JAKARTA – Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menggelar Rapat Konsolidasi Blueprint Entering Al-Aqsa pada Kamis (29/10) di Kantor Adara Relief International, Jagakarsa, Jakarta. Pertemuan ini melibatkan puluhan lembaga di bawah naungan GPCI untuk menyatukan arah gerakan dan menyusun langkah strategis dalam mendukung perjuangan Palestina.
“Kebersamaan kita sejak Global Sumud Flotilla 1 dan 2 adalah hal yang sangat berharga. Misi kita satu, yaitu Palestina merdeka. Karena itu, kita harus tetap bersama-sama dan memperkuat perjuangan hingga bisa masuk Gaza bersama,” ujar Maryam Rachmayani, Direktur Utama Adara Relief International sekaligus Dewan Pengarah GPCI.

Susun Peta Jalan Gerakan Bersama
Melalui konsolidasi ini, GPCI membahas penguatan gerakan kemanusiaan, diplomasi, dan gerakan sipil. Forum juga menyoroti pentingnya menyusun blueprint agar berbagai upaya lembaga berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
Maimon Herawati, Koordinator GPCI turut menilai pentingnya menyusun langkah bersama untuk beberapa tahun ke depan. Baik dalam keterlibatan di misi global, maupun penguatan gerakan di Indonesia.
GPCI menegaskan bahwa isu Palestina dan Baitul Maqdis bukan persoalan sampingan, melainkan prioritas bersama. Karena itu, gerakan perlu melampaui penyaluran bantuan dan membangun langkah strategis jangka panjang.

Husein Gaza menekankan bahwa bantuan kemanusiaan perlu memiliki arah yang jelas dan mampu memperkuat diplomasi sipil di tingkat global. Menurutnya, gerakan bersama dapat memperkuat sinergi antara lembaga di Indonesia dan jaringan internasional.
“Entering Al-Aqsa lebih luas dari breaking the siege,” ungkap Husein. Karena itu, GPCI perlu menyusun peta jalan yang menyatukan berbagai upaya kemanusiaan dan gerakan sipil untuk Palestina.
Bachtiar Nasir turut menekankan bahwa keberhasilan gerakan ini membutuhkan keikhlasan dan kebersamaan seluruh lembaga. Ia mengingatkan bahwa semangat yang telah dibangun tidak akan berarti tanpa kolaborasi yang kuat dan saling mendukung dalam jangka panjang.
“Semua langkah kita selanjutnya harus segera dikonsolidasikan melalui GPCI. Koridor kemanusiaan perlu terus berjalan bersama koridor diplomatik, agar bantuan dapat tersalurkan dengan baik dan tidak tercecer,” ujar Bachtiar Nasir.
Bangun Kolaborasi yang Lebih Terstruktur
Sekretaris Dewan Pengarah GPCI, Samade, menjelaskan bahwa konsolidasi ini menjadi bagian dari penyusunan blueprint gerakan GPCI di Indonesia dan dunia.
Rencana tersebut mencakup penguatan gerakan sipil, pembangunan koridor kemanusiaan di Mesir dan Yordania, serta inisiasi aliansi kemanusiaan bersama sejumlah negara, termasuk Malaysia, Turki, Pakistan, dan Qatar.
Selain itu, forum membahas penguatan struktur organisasi dan sekretariat eksekutif. GPCI juga mendorong integrasi upaya kemanusiaan dan diplomasi agar penyaluran bantuan lebih terkoordinasi dan tepat sasaran.
Sejalan dengan hal tersebut, Bachtiar Nasir mendorong lembaga-lembaga GPCI untuk mengoordinasikan rencana penyaluran bantuan bersama pemerintah dan Baznas. Menurutnya, kerja sama yang terstruktur dapat menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat gerakan kemanusiaan untuk Palestina.
Melalui konsolidasi ini, GPCI berharap seluruh lembaga dapat bergerak dengan visi, strategi, dan arah yang lebih terstruktur.
Dengan demikian, kolaborasi yang terbangun dapat memperkuat bantuan kemanusiaan sekaligus mendukung perjuangan jangka panjang bagi kemerdekaan Palestina dan pembebasan Masjid Al-Aqsa.








