Krisis kemanusiaan di Palestina terus memburuk, baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat, seiring pembatasan bantuan medis dan meningkatnya kekerasan di lapangan. Kondisi ini mengancam sistem kesehatan sekaligus keselamatan warga sipil.
Di Gaza, Doctors Without Borders (MSF) memperingatkan bahwa pembatasan pasokan medis telah menciptakan situasi kritis. Sejak awal 2026, tidak ada suplai medis baru yang masuk, sementara bantuan tertahan di perbatasan. Hampir 50 persen obat untuk penyakit kronis kini sangat terbatas. Hal ini memaksa fasilitas kesehatan membatasi layanan sehingga meningkatkan risiko kematian yang sebenarnya dapat dicegah.
Kekurangan material medis seperti perban dan perlengkapan luka turut memperburuk situasi. Di salah satu rumah sakit lapangan, lebih dari 100 pasien luka membutuhkan perawatan setiap hari, termasuk puluhan korban luka bakar yang membutuhkan perawatan intensif.
Baca juga : “Satu Juta Anak di Gaza Membutuhkan Dukungan Psikologis“
Sementara itu, di Tepi Barat, kekerasan terhadap warga Palestina terus berlanjut. Israel menembak seorang pemuda di wilayah Beit Aula, sementara di Beita, tentara Israel menyerang petugas medis dan menembakkan peluru serta gas air mata ke arah warga. Di Ramallah, pembatasan mobilitas semakin Israel perketat melalui blokade militer.
Serangan pemukim juga terjadi di sejumlah wilayah. Di al-Qusra, Israel memukuli seorang pemuda hingga terluka, sementara properti warga dibakar dan upaya pemadaman terhambat. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan tekanan berlapis yang warga Palestina hadapi, yakni krisis kemanusiaan di Gaza dan eskalasi kekerasan di Tepi Barat.
Tanpa akses bantuan yang memadai dan perlindungan internasional yang efektif, kondisi ini berisiko terus memburuk dan memperdalam penderitaan masyarakat sipil.








