Dalam menghadapi gempuran genosida Israel, perempuan-perempuan Gaza telah bangkit dan melawan, masing-masing dengan caranya sendiri. Para jurnalis perempuan, khususnya, telah menunjukkan kepahlawanan sejati. Mereka mengambil tugas berbahaya untuk meliput genosida, untuk menjadi saksi dan mendokumentasikan kekejaman.
Kamera, buku catatan, dan telepon mereka telah menjadi alat. Bukan hanya untuk bercerita, tetapi juga untuk bertahan hidup dan menyimpan memori. Atas keberanian mereka, para jurnalis perempuan Gaza telah membayar harga yang mahal. Lebih dari 20 dari 270 jurnalis dan pekerja media yang Israel bunuh adalah perempuan.
Di antara mereka adalah Mariam Abu Daqqa. Ia menjadi sasaran tentara Israel bersama jurnalis lain di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis di Jalur Gaza selatan pada bulan Agustus 2025. Dia bekerja sebagai koresponden lapangan selama bertahun-tahun, mendokumentasikan penderitaan warga Palestina di bawah pengepungan, dan melaporkan realita genosida tersebut.
Mariam bukan hanya seorang jurnalis pemberani, melainkan juga seorang putri dan ibu yang penyayang. Ketika masih muda, ia mendonorkan salah satu ginjalnya kepada ayahnya yang sedang berjuang melawan penyakit ginjal. Ia sepenuhnya mengabdikan dirinya kepada putranya, Ghaith. Selama genosida, ia membuat keputusan yang menyakitkan untuk mengirim putranya ke luar negeri agar ia aman. Sebelum meninggal, ia menulis pesan yang memilukan kepada putranya: “Ghaith, jantung hatiku, aku ingin kau berdoa untukku, jangan menangisi kematianku.”
Empat bulan sebelum Mariam terbunuh, Israel membunuh seorang fotografer jurnalistik brilian lainnya: Fatima Hassouna.
Baca juga : “Israel Tangkap Kembali Perempuan Jurnalis Palestina yang Dibebaskan“
“Jika aku meninggal, aku menginginkan kematian yang menggemparkan. Aku tidak ingin hanya menjadi berita utama atau sekadar angka di antara banyak orang. Aku menginginkan kematian yang didengar dunia, dampak yang bertahan sepanjang masa, dan gambar-gambar yang tidak dapat dilupakan oleh waktu dan tempat,” tulis Fatima di media sosial sebelum kematiannya.
Sebagai seorang fotojurnalis muda yang berbakat, ia memiliki masa depan yang cerah. Ia juga akan segera menikah dalam beberapa bulan mendatang. Namun, tentara Israel mengebom rumahnya di Gaza utara, membunuhnya bersama enam anggota keluarganya. Ini terjadi hanya sehari setelah pengumuman bahwa film dokumenter tentang dirinya akan diputar di festival film independen di Cannes.
Fatima meninggalkan kita secara tiba-tiba dan terlalu cepat. Namun kepergiannya tidaklah sunyi. Kepergiannya penuh dengan suara lantang, seperti yang ia harapkan. Penayangan film dokumenter tentang dirinya mendapat tepuk tangan meriah di festival tersebut, bersamaan dengan seruan “Bebaskan, bebaskan Palestina!”
Penargetan dan pembunuhan massal terhadap jurnalis Palestina telah menghancurkan mereka yang selamat karena luka psikologis yang mendalam. Para perempuan jurnalis berbicara pelan di antara mereka sendiri tentang rasa takut, sakit, dan kelelahan. Mereka tahu bahwa kematian dapat datang kapan saja dari langit, namun mereka tetap bertahan. Para jurnalis terus meliput serangan yang tidak dapat mereka hindari. Mereka terus meliput genosida yang mereka alami sendiri.
Para jurnalis bekerja dalam kondisi yang membuat jurnalisme menjadi mustahil di tempat lain. Mereka beroperasi di tempat tanpa listrik, hampir tanpa koneksi internet, dan tanpa jalur aman bagi mereka yang mengenakan rompi PRESS.
Namun, bahkan di tengah berbagai rintangan ini, para perempuan jurnalis Gaza terus menulis, merekam, mendokumentasikan, dan menyiarkan berita kepada jutaan orang di seluruh dunia. Pelaporan mereka telah membentuk pemahaman dunia tentang seperti apa kehidupan selama genosida.
Sumber: Al Jazeera








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)