Di sebuah sudut tenda pengungsian di Gaza, seorang gadis kecil bernama Elena masih sering menyebut nama ayahnya. Salah satu anak asuh program Dekap Yatim Palestina (DYP) ini belum genap lima tahun, terlalu kecil untuk memahami mengapa lengan yang dulu selalu terbuka untuknya kini tidak lagi ada. Namun, setiap kali rasa takut datang, dia tetap mencari sosok itu—di setiap sudut, di setiap suara, di setiap bayang yang berlalu. Rindu telah menjadi teman setianya, dan dia belum tahu bahwa rindu itu tidak akan pernah usai.
Hingga akhir Agustus ini, saat penyaluran uang saku bulanan dari Sahabat Adara yang menjadi orang tua asuh mereka melalui Program DYP didistribusikan, kondisi anak-anak yatim di Gaza masih jauh dari kata stabil. Mereka hidup berpindah-pindah, berlindung di kamp-kamp pengungsian yang sesak atau bangunan rusak yang rawan runtuh. Sampai saat ini pun agresi terus berlanjut di berbagai penjuru Jalur Gaza, dan menjelang akhir bulan, ketegangan itu kembali menguat. Bagi anak-anak yang telah kehilangan begitu banyak, setiap gejolak baru berarti rasa aman yang kembali terenggut.
Ketika Sepiring Makanan Menjadi Perjuangan
Di Gaza hari ini, pertanyaan paling sederhana pun terasa berat: apa yang akan dimakan hari ini? Bagi anak-anak yatim yang keluarganya telah kehilangan pencari nafkah, pertanyaan itu menggantung setiap pagi tanpa jawaban yang pasti.
Dapur-dapur umum yang selama ini menjadi tumpuan keluarga pengungsi kini beroperasi tersendat. Jumlah makanan harian yang diproduksi di dapur umum di Gaza anjlok dari sekitar 1,5 juta porsi melalui 165 dapur pada pertengahan Maret, menjadi hanya sekitar 698.000 porsi lewat 102 dapur pada Juli—turun drastis akibat kelangkaan pendanaan dan melonjaknya biaya operasional. Bahkan, ketika bahan makanan tersedia di pasar, harganya kerap tak terjangkau (Al Jazeera, September 2026). Program Pangan Dunia (WFP) mencatat sekitar 77 persen keluarga di Gaza kesulitan memperoleh sayur, buah, dan protein segar karena harganya yang mahal.
Kesulitan ini diperberat oleh krisis yang lebih mendasar lagi. Pada awal Juli, sembilan dari sepuluh penduduk Gaza mengalami kerawanan air tingkat sedang hingga tinggi, meningkat dari 84 persen pada bulan sebelumnya. Maka, keseharian anak-anak yatim Gaza pun tersita untuk hal-hal yang paling dasar—mengantre air bersih, berebut memperoleh makanan, dan bertahan di tenda yang mulai rapuh. Masa kanak-kanak yang seharusnya diisi dengan belajar dan bermain, kini habis untuk sekadar menyambung hidup.
Sepotong Kisah yang Terus Berulang di Gaza, Tanah yang Terluka
Di tengah keterbatasan itu, hidup terus berjalan, dan anak-anak terus bertumbuh—masing-masing dengan caranya sendiri memikul kehilangan.
Ada Obaida, seorang penerima manfaat program DYP saat ini, baru menginjak usia 16 tahun ketika tragedi bermula, dan kini menginjak usia 19 tahun. Dahulu, ayahnya kerap duduk bersamanya membicarakan masa depan dan pendidikannya sembari menepuk bahunya seraya berkata, “Obaida, kau adalah kekuatan dan penopangku.” Ketika sang ayah, Asim, direnggut oleh agresi, Obaida mendadak harus memikul tanggung jawab yang jauh melampaui usianya.
“Aku tumbuh dewasa bertahun-tahun hanya dalam satu malam,” tutur Obaida dalam laporan dari Tim Lapangan Adara.
Namun demikian, Obaida menolak menyerah. Sang ayah, katanya, tidak pernah mengajarinya menjadi lemah, melainkan mewariskan keberanian dan rasa tanggung jawab. Kini, dia bertekad membawa nama ayahnya dengan bangga dan meraih masa depan yang dahulu diimpikan untuknya.
Adapula seorang anak yatim lainnya, Elena, gadis kecil yang menjadi sumber kebahagiaan dan sukacita luar biasa bagi ayahnya. Sementara Obaida telah cukup dewasa untuk mengubah dukanya menjadi keteguhan, Elena masih terlalu mungil untuk memahami apa yang direnggut darinya: kehilangan. Sang ibu berusaha menjawab setiap pertanyaannya sebisa mungkin, menceritakan betapa dalam sang ayah mencintai gadis mungilnya itu, dan menjaga kenangan itu tetap hidup di hatinya—agar kelak, ketika Elena cukup besar untuk mengerti, dia tumbuh dengan keyakinan bahwa dia pernah begitu dicintai.
Di antara Elena yang masih mencari dan Obaida yang telah bangkit, terbentang ribuan kisah anak yatim Gaza lainnya. Wajah mereka berbeda, usia mereka beragam, tetapi ada satu benang merah yang menyatukan: mereka semua kehilangan sosok yang seharusnya menjadi pelindung dan penopang hidup mereka.
