Wahai Al-Quds … Wahai Kotaku
Wahai Al-Quds … Wahai Cintaku
Esok hari, akan mekar tanaman-tanaman lemon
Bulir-bulir padi yang menghijau dan pohon zaitun berbahagia
Dan banyak mata tertawa
Merpati yang bermigrasi akan kembali
Ke atap rumah yang suci
Anak-anak yang bermain akan pulang
Para ayah akan berjumpa dengan anak-anaknya
Di bukit-bukitmu yang berbunga
Wahai Negeriku …
Wahai Negeri Zaitun yang Damai
(Al-Quds, Nizar Qabbani)
Periode Ayyubiyah di Palestina bermula sejak kemenangan Shalahuddin al-Ayyubi dalam perang Hittin pada 1187 M. Sebelumnya, Palestina telah berada di bawah kekuasaan umat Islam dan melewati pergantian beberapa dinasti, mulai dari Umayyah, Abbasiyah, Fathimiyyah, hingga Seljuk. Masalah mulai muncul pada masa Fathimiyyah dan Seljuk karena dua dinasti tersebut seringkali berkonflik akibat perbedaan mazhab. Konflik tersebut berujung pada perebutan wilayah Syam dan Hijaz, yang di dalamnya terdapat tiga kota suci yaitu Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis (Al-Quds).
Pasukan Salib yang mengetahui konflik tersebut memanfaatkannya untuk melakukan penaklukan-penaklukan terhadap wilayah pemerintahan Islam. Pada 1097 M, pasukan Salib mulai menaklukkan Anatolia, Syam, Antiokia, hingga Suriah. Pada 1099, pasukan Salib menyerbu Baitul Maqdis dengan brutal. Mereka membantai 70.000 umat Islam, tak peduli apakah itu warga sipil, perempuan, atau anak-anak. Darah menggenang hingga mata kaki, jenazah-jenazah korban ditumpuk seolah nyawa mereka tak berharga.
Tidak berhenti sampai di sana, pasukan Salib kemudian mengubah Masjid al-Aqsa menjadi Istana Yerusalem dan mengubah Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock) menjadi gereja. Sejak saat itu, Baitul Maqdis berubah menjadi Kerajaan Yerusalem di bawah kekuasaan pasukan Salib. Sementara itu, pemimpin-pemimpin muslim yang silih berganti belum ada yang mampu membebaskan kembali Baitul Maqdis, hingga datangnya Shalahuddin al-Ayyubi.
Baca juga : “Sejarah Palestina di Masa Kekhalifahan (Part 3): Rangkaian Tantangan pada Masa Kekhalifahan Abbasiyah”
Shalahuddin al-Ayyubi, Penakluk Baitul Maqdis dari Pasukan Salib

Shalahuddin Al-Ayyubi lahir di Benteng Tikrit, sebuah kota tua di tepian Sungai Tigris, pada tahun 1137 M (523 H). Nama aslinya adalah Abul Muzhaffar Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadzi, sementara Shalahuddin yang artinya ‘Keadilan Agama adalah gelar kehormatan yang diberikan atas jasa-jasanya. Orang tuanya berasal dari Azerbaijan dan merupakan keturunan suku Kurdi yang memiliki nasab baik dan terhormat.
Ketika Shalahuddin lahir, ayahnya yang bernama Najmuddin Ayyub sedang menjabat sebagai penguasa Benteng Tikrit. Nahasnya, hari kelahiran Shalahuddin bertepatan dengan pemecatan dan pengusiran ayahnya dari Tikrit oleh penguasa Baghdad kala itu karena saudaranya, Najmuddin Ayyub, dianggap berbuat kekacauan.
