah yang didirikan hanya karena penghambaan kepada Rabb semesta alam. Sebuah ibadah yang ketika ditegakkan, mampu memenuhi relung hati dengan kesyukuran kepada Allah.
Ketika Allah menggunakan kata Rabb, maka ada sisi lain yang ingin Allah tunjukan sebagai Tuhannya manusia, bukan hanya Dzat-Nya sebagai pencipta dan sembahan, melainkan juga yang melimpahkan kasih sayang, pemeliharaan, dan penjagaan yang tak terputus kepada hamba-hamba-Nya. Sebagai respons atas cinta-Nya yang luas, Allah berfirman,
(فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ)
“Maka dirikanlah salat karena Rabbmu, dan berkurbanlah.” (Q.S: Al-Kautsar: 2)
Namun, hanyalah salat yang ditegakkan dengan keikhlasan yang mampu meraih tiket diterimanya ibadah oleh Allah. Dengan demikian, jika terselip setitik saja niat bukan karena Allah, segeralah sucikan kembali niat kita dengan banyak beristigfar kepada-Nya agar ibadah kita kembali utuh–hanya untuk Allah.
Bentuk Pengorbanan Nyata, Sunah Tercinta
Setelah perintah salat yang harus murni untuk Allah, perintah berikutnya adalah “dan berkurbanlah”. Hal ini menunjukkan bahwa berkurban merupakan sebuah perintah nyata di dalam Al-Quran, perintah yang agung dan disandingkan dengan perintah mendirikan salat. Selain itu, berkurban juga merupakan sunah yang Rasulullah ﷺ cintai dan tidak pernah beliau tinggalkan. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Anas bin Malik RA.,
ضَحَّى النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا
“Nabi ﷺ berkurban dengan dua ekor kambing jantan (atau biri-biri besar) putih bercampur hitam yang bertanduk, beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir, serta meletakkan kakinya pada sisi leher keduanya.”
Berkurban bukan hanya sekali seumur hidup, tapi ibadah yang harus kita niatkan setiap tahun, setiap kali datangnya waktu berkurban. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Barangsiapa memiliki kelapangan (mampu) namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR. Ibnu Majah)
Baca juga : “Qurban Idul Adha : “Qurban Melangit, Berkah Mendunia”“
Makna utama hadis ini adalah penegasan kuat tentang pentingnya kurban; bahwa kurban bagi orang yang mampu bukanlah perkara remeh, kurban adalah syiar besar, bentuk syukur, tanda kepedulian terhadap syariat dan sesama.
Memang maksud hadis ini bukan berarti sah atau tidaknya salat Iduladha kita bergantung pada pelaksanaan kurban. Akan tetapi, hadis ini menjadi teguran keras kepada jiwa yang kikir, yang menahan rezeki yang Allah titipkan kepadanya. Selain itu diharapkan pula menjadi dorongan yang sangat kuat bagi orang-orang yang mampu untuk melaksanakan kurban.
Mungkin kita memang perlu meluangkan waktu untuk benar-benar mentadaburi ayat-ayat Allah agar pesan-Nya tidak hanya singgah di pikiran, tetapi menetap di hati. Nikmat besar yang Allah curahkan kepada kita seharusnya melahirkan syukur yang nyata melalui salat, penghambaan, dan qurban. Sebab ketika hati telah memahami, ibadah bukan lagi sekadar rutinitas, tetapi wujud cinta, syukur, dan ketaatan sepenuhnya kepada Rabb kita.
Isma Muhsonah Sunman, S.Ag., M. Pd.
Dosen STAI DI Al-Hikmah Jakarta dan Pengajar Al-Qur`an di Syifaur Rahman Islamic Club Bogor








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)