Ketika liburan panjang hampir usai, banyak rumah mulai sibuk bersiap. Ada tas sekolah yang dicari di sudut lemari, seragam yang disetrika, dan buku yang dihitung ulang. Anak-anak pun sibuk menebak siapa yang akan duduk sebangku dengan mereka tahun ini.
Di kamp-kamp pengungsian Lebanon dan Suriah, persiapan serupa berlangsung di tengah kehidupan yang tidak pernah sepenuhnya seperti biasanya. Di Lebanon, dua belas kamp pengungsi Palestina baru saja melewati tahun yang berat. Sejak Maret, situasi keamanan yang kian memanas memaksa banyak keluarga berpindah tempat, dan sebagian tinggal di penampungan darurat. Sejak gencatan senjata bersyarat pada 3 Juni, keadaan pelan-pelan mereda. UNRWA menyebut situasinya kini relatif stabil, tetapi tetap rapuh. Di sana, lebih dari 80 persen pengungsi hidup di bawah garis kemiskinan (UNRWA). Adapun di Suriah, 92 persen pengungsi Palestina menghadapi kerawanan pangan, dan kamp-kamp yang menjadi rumah bagi sepertiga dari mereka, seperti Yarmouk, Ein el Tal, dan Deraa, masih rusak parah (UNRWA).
Namun, anak-anak tidak membaca laporan. Mereka menghitung sisa hari libur dan menyiapkan tas mereka. Dan tas anak-anak dari Program Hidupkan Ahlul Qur’an (HAQ) ini membawa satu sisi lagi yang tidak terlihat oleh mata: ayat-ayat Al-Qur’an yang telah mereka simpan di dada.
Bagaimana mereka menutup liburan panjang ini, di tengah kenyataan sekeras itu? Dan kabar apa yang dibawa oleh peserta program HAQ yang ikut serta dalam perayaan hafalan “Sardul Qur’an”, yaitu kegiatan rutin sebagai seorang penghafal Qur’an dalam menyetorkan hafalannya? Semuanya bermula dari sebuah hari penutup di markaz, ketika para penghafal muda saling berjanji.
Janji di Ujung Musim Panas
Seperti biasa, markaz-markaz Al-Qur’an menutup kegiatan musim panas dengan sebuah seremoni. Seluruh siswa berkumpul dalam kegiatan pendidikan untuk memperkuat apa yang telah mereka pelajari, lalu bersama-sama menikmati kegiatan rekreasi yang seru dan bermanfaat.
Di sela tawa dan permainan itu, ikatan persahabatan antarsiswa makin erat. Bagi anak-anak yang sehari-hari tumbuh di lorong-lorong kamp yang sempit, momen berkumpul seperti ini adalah hadiah tersendiri.
Di penghujung acara, para siswa didorong untuk terus berkomitmen pada halaqah hafalan. Mereka berjanji akan menghafal dan meningkatkan hafalan begitu tahun ajaran baru dimulai. Sebuah janji sederhana yang, insya Allah, akan mereka tepati dari hari ke hari.
Lamis dan Lana di Panggung Sardul Qur’an
Ada satu kabar yang membuat tim lapangan tersenyum lebar. Dua anak Program HAQ, Lamis Al-Naji dan adik perempuannya, Lana Al-Naji, ikut serta dalam program Sardul Qur’an yang didukung oleh Adara. Lana bahkan menjadi peserta termuda dalam program ini.
Bagi tim lapangan, kabar ini adalah buah dari program yang merangkul dan memelihara para penghafal, sejak setoran pertama hingga mereka menuntaskan hafalan dan mampu membacakan seluruh Al-Qur’an. Dia menjadi bukti paling jelas dari tulusnya niat melestarikan Al-Qur’an, sekaligus cermin dari dampak dukungan Sahabat Adara dalam menopang dan melayani kitab Allah.
Gadis mungil yang akrab dipanggil dengan “Lana” mengungkapkan melalui surat cintanya untuk orang tua asuhnya di Indonesia. Dia mengungkapkan dengan penuh rasa syukur, seperti anak yang ingin memberi kabar baik kepada keluarga yang jauh. Isinya tentang dua hal yang kini menjadi dunianya, sekolah dan Al-Qur’an:
“Orang tua asuhku yang mulia, aku ingin menyampaikan keadaan pendidikanku di sekolah. Alhamdulillah, aku telah menyelesaikan ujianku dan mendapatkan nilai yang tinggi dan sempurna. Sebagaimana aku juga menjaga hafalan Al-Qur’anku terus-menerus. Aku mengucapkan kepada kalian terima kasih yang sebesar-besarnya atas apa yang kalian berikan berupa bantuan dan perhatian. Semoga kalian selalu dalam keadaan sehat dan baik.”
Ungkapan yang tidak panjang, tetapi kabarnya lengkap: ujian sekolah selesai dengan nilai tinggi, hafalan tetap dijaga, dan ucapan terima kasih untuk orang-orang yang bahkan belum pernah ia temui. Di antara semua yang ia tulis, kata “terus-menerus” saat bercerita tentang hafalan terasa paling bermakna. Bagi seorang penghafal belia, menjaga ayat-ayat Allah memang bukan pekerjaan sekali jadi, melainkan ketekunan yang dijalani setiap hari.
Lebanon: Tenang yang Masih Rapuh
Di Lebanon, tanda-tanda pulih terlihat dari angka. Menurut Kementerian Sosial Lebanon yang dikutip UNRWA, jumlah warga yang tinggal di penampungan turun dari 134.534 orang pada 10 Juni menjadi 33.343 orang pada 8 Juli. Air dan layanan sampah tetap berjalan di ke-12 kamp pengungsi Palestina, dan peserta pelatihan UNRWA di Siblin bersiap menghadapi ujian resmi yang dimulai 22 Agustus 2026.
Di tengah situasi yang bisa berubah kapan saja, markaz tetap menjadi tempat yang bisa diandalkan. Anak-anak tahu ke mana harus melangkah setiap pagi.
Suriah: Hafalan yang Tak Padam
Dari Suriah, kabarnya datang dengan nada yang lebih hati-hati, namun tetap menguatkan. Para siswa dan pembimbing berupaya semaksimal mungkin menjalankan kelompok hafalan dan mendukung siswa yang dikafalahi, meski menghadapi banyak kesulitan dan hambatan akibat serangan. Alhamdulillah, para siswa terus didukung untuk melanjutkan program. Seperti murid-murid lain, mereka bersiap kembali ke sekolah, sementara para guru menyusun strategi agar hafalan Al-Qur’an dan studi akademik bisa berjalan beriringan.
Harapan pun tumbuh pelan-pelan di sana. Pada April 2026, UNRWA meluncurkan proyek senilai 2 juta euro untuk memulihkan sekolah dan layanan bagi keluarga yang kembali ke Yarmouk. Di atas latar seperti itulah, keputusan sebuah keluarga untuk tetap mengantar anaknya ke halaqah, dan tekad sang anak untuk terus menghafal, menjadi ketangguhan yang luar biasa.
Amanah yang Terus Mengalir
Di sinilah peran Sahabat Adara menjadi nyata. Bulan Agustus 2026, dana bulanan dari Sahabat Adara telah tersalurkan kepada 517 anak asuh yang tersebar di pengungsian Lebanon dan Suriah. Setiap bantuan itu tidak sekadar membiayai sebuah kelas. Ia menjaga agar hubungan seorang anak dengan Al-Qur’an tetap tersambung, agar hafalannya tidak terhenti di tengah jalan, dan agar ia memiliki tempat yang aman untuk pulang setiap harinya.
Menjelang tahun ajaran baru, anak-anak ini melangkah kembali ke kelas dengan hafalan yang bertambah dan hati yang lebih teguh. Setiap ayat yang tersimpan di dada mereka adalah sedekah jariyah yang mengalir bagi setiap tangan yang menopangnya, sebuah amanah yang, insya Allah, tidak akan terputus.
Baca selengkapnya kabar anak asuh program HAQ bulan Juli: Hafalan yang Terus Tumbuh: Kabar Para Penghafal Palestina dari Lebanon dan Suriah








