JAKARTA – Solidaritas untuk Palestina perlu diwujudkan melalui aksi nyata dan kolaborasi berkelanjutan. Semangat ini melandasi perempuan Indonesia untuk terus memperkuat dukungan bagi Palestina.
Salah satunya, melalui Forum Perempuan dari Ibu Indonesia untuk Ibu Palestina bertajuk “Lukamu Berdenyut di Jantung Kami” dari Islamic Dakwah Fund (IsDF) MUI. Kegiatan ini berlangsung di Aula Buya Hamka, Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jakarta, pada Rabu (21/10).

Direktur Utama Adara Relief International, Maryam Rachmayