JAKARTA – Direktur Fundraising Adara Relief International, Indah Kurniati, menghadiri Focus Group Discussion (FGD) CRESWELL Universitas Indonesia bersama Dompet Dhuafa, Jumat (18/9).
FGD bertema “Memperkuat Sinergi Antar-Aktor dan Kerangka Hukum Menuju Penegakan Keadilan untuk Palestina” ini berlangsung di Philanthropy Building Dompet Dhuafa.
FGD ini menjadi forum ketiga dari CRESWELL UI yang membahas langkah strategis untuk Palestina dengan mempertemukan lembaga filantropi, organisasi, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan.
Pendekatan Advokasi Hukum dan Diplomasi dalam Perjuangan Palestina
Pertama, Azril Mohd Amin, Founder & Chairman CENTHRA Malaysia, memaparkan pendekatan hukum dan diplomasi untuk Palestina. Beliau menyatakan bahwa hukum tanpa diplomasi hanya akan berhenti pada temuan hukum. Sementara itu, diplomasi tanpa hukum hanya akan menjadi pesan politik tanpa standar yang jelas. Maka, ia mendorong kombinasi pendekatan antara diplomasi dan hukum yang mendorong advokasi dan aksi nyata berkelanjutan.
Selanjutnya, Anwar Ghais, ahli hukum internasional asal Lebanon, membahas pentingnya instrumen hukum untuk mendukung gerakan boikot. Menurutnya, sangat penting untuk membuat undang-undang untuk memastikan upaya boikot berjalan efektif.
Selain itu, Anwar mendorong kolaborasi multilateral dan inisiatif baru untuk menindaklanjuti pelanggaran hukum Israel atas Palestina. Ia juga mendorong Indonesia mempelajari Lebanon dalam hal regulasi terkait boikot terhadap Israel.
Pentingnya Sinergi Kolaborasi Antar Elemen untuk Palestina
Sementara itu, Pizaro Ghozali Idrus dari Asia Middle East Center for Research and Dialogue menekankan pentingnya institutionalize, yaitu membangun kolaborasi antar aktor secara terstruktur. Ia memetakan peran pemerintah, parlemen, MUI dan lembaga kemanusiaan, masyarakat sipil, akademisi, serta media dalam mendukung perjuangan Palestina.
Dalam upaya ini, fatwa pun tak hanya sebatas hukum, tetapi menjadi unsur penting dalam ekosistem kebijakan. Ia juga menilai bahwa media internasional harus naik dari campaigner menjadi policy infrastructure.

Sejalan dengan itu, Indah Kurniati mendorong penguatan dukungan masyarakat. Menurutnya, langkah legal dan diplomasi perlu berjalan paralel dengan gerakan masyarakat.
“Saya menyarankan langkah legal maupun diplomasi harus berjalan paralel dengan memperbesar dukungan masyarakat. MUI dapat melakukan pendekatan kepada ormas-ormas besar dan mengingatkan dukungan mereka di masa lalu terhadap Palestina. Para jurnalis yang sudah tergabung dalam gerakan kepalestinaan juga dapat mengajak rekan sesama jurnalis,” ujar Indah.
Dengan demikian, FGD ini menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat dukungan bagi Palestina. Setiap pihak dapat mengambil peran melalui hukum, diplomasi, edukasi, riset, media, dan aksi kemanusiaan.
Kehadiran Adara dalam forum ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus membangun kolaborasi strategis bagi Palestina. Melalui sinergi lintas sektor, Adara mendorong penguatan dukungan masyarakat serta berbagai langkah nyata untuk Palestina.