Setelah terusir dari Tikrit, Najmuddin membawa keluarganya pergi, tanpa arah dan tujuan. Mereka sempat melewati wilayah Mosul (Irak), dan memutuskan beristirahat dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Saat itulah takdir baik menghampiri Najmuddin. Ia bertemu dengan Imaduddin Zanki, yang menjabat sebagai Sultan Mosul. Imaduddin mengenali Najmuddin karena ia mengingat bahwa saat dulu ia dikejar-kejar tentara Baghdad, Najmuddin yang membantu menyelamatkannya.
Singkat cerita, Najmuddin dan keluarganya mendapat bantuan dari Imaduddin. Tidak hanya memberikan tempat tinggal, Imaduddin juga memberikan sebidang tanah pertanian di Mosul dan jabatan di pemerintahan untuk Najmuddin. Imaduddin memperlakukan keluarga Najmuddin dengan baik, bahkan hingga ia wafat dan digantikan oleh putranya, Nuruddin Zanki.
Ketika Shalahuddin masih kecil, Nuruddin Zanki menaklukkan wilayah Baalbek (Lebanon) kemudian mengangkat Najmuddin, ayahnya Shalahuddin, sebagai gubernur di sana. Shalahuddin kecil juga mengikuti ayahnya pindah ke Baalbek dan menetap di sana sejak usia dua sampai sembilan tahun. Shalahuddin mendapat kualitas pendidikan setara dengan anak penguasa atau raja, hingga membentuk kepribadiannya menjadi disiplin, tangguh, dan berakhlak mulia.
Dari Baalbek, Shalahuddin kemudian pindah lagi ke Damaskus. Ia mendapatkan pelajaran membaca, menulis, menghafal Al-Qur’an, Fikih, kaidah bahasa Arab (nahwu), dan syair. Selain itu, Shalahuddin belajar tentang strategi perang bersama para tentara. Ia juga berlatih melempar tombak, menunggang kuda, berburu, dan keahlian perang lainnya. Pelajaran-pelajaran tersebut membuat Shalahuddin tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas, kuat, dan bijaksana.
Shalahuddin pertama kali terlibat dalam perang pada 1163 M, saat usianya 26 tahun. Saat itu, ia dikirim ke Mesir karena situasi sedang kacau akibat konflik internal dan ambisi pasukan Salib yang ingin menguasai Mesir. Melihat potensi yang ada di dalam diri Shalahuddin muda, pemerintah Mesir kemudian memberikan Shalahuddin jabatan sebagai pemimpin keamanan wilayah Mesir, kemudian diangkat menjadi wazir Mesir ketika usianya 30 tahun, dan menjadi penguasa Dinasti Ayyubiyah di Mesir pada 1171 M.
Sepanjang masa pemerintahannya, Shalahuddin Al-Ayyubi telah berhasil membuka sejumlah wilayah, di antaranya Irak, Suriah, Yaman, Maroko, Damaskus, Aleppo, Mosul, dan pesisir pantai Afrika Utara. Ia juga melakukan pengembangan-pengembangan sehingga membuatnya diberikan julukan Al-Mu’iz li Amiril Mukminin (Penguasa yang mulia) dan Sultanul Islam wa Muslimin (Pemimpin umat Islam dan orang Muslim).
Peristiwa Penaklukan Baitul Maqdis dari Pasukan Salib

Pada 1177 M, berlangsung perang antara Shalahuddin dengan pasukan Salib yang saat itu berada di bawah pimpinan Raynald dari Chatillon. Pertempuran tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Battle of Montgisard yang bertujuan untuk mengambil alih kembali wilayah-wilayah kekuasaan umat Islam. Akan tetapi, kala itu Shalahuddin memutuskan untuk mundur dari pertempuran. Raynald menggunakan kesempatan itu untuk mengganggu perdagangan di Laut Merah yang merupakan jalur utama jemaah yang akan menunaikan ibadah haji di Makkah dan Madinah.
Pasca Battle of Montgisard, Shalahuddin kembali maju untuk menyerbu pasukan Salib pada 1183 karena Raynald mengancam akan menyerang Makkah dan Madinah. Shalahuddin memperoleh kemenangan. Hal tersebut membuat Raynald murka, hingga ia membalaskan dendam dengan membunuh kabilah yang akan melaksanakan ibadah haji.
