Pada tahun-tahun terakhir kekhalifahan Umayyah, terjadi pemberontakan suku yang berkepanjangan di Palestina. Sebelumnya, Palestina juga telah menghadapi kesulitan dan penderitaan akibat gempa bumi yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 749 M. Di samping itu, wabah penyakit pes menyebar secara berkala, yang paling parah terjadi antara pertengahan abad keenam dan pertengahan abad kedelapan. Berbagai tantangan yang muncul pada masa itu membuat kekuasaan Umayyah berpindah ke tangan Dinasti Abbasiyah pada tahun 750 M, tanpa adanya pertempuran besar maupun pengepungan yang panjang.
Ketika Dinasti Abbasiyah memegang tampuk kekhalifahan, pada 762 M mereka memindahkan pusat pemerintahan ke Irak, tepatnya di Baghdad. Di dalam jurnal yang ditulis oleh Robert Schick, ia menyebutkan bahwa para peneliti berpendapat bahwa perpindahan pusat kekhalifahan dari Suriah ke Irak menyebabkan penurunan ekonomi yang cepat dan penurunan populasi, terutama di kota-kota di Palestina, karena Palestina kini menjadi daerah terpencil.
Schick lebih lanjut menyebutkan bahwa pergeseran pusat kekhalifahan Islam ke Irak dan Baghdad jelas mengurangi pentingnya peran Palestina dalam kekhalifahan. Hanya beberapa khalifah Abbasiyah pertama yang pernah mengunjungi Palestina, di antaranya al-Mansur pada tahun 758 dan 771, al-Mahdi pada tahun 780, dan al-Mamun pada tahun 831 M.
Perubahan dan Pergolakan Selama Masa Kekhalifahan Abbasiyah

Pada masa kekhalifahan Abbasiyah, dukungan langsung kekhalifahan untuk proyek pembangunan di Palestina sempat terhenti. Ketika mengunjungi Al-Quds (Yerusalem), salah satu Khalifah Abbasiyah yaitu al-Mansur berdalih bahwa ia menghadapi kendala kekurangan dukungan dana untuk memperbaiki Masjid al-Aqsa di Al-Quds (Yerusalem). Namun, di sisi lain, ia mengeluarkan banyak biaya untuk pembangunan kota Baghdad, yang dimulai pada tahun 762 M.
Namun, bukan berarti kekhalifahan Abbasiyah tidak melakukan pembangunan sama sekali di Palestina. Di antara sedikit proyek bergengsi yang dikerjakan oleh Khalifah Abbasiyah di Palestina adalah pembangunan menara dan masjid di Asqalan pada tahun 771–772 oleh calon khalifah pada masa itu, yaitu al-Mahdi.
Pada masa kekuasaannya, pemerintah pusat Abbasiyah sempat kehilangan kemampuan untuk mengendalikan wilayah mereka secara efektif. Akibatnya, hal tersebut menyebabkan kerusakan umum dalam aspek keamanan, yang dimanifestasikan dalam bentuk pemberontakan dan konflik suku pada akhir abad kedelapan.
Selama terjadinya perang saudara sejak tahun 809 hingga 813 M antara penerus Khalifah Harun al-Rashid, situasi politik semakin memburuk. Pergolakan tersebut juga telah memengaruhi Palestina, seperti di kota-kota lain yang berada di bawah kekuasaan kekhalifahan Abbasiyah. Schick menyebutkan bahwa terjadi penjarahan berulang kali terhadap biara-biara di Gurun Yudea. Kemudian, lebih banyak pemberontakan suku atau petani muncul dalam catatan peristiwa sejarah pada pertengahan abad kesembilan, dan salah satu yang terbesar terjadi pada tahun 841 M.
Ketika Ahmad ibn Thulun, penguasa semi-independen di Mesir sejak 873 M, mengambil alih Palestina pada 878 M, wilayah tersebut lepas dari kendali langsung kekhalifahan Abbasiyah dan jatuh ke kekuasaan Dinasti Thuluniyah. Perubahan ini memiliki beberapa efek jangka panjang, di antaranya membuat Palestina lebih dekat ke pemerintah pusat di Mesir.
Dinasti Thuluniyah mendirikan negara politik di Mesir yang independen dari kekhalifahan Abbasiyah di Irak. Mereka kemudian menjadikan Palestina sebagai wilayah perbatasan antara kedua pusat pemerintahan ini. Sebelumnya, Palestina telah mengalami berbagai konflik antarsuku dan pemberontakan terhadap pemerintah pusat. Akan tetapi, situasi menjadi semakin parah sebab sejak jatuh ke tangan Thuluniyah, Palestina menjadi arena peperangan berkala antara negara-negara kuat, dengan tingkat kehancuran yang semakin meningkat.
Kekuasaan Dinasti Thuluniyah kemudian runtuh setelah serangan-serangan yang terjadi sekitar tahun 900 dan 906 M. Kaum Qarmatian, kelompok Syiah ekstremis yang didukung oleh beberapa suku Arab di Suriah, memimpin serangan-serangan ini, dan menjarah Tiberias dan sejumlah lokasi lainnya pada tahun 906 M. Setelah serangan-serangan Qarmatian tersebut, Palestina sekali lagi berada di bawah kendali kekhalifahan Abbasiyah hingga tahun 935 M. Namun, kondisi terus memburuk karena serangan-serangan Qarmatian masih terus berlangsung.

