Hamas mengecam perluasan garis kuning yang terus Israel lakukan di Jalur Gaza. Menurut Hamas, perluasan tersebut bertujuan menggagalkan jalur negosiasi dan merusak upaya memperkuat gencatan senjata yang sedang dibahas di Kairo.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan bahwa tentara Israel telah menggeser garis kuning sekitar 300 meter ke arah barat di beberapa wilayah Gaza. Perubahan garis kuning terutama terjadi di lingkungan Al-Tuffah, sebelah timur Kota Gaza.
Garis kuning merupakan batas penarikan pasukan Israel yang tercantum di kesepakatan dalam fase pertama rencana gencatan senjata yang Amerika Serikat mediasi pada Oktober 2025. Namun, Hamas menilai Israel terus melanggar kesepakatan tersebut.
Baca juga : “Israel Batasi Akses ke Gaza Lewat Satu Penyeberangan, PBB Serukan Perhatian atas Krisis Kemanusiaan”
Selain menggeser garis kuning, Israel juga melakukan penembakan dan memaksa warga meninggalkan wilayah yang terdampak. Hamas menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengakui bahwa pasukannya menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza. Bahkan, pihaknya berencana memperluas kontrol hingga 70 persen wilayah.
Di tengah perundingan yang berlangsung di Kairo, Hamas menilai langkah Israel menunjukkan ketidaksediaan untuk menjalankan kesepakatan. Menurut Qassem, tindakan itu bertujuan menggagalkan kemajuan negosiasi sekaligus melayani kepentingan politik dalam negeri Israel.
Meski demikian, Hamas menyatakan para pihak telah mencapai sejumlah pemahaman awal terkait isu-isu yang masih menjadi perselisihan dalam perundingan gencatan senjata.
Sejak gencatan senjata berlaku, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 981 warga Palestina terbunuh dan 3.111 lainnya terluka akibat berbagai pelanggaran yang dilakukan Israel. Selain itu, mayoritas warga masih hidup di tenda dan tempat penampungan sementara setelah kehilangan rumah mereka akibat perang.








