Peringatan Hari Anak Palestina yang jatuh setiap 5 April berlangsung di tengah genosida. Anak-anak, terutama di Jalur Gaza, terus menghadapi dampak perang, pengungsian, kelaparan, dan krisis kesehatan yang kian memburuk.
Dalam dua tahun terakhir, ribuan anak menjadi korban kekerasan, termasuk serangan militer Israel dan aksi pemukim. Lebih dari 19.000 pelajar dilaporkan terbunuh, sementara ribuan lainnya terluka, hilang, atau hidup dengan disabilitas permanen. Sekolah dan fasilitas pendidikan turut menjadi sasaran, mencerminkan masa depan yang terancam.
Di Gaza, situasi anak-anak berada pada titik kritis. Ratusan ribu anak hidup tanpa tempat tinggal layak, menghadapi kelaparan, penyakit, dan pengungsian berulang. Kasus malnutrisi meningkat tajam, terutama pada bayi, di tengah keterbatasan pasokan seperti susu formula dan makanan terapeutik.
Baca juga : “Kehidupan Anak-Anak dengan Autisme di Jalur Gaza“
Tenaga medis melaporkan kondisi yang semakin memburuk. Banyak bayi tidak mendapatkan nutrisi yang cukup akibat blokade dan distribusi bantuan yang sangat terbatas. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kelangsungan hidup dan perkembangan anak-anak.
Secara keseluruhan, lebih dari 21.000 anak dilaporkan terbunuh, puluhan ribu terluka, dan ribuan lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan. Sekitar 18.000 anak terpisah dari keluarga atau hidup tanpa pendamping, sementara banyak yang mengalami disabilitas permanen akibat luka berat.
Di tengah krisis ini, sektor pendidikan berupaya bertahan melalui sekolah daring dan ruang belajar darurat. Keteguhan anak-anak untuk terus belajar di tengah pengungsian menjadi simbol ketahanan di tengah kehancuran. Meski menjadi simbol harapan, tanpa tindakan nyata dari dunia internasional, krisis yang anak-anak Palestina hadapi berisiko terus memburuk dan merampas masa depan mereka.
Sumber: WAFA, Qatar News Agency








