Israel telah menangkap kembali perempuan jurnalis Palestina, Bushra al-Taweel. Penangkapan ini menandai babak baru dalam sejarah penahanannya yang telah berlangsung selama 15 tahun.
Israel menahan Al-Taweel Jumat lalu di pos pemeriksaan militer dekat Ramallah di Tepi Barat bagian tengah. Israel kemudian memindahkannya ke pusat interogasi al-Maskubiya sebelum memindahkannya ke penjara khusus perempuan, menurut sumber setempat.
Penangkapan kembali Al-Taweel terjadi setahun setelah pembebasannya pada Januari 2025. Pembebasannya merupakan bagian dari kesepakatan pertukaran tawanan yang mencakup perempuan tawanan yang ditahan di penjara-penjara Israel.
Penahanan ini terjadi menyusul penangkapan kembali Jamal al-Taweel, ayahnya, yang merupakan seorang tokoh Hamas. Sebelumnya, ia juga telah memperoleh kebebasan karena merupakan bagian dari kesepakatan pertukaran tawanan.
Penargetan Sistematis Terhadap Perempuan Jurnalis Palestina
Al-Taweel lulus pada 2013 dari program Jurnalistik dan Fotografi di Modern College di Ramallah. Ia kemudian bekerja dengan Jaringan Anin al-Qaid, sebuah inisiatif sosial dan media yang didirikan oleh mantan tawanan. Jaringan tersebut memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang hak-hak tawanan. Ia menjabat sebagai juru bicara jaringan tersebut dan membantu menyelenggarakan acara-acara yang berfokus pada advokasi tawanan.
Sebagai pembela hak asasi manusia, al-Taweel telah mendokumentasikan pelanggaran Israel terhadap tawanan Palestina. Di samping itu, ia juga aktif berkampanye untuk mendukung para tawanan dan keluarga mereka.
Sebelumnya, ia telah menghabiskan lebih dari lima tahun di penjara Israel. Penangkapan pertamanya terjadi pada 6 Juli 2011, ketika ia berusia 18 tahun. Saat itu, Israel menjatuhkan hukuman penjara 16 bulan kepada Al-Taweel. Al-Taweel mendapatkan kebebasannya sebagai bagian dari perjanjian pertukaran tawanan “Wafa al-Ahrar” (Kesetiaan Orang Merdeka) pada tahun 2011.
Serikat Jurnalis Palestina (PJS) menyatakan bahwa pada 2025 Israel telah menahan 42 jurnalis Palestina, termasuk delapan perempuan. Tindakan ini melanjutkan pola penargetan sistematis Israel terhadap jurnalis Palestina. Tahun 2025 juga menyaksikan peningkatan tajam dalam penargetan perempuan jurnalis Palestina oleh Israel. Israel melakukan penangkapan, interogasi, dan pengusiran, dengan beberapa di antaranya Israel tangkap kembali setelah pembebasan mereka.
Sumber: Middle East Monitor