Pada 931 M, Muhammad ibn Tughj yang merupakan Gubernur Palestina sejak 928 M, diangkat menjadi Gubernur Damaskus. Setelah itu, pada 935 M, ia mengambil alih kekuasaan di Mesir dan menjadi penguasa independen, seperti halnya Ibn Thulun pada abad sebelumnya.
Muhammad ibn Tughj, yang dikenal dengan gelarnya sebagai Ikhshid, dan para penerusnya dari Dinasti Ikhshid kemudian menguasai Palestina antara tahun 935 M dan 969 M. Selama masa ini, Palestina kembali menjadi medan pertempuran antara Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Ikhshidiyah.
Meski terjadi banyak pertempuran, baik Abbasiyah maupun Ikhsidiyah, meninggalkan sejumlah jejak yang menjadi peninggalan bersejarah. Misalnya masjid yang terletak di situs Nabi Yaqin yang terletak di sebelah tenggara Al-Khalil (Hebron). Namun, serangan-serangan Qarmatian yang terus berlangsung menandai tahun-tahun terakhir pemerintahan Dinasti Ikhshidiyah, sehingga memudahkan pengambilalihan kekuasaan oleh Dinasti Fatimiyah,
Penemuan Koin Emas Peninggalan Kekhalifahan Abbasiyah

Jika dinasti-dinasti sebelumnya meninggalkan jejak berupa bangunan atau arsitektur yang khas, Dinasti Abbasiyah sedikit berbeda. Meski pada masa kekhalifahan Abbasiyah juga terdapat beberapa pembangunan, namun peninggalan yang masih bertahan hingga periode modern ini hadir dalam bentuk koin emas.
Pada tahun 2020, kelompok pemuda yang menjadi sukarelawan di lokasi penggalian arkeologi di Israel tengah menemukan 425 koin emas yang terkubur di dalam guci tanah liat selama 1.100 tahun. Harta karun itu ditemukan oleh sekelompok anak muda yang melakukan kerja sukarela menjelang wajib militer mereka.
Sebagian besar uang koin tersebut diyakini berasal dari periode Islam awal, ketika wilayah tersebut menjadi bagian dari kekhalifahan Abbasiyah. Otoritas Purbakala Israel (IAA) tidak menyebutkan lokasi pasti tempat emas itu ditemukan.

Direktur penggalian, Liat Nadav-Ziv dan Dr. Elie Haddad, mengasumsikan bahwa siapa pun yang mengubur koin-koin itu pasti berharap dapat mengambil kembali harta karun tersebut. “Orang yang mengubur harta karun ini 1.100 tahun yang lalu pasti berharap untuk mengambilnya kembali. Ia bahkan mengamankan bejana itu dengan paku agar tidak bergerak,” terang mereka.
Mereka juga menyebutkan bahwa temuan itu dapat menjadi petunjuk mengenai perdagangan internasional yang dilakukan oleh penduduk daerah tersebut pada masa lalu. Namun, siapa pemilik harta karun itu, siapa yang menguburnya, dan mengapa mereka tidak pernah kembali untuk mengambilnya, hingga kini masih belum diketahui.
“Menemukan koin emas, apalagi dalam jumlah yang begitu banyak, sangatlah langka. Kita hampir tidak pernah menemukannya dalam penggalian arkeologi, mengingat emas selalu sangat berharga, dilebur dan digunakan kembali dari generasi ke generasi,” kata para direktur tersebut dalam sebuah pernyataan.
“Koin-koin tersebut, yang terbuat dari emas murni yang tidak teroksidasi di udara, ditemukan dalam kondisi sangat baik, seolah-olah dikubur sehari sebelumnya. Penemuan ini mungkin menunjukkan bahwa perdagangan internasional telah terjadi antara penduduk daerah tersebut dan daerah-daerah terpencil,” bunyi pernyataan tersebut.

Dr. Robert Kool, seorang ahli koin di IAA, mengatakan bahwa total berat koin emas tersebut adalah sekitar 845 gram emas murni. Jumlah tersebut merupakan nominal yang cukup besar pada akhir abad ke-9.
“Sebagai contoh, dengan jumlah uang sebanyak itu, seseorang dapat membeli rumah mewah di salah satu lingkungan terbaik di Fustat, ibu kota pertama Mesir yang sangat kaya pada masa itu,” kata Kool. Ia seraya mencatat bahwa pada saat itu, Fustat merupakan bagian dari Kekhalifahan Abbasiyah, yang membentang dari Persia hingga Afrika Utara, dengan pusat pemerintahan di Baghdad.
“Harta karun itu terdiri dari dinar emas utuh, tetapi juga — yang tidak biasa — berisi sekitar 270 potongan emas kecil, yaitu potongan dinar emas yang dipotong untuk dijadikan uang receh,” kata Kool.
Dia menambahkan bahwa salah satu potongan tersebut sangat langka dan belum pernah ditemukan sebelumnya dalam penggalian di Israel. Potongan tersebut merupakan sebuah fragmen solidus emas kaisar Bizantium Theophilos (829 – 842 M), yang dicetak di ibu kota kekaisaran Bizantium, yakni Konstantinopel. Menurut IAA, keberadaan fragmen tersebut dalam kumpulan koin Islam berfungsi sebagai bukti adanya hubungan antara kedua kekuatan dunia yang saling bersaing pada masa itu.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.Sumber:
Hitti, P. K. (2002). History of The Arabs. Palgrave Macmillan.
Masalha, N. (2023). Palestine: A Four Thousand Year History. Bloomsbury Academic.








