Doniana, Pelukis yang Tewas Satu Bulan Sebelum Wisuda

Doniana, 22, sedang berbaring di kamarnya, di antara buku-buku dan gambar-gambarnya, ketika mendengar berita tentang agresi Israel di Jalur Gaza. Pada saat itu, saudara laki-lakinya juga memilih untuk tinggal di rumah dan menghabiskan waktu bermain di kamar karena penyebaran drone Israel secara luas. Mereka berpikir bahwa dinding rumah akan melindungi mereka dari serangan. Namun, tiba-tiba gambar Doniana melayang, ibunya jatuh ke tanah, sementara roti yang sedang ibunya buat, basah oleh darah dan debu. Saudara-saudaranya juga jatuh ke tanah, masing-masing di sudut rumah mereka.

Ini adalah tembakan peluru dari tank Israel di perbatasan kota Al-Fokhari di Jalur Gaza selatan. Kemudian rentetan peluru kembali ditembakkan selama lima menit, dan suara semua orang di Beit Al-Amour menjadi sunyi. Ayah Doniana bergegas mempertaruhkan diri untuk memasuki rumah demi menyelamatkan keluarganya.

Ayah Doniana, Adnan Al-Amour, menggambarkan pembantaian itu, “Saya sedang berada di luar, tetapi masih di dekat rumah. Tiba-tiba saya mendengar suara tembakan artileri, lalu tembakan terus menerus. Saya terkejut, tapi saya tidak bisa menunggu penembakan berhenti di sekitar kami. Saya memasuki rumah dengan tergesa-gesa, dan melihat Doniana terbaring di sebelah tempat tidurnya dengan berlumuran darah. Saudara-saudaranya terluka, begitu juga ibunya yang masih berada di samping roti. Saya menggendong mereka bersama seorang paman dan membawa mereka keluar dari rumah.”

Ayah dan sang paman tidak dapat mencapai ambulans karena rumah mereka terletak di daerah terpencil, sementara pembantaian dan penembakan terkonsentrasi di kota-kota lain di Jalur Gaza, tempat ambulans berada. Ayahnya berkata, “Setelah satu jam atau lebih mobil petani tiba dan membantu kami, sementara ambulans tertunda kedatangannya.” Mengingat keterlambatan bantuan medis yang sudah sangat terbatas dan sulit, pernapasan korban terluka semakin melambat, sementara Doniana adalah yang paling terpengaruh oleh pecahan peluru.

Doniana wafat sebelum dia sampai di rumah sakit, sementara saudara laki-lakinya terbaring di rumah sakit, tidak mengetahui bahwa kakak perempuannya telah pergi bahkan tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan. Ayahnya berkata, “Doniana akan lulus semester berikutnya di universitas. Saya bekerja keras untuk memastikan bahwa dia tidak akan putus sekolah atau melewatkan satu semester.” Dengan suara yang tertahan rasa sakit, dia mengulangi, “Dia hanya memiliki satu semester lagi untuk lulus, dan sekarang dia telah ‘lulus’. Saya sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Putri saya adalah seorang seniman dan bercita-cita menjadi seorang seniman profesional dan guru seni rupa, tetapi Israel merampas mimpi itu.”

Sumber:

https://safa.ps

***

Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.

Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Donasi

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Free Email Updates
We respect your privacy.

Leave a Reply