Kondisi Anak Asuh DYP di Setiap Wilayah
Sepanjang periode ini, program Dekap Yatim Palestina (DYP) telah mendampingi setidaknya 1.885 anak yatim yang tersebar di sepuluh wilayah Gaza, dari Jabalia di utara hingga Rafah di selatan. Berikut gambaran kondisi mereka di setiap wilayah;
| WIlayah | Jumlah Anak Asuh | Gambaran Umum Kondisi Anak Asuh |
| Deir al-Balah | 390 | Banyak keluarga sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan. Hunian sementara yang padat, keterbatasan air bersih, sanitasi, dan pangan terus memengaruhi keseharian anak. Tampak tanda-tanda tekanan emosional akibat pengungsian dan kehilangan berkepanjangan. |
| Kota Gaza | 360 | Anak-anak menghadapi dampak berat kerusakan yang meluas. Infrastruktur air, sanitasi, kesehatan, dan pendidikan rusak. Kesejahteraan psikologis menjadi perhatian utama — banyak anak diliputi kesedihan, ketakutan, dan rasa tidak aman. |
| Khan Younis | 230 | Keluarga menghadapi kelangkaan kebutuhan pokok dan bergantung pada bantuan. Kerusakan infrastruktur membatasi akses ke hunian layak, air bersih, dan kesehatan. Dukungan psikososial dan ruang aman menjadi prioritas. |
| Rafah | 211 | Keluarga di hunian sementara rentan terhadap kepadatan dan kelangkaan kebutuhan dasar. Akses air bersih, sanitasi, kesehatan, dan pangan bergizi masih menjadi persoalan penting. Anak-anak membutuhkan perlindungan dan dukungan psikososial. |
| Gaza Utara | 48 | Kerusakan infrastruktur yang parah membatasi akses ke layanan dasar. Pendidikan anak sangat terganggu, dan tekanan psikologis memengaruhi kemampuan mereka berkonsentrasi serta menjalani aktivitas normal. |
| Jabalia | 310 | Kerusakan rumah dan infrastruktur membuat keluarga bergantung pada hunian sementara. Anak-anak menghadapi kelangkaan pangan, air bersih, dan pakaian layak, disertai ketakutan dan ketidakpastian. |
| Beit Lahia | 21 | Keluarga rentan terhadap kelangkaan pangan, air, dan obat-obatan. Pendidikan anak terganggu dengan kesempatan terbatas untuk belajar terstruktur, meningkatkan kerentanan psikologis dan emosional. |
| Nuseirat | 144 | Keluarga menghadapi kesulitan ekonomi dan hunian yang padat. Anak-anak mengalami gangguan pendidikan dan keterbatasan aktivitas masa kanak-kanak yang normal. Dukungan psikologis tetap penting. |
| Beit Hanoun | 36 | Kerusakan parah pada rumah dan infrastruktur memengaruhi kemampuan keluarga menyediakan lingkungan yang aman. Anak-anak sangat rentan; pangan, air, kesehatan, tempat tinggal, dan dukungan psikososial menjadi kebutuhan utama. |
| Al-Maghazi | 152 | Kondisi sosial-ekonomi yang sulit dan mahalnya kebutuhan pokok menambah tekanan bagi pengasuh. Pendidikan anak terganggu, dan dampak psikologis dari duka serta pengungsian tetap terlihat nyata. |
Di Balik Agresi yang Berlangsung, Ada Amanah yang Terus Dijaga
Di balik setiap santunan yang sampai ke tangan anak-anak, ada tim lapangan yang menempuh jalan yang tak mudah. Menjangkau keluarga penerima manfaat di tengah kerusakan infrastruktur, keterbatasan mobilitas, dan situasi keamanan yang belum sepenuhnya pulih menuntut kesabaran dan ketelitian tersendiri. Namun bagi mereka, memastikan amanah Sahabat Adara sampai ke anak yang tepat adalah tanggung jawab yang tak boleh tertunda.
“Kami hadir dalam setiap proses pemberian bantuan bagi anak-anak yatim, dan ini merupakan sebuah bentuk keniscayaan kemanusiaan yang mendesak, terutama di tengah dampak agresi yang membuat anak-anak Gaza mengalami kehilangan sang ayah tercinta. Hal ini berdampak pada memburuknya kondisi kehidupan, psikologis, dan pendidikan anak-anak,” ungkap Bassel sebagai tim lapangan Adara dalam pendistribusian bantuan Program DYP.
Pernyataan ini seperti menjadi pengingat bahwa penyaluran bukan sekadar urusan angka dan logistik, melainkan pertemuan antara kepedulian yang dititipkan dari Indonesia dan harapan yang dijaga di tanah Gaza. Melalui tangan-tangan yang amanah inilah, setiap kebaikan menemukan jalannya untuk sampai.
Harapan yang Dititipkan pada Kita
Mereka bukanlah sekadar angka. Di balik setiap nama dalam daftar penerima manfaat, ada seorang anak dengan rindu yang belum usai — pada sosok ayah, pada rumah yang hangat, pada masa kecil yang direnggut terlalu cepat. Mereka tidak meminta banyak: hanya sepiring makanan, seteguk air bersih, kesempatan untuk belajar, dan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian.
Terima kasih untuk seluruh Sahabat Adara. Bantuan yang telah diberikan turut meringankan tangan-tangan kecil yatim yang sedang memikul beban hidup mereka di tanah kelahiran. Di balik mata yang menyimpan begitu banyak kehilangan, masih ada harapan yang dijaga agar tetap menyala — dan harapan itu, hari ini, sebagian dititipkan pada kita. Semoga setiap kebaikan yang mengalir menjadi sedekah jariyah yang tak terputus, dan semoga anak-anak yatim Palestina senantiasa berada dalam lindungan-Nya, hingga tiba hari ketika mereka dapat kembali tersenyum tanpa beban di hati.
Baca kabar anak asuh bulan Juli: Hati yang Tetap Memberi di Tengah Remuknya Kehilangan – Laporan Program Dekap Yatim Palestina Bulan Juli








