ADARA — Pemahaman yang utuh tentang Baitul Maqdis menjadi bekal penting bagi umat Islam untuk membangun kepedulian dan mengambil peran dalam perjuangan Palestina.
Berlandaskan hal tersebut, Saladin Mission Leadership Program menggelar Saladin Leadership Circle #4 bertema “Kenali Sebelum Membela: Baitul Maqdis 101” pada Ahad (25/10).

Kelas ini menghadirkan Ust. Dr. Saiful Bahri, Lc., M.A., pendakwah sekaligus Kaprodi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Dalam kajian daring ini, Ustadz Saiful mengajak peserta untuk mengenal makna, kedudukan, sejarah, serta kondisi Masjid Al-Aqsha dan Baitul Maqdis.
“Saladin Mission berisi materi kepalestinaan dengan membawa visi Salahuddin. Mari kita terus gaungkan edukasi kepalestinaan ini ke lingkungan terdekat kita,” tutur Fathimah, Project Leader Saladin Mission Leadership Program.
“Inkubasi ini menjadi bentuk tanggung jawab edukasi kami sebagai lembaga sosial kepada para pemuda Islam di Indonesia dalam hal edukasi kepalestinaan, kepemudaan, dan kepemimpinan,” papar Maryam Rachmayani, Direktur Utama Adara Relief International.

Pre-test via Quizziz mengawali kelas ini. Usai pemaparan materi, peserta kembali mengisi post-test untuk menguji kemampuan mereka seputar Baitul Maqdis.
Mengenal Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha
Pada sesi materi, Ust. Dr. Saiful Bahri mengajak peserta memahami Baitul Maqdis melalui sejarah, geografi, dan kedudukannya dalam Islam.
Ust. Saiful menjelaskan bahwa istilah Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha memiliki konteks penggunaan yang berbeda. Dalam hadis Rasulullah, istilah Baitul Maqdis merujuk pada kawasan yang lebih luas, sedangkan Al-Qur’an menyebut Masjid Al-Aqsha.
Menurut Ust. Saiful, alladzi barokna haulahu dalam Al Quran memiliki makna tempat yang diberkahi. Dalam hal ini, Baitul Maqdis ini tidak semata-mata mengarah pada letak geografis, melainkan kepada spirit yang kita lakukan hari ini.
Ia juga menambahkan bahwa Palestina adalah nama yang baru muncul. “Kita dibuat berperang secara istilah sehingga kita mulai melupakan esensinya. Zionis menculik saudara saudara kita yang Ar-Ribath dan sedang salat di Masjid Al-Aqsa. Pendekatan utamanya adalah secara ideologi kita menjaga masjid itu,” pungkasnya.
Pada bagian akhir materi, Ust. Dr. Saiful Bahri membahas berbagai bentuk dukungan terhadap Masjid Al-Aqsha dan Baitul Maqdis. Ia mendorong masyarakat untuk terlibat melalui edukasi, kampanye, bantuan kemanusiaan, advokasi, diplomasi, dan optimalisasi media.

Melalui Saladin Leadership Circle #4, peserta memahami bahwa mengenal Baitul Maqdis merupakan langkah awal untuk membangun fondasi perjuangan. Pemahaman yang baik akan menjadi bekal bagi generasi muda untuk terus belajar, mengambil peran, serta berkontribusi dalam perjuangan Palestina.








