Sebanyak 50 warga Palestina yang terbunuh dalam serangan Israel dan jasadnya baru Tim Pertahanan Sipil temukan di bawah reruntuhan, dimakamkan dalam pemakaman massal di Kota Gaza pada Rabu (20/08)
Para korban berasal dari beberapa keluarga, yakni keluarga al-Sawafiri, al-Batniji, dan Gharbiya. Jasad mereka Tim Pertahanan Sipil temukan dari dalam reruntuhan di sejumlah kawasan. Kawasan tersebut termasuk Tal al-Hawa, Zeitoun, Sabra, Sheikh Radwan, dan Shati, hampir tiga tahun setelah mulainya agresi.
Namun, proses pencarian masih jauh dari selesai. Pertahanan Sipil Gaza memperkirakan sekitar 8.000 warga Palestina masih hilang dan kemungkinan terkubur di bawah bangunan yang runtuh. Tim penyelamat menghadapi keterbatasan alat berat dan saat ini hanya memiliki satu ekskavator.
Baca juga: Israel Akui Bunuh Hind Rajab Setelah Dua Tahun
Menanggapi situasi ini, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, mendesak pengiriman segera bantuan alat berat, peralatan pencarian dan evakuasi, serta perlengkapan forensik. Ini bertujuan untuk membantu menemukan dan mengidentifikasi para korban yang belum Tim Pertahanan Sipil temukan.
Pemakaman ini berlangsung hanya beberapa pekan setelah 112 jasad warga Palestina dari keluarga Abu Sharia dan al-Hasayna dimakamkan secara massal. Mereka Tim Pertahanan Sipil temukan dari lokasi serangan Israel di Sabra pada November 2023.
Berdasarkan data dari laporan media, agresi genosida sejak Oktober 2023 telah merenggut nyawa sedikitnya 73.400 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.300 orang lainnya. Sementara itu, sekitar 90 persen infrastruktur di Jalur Gaza mengalami kerusakan berat atau hancur total.
Hingga kini, di tengah sisa-sisa kehancuran, banyak keluarga di Gaza masih memikul duka mendalam. Mereka juga menantikan kepastian untuk dapat menemukan dan memakamkan anggota keluarga mereka yang hilang secara layak.
Sumber: Al Jazeera