Tindakan keji tersebut menyulut amarah umat Islam, termasuk Shalahuddin sebagai pemimpin kala itu. Pada 4 Juli 1187 M, perang Hittin pecah antara tentara Islam di bawah pimpinan Shalahuddin al-Ayyubi dan pasukan Salib. Pada pertempuran ini, Shalahuddin mempersiapkan 12 ribu tentara yang terlatih, sedangkan pasukan Salib membawa 63 ribu tentara. Tentara Salib mengerahkan semua kekuatan kerajaan dan militer mereka demi menguasai Al-Quds (Yerusalem) yang mereka yakini terdapat makam Nabi Isa as. atau Yesus Kristus dalam kepercayaan Kristen.
Meski perbandingan jumlah tentara Islam dan pasukan Salib berbeda jauh, namun Shalahuddin membuat perhitungan yang sangat jenius. Dalam strateginya, Shalahuddin memulai peperangan dengan menyeberangi Sungai Yordan menuju lembah Hittin. Sementara itu, tentara Salib berjalan menyeberangi lembah-lembah Galilea dalam musim panas yang sangat terik. Mereka terbebani oleh pakaian dan peralatan tempur yang harus mereka bawa.
Beratnya muatan yang mereka bawa membuat perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh dalam beberapa jam akhirnya memakan waktu seharian. Hal ini membuat pasukan Salib kehabisan bekal air di perjalanan. Mengetahui hal tersebut, Shalahuddin memerintahkan tentaranya untuk membakar rumput agar situasi semakin panas dan mempersulit perjalanan pasukan Salib.
Shalahuddin kemudian mengirimkan pemanah-pemanah jitu untuk mengikuti pasukan Salib dari kejauhan. Para pemanah tersebut bertugas untuk mengincar tentara-tentara yang terpisah sendirian. Perang Hittin berlangsung selama tiga bulan dan selama itu pula Shalahuddin terus mengusahakan strategi terbaik untuk menaklukkan Baitul Maqdis. Impian tersebut akhirnya terwujud pada 2 Oktober 1187 M, ketika Shalahuddin dan pasukan Islam berhasil memukul mundur pasukan Salib dari Baitul Maqdis dengan strategi cemerlangnya.
Sebagian besar Kerajaan Latin Al-Quds (Yerusalem) jatuh ke tangan Dinasti Ayyubiyah pada 1187 M atau tidak lama setelahnya. Setelah menaklukkan al-Quds (Yerusalem), perlawanan pasukan Shalahuddin merambah ke benteng Tentara Salib di Akka (Acre), juga wilayah Nazareth, Saffuriyah, Haifa, Arsuf, Caesarea, Sabastiyah (Sebastia), Jaffa, al-Ramla, Gaza, Beit Jibrin, dan ‘Asqalan.
Berbanding terbalik dengan pasukan Salib yang menaklukkan Baitul Maqdis dengan kekejian, Shalahuddin al-Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis dengan adab yang terpuji, tanpa menyakiti satu pun penduduk, baik Muslim maupun non-Muslim. Sejak saat itu, Masjid al-Aqsa kembali ke fungsi semulanya. Lantunan azan kembali berkumandang di tanah suci, setelah 88 tahun berada di bawah jajahan pasukan Salib.
Palestina di Masa Dinasti Ayyubiyah

Di bawah pemerintahan Dinasti Ayyubiyah, al-Quds secara permanen menggantikan al-Ramla sebagai ibu kota politik, administratif, dan budaya Palestina serta ibu kota keagamaan seluruh wilayah pemerintahan Ayyubiyah. Pemisahan antara ibu kota administratif dan religius Palestina ini dihentikan di bawah kekuasaan Ayyubiyah. Kemudian, pemerintahan Mamluk, Ottoman, dan Inggris selanjutnya terus mengikuti tradisi Ayyubiyah ini. Status al-Quds (Yerusalem) sebagai kota utama dan ibu kota Palestina berlangsung selama tujuh abad berikutnya.
