Tragedi kemanusiaan di Gaza kembali mencatatkan kisah pilu. Jenazah seorang warga baru dapat dimakamkan setelah tertahan selama sembilan hari di dekat kawasan pembatas Yellow Line akibat ketatnya blokade militer Israel.
Kisah ini menimpa Muhammed Abu Khammash (29), seorang ayah tiga anak dengan gangguan mental yang kondisinya memburuk sejak agresi yang berlanjut. Ia terbunuh akibat serangan Israel setelah meninggalkan tenda pengungsian menuju kawasan tersebut.
Baca juga: “Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan”
“Palestina dalam Kebutaan Dunia: Di Tengah Eskalasi Regional, Tepi Barat dan Gaza Menghadapi Teror Tanpa Akhir”
Sang ayah, Oda Abu Khammash, mengalami kesulitan untuk mengevakuasi jasad putranya. Di tengah keputusasaan, sang ibu nekat berjalan kaki membawa bendera putih dan bertahan selama beberapa hari meski Israel mengancamnya dengan tembakan drone.
Evakuasi baru terlaksana pada hari kesembilan. Keluarga mendapati jenazah telah mengalami pembusukan. Hal ini mencerminkan betapa sulitnya warga Gaza mendapatkan hak dasar untuk memakamkan kerabat secara layak.
Menurut Oda Abu Khammash, perjuangan untuk mengevakuasi jenazah putranya terasa lebih berat daripada menerima kabar kematian putranya.
Baca juga: “Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan”
“Hari Pengungsi Sedunia dan Penderitaan Pengungsi Palestina yang Tenggelam dalam Gejolak Timur Tengah“
Sumber: MEE








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)