Hal terpenting yang Shalahuddin lakukan setelah menaklukkan Baitul Maqdis adalah meluruskan akidah. Shalahuddin meruntuhkan tempat-tempat maksiat dan kemusyrikan di seluruh penjuru kota, serta menetapkan hukuman bagi siapa pun yang menyebarkan kesesatan. Shalahuddin juga melakukan pembaharuan dan pengembangan di sistem pendidikan, dengan mendirikan madrasah, universitas, serta mendatangkan ulama dan guru profesional dari berbagai bidang. Salah satu universitas di Baitul Maqdis yang dibangun oleh Shalahuddin adalah Universitas Al-Quds yang berdiri pada 1187 M (583 H).
Ketika itu Shalahuddin menetapkan peraturan, di antaranya adalah anak-anak harus belajar tata cara salat berjemaah dan adab-adab berdoa sejak mereka masih kecil. Anak-anak menjelang usia remaja kemudian disediakan madrasah untuk mempelajari ilmu-ilmu Al-Qur’an, menghafal hadis, menulis khat Arab, dan memperdalam ilmu agama. Ketika memasuki usia remaja, anak-anak diajarkan matematika, syair, esai, hukum, dan disertai dengan nasihat-nasihat. Saat anak-anak telah cukup besar untuk melanjutkan pendidikan, Shalahuddin mengizinkan mereka untuk menuntut ilmu di negeri-negeri yang jauh, baik itu di Syam, Mosul, Baghdad, bahkan di Kota Suci Makkah Al-Mukarramah.
Dinasti Ayyubiyah mengantarkan era baru aktivitas intelektual dan kemakmuran ekonomi di Palestina dan di semua wilayah yang mereka kuasai. Meskipun madrasah (sekolah) Islam telah ada di al-Quds sejak periode awal Islam, namun madrasah-madrasah paling awal yang ada di al-Quds setelah periode Salib, dibangun oleh Dinasti Ayyubiyah. Madrasah dan dukungan yang diberikan oleh Dinasti Ayyubiyah menyebabkan kebangkitan kembali aktivitas pendidikan, komersial, arsitektur, dan seni tidak hanya di al-Quds tetapi juga di pusat-pusat kota lain di Palestina. Sejumlah besar ribat (tempat istirahat bagi musafir Muslim) juga dibangun selama periode Ayyubiyah dan Mamluk yang berkuasa setelahnya.
Selain memperbaiki sistem pendidikan, Shalahuddin juga menerapkan pentingnya pendidikan akhlak dengan cara memberikan teladan kepada penduduknya. Sebagai pemimpin, keseharian beliau sangat sederhana, jauh berbanding terbalik dengan penguasa Eropa yang sebelumnya menjajah Baitul Maqdis dan hidup dalam kemewahan tetapi tidak peduli pada rakyatnya. Shalahuddin memiliki tujuan untuk menghapuskan budaya hedonisme tersebut, dan menegakkan kembali pola hidup terpuji yang sesuai dengan ajaran Islam.
Shalahuddin adalah pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Beliau senantiasa mengambil kebijakan yang tidak memberatkan rakyatnya, salah satunya adalah menghapuskan pajak yang membebani rakyat. Shalahuddin juga menggunakan uang negara sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyatnya, seperti untuk membangun benteng pertahanan, pengadaan bahan pangan, dan membangun sistem irigasi yang baik. Tidak heran jika Baitul Maqdis menjadi kota yang sangat berkembang dalam berbagai aspek pada masa kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
Hitti, P. K. (2002). History of The Arabs. Palgrave Macmillan.
Masalha, N. (2023). Palestine: A Four Thousand Year History. Bloomsbury Academic.







![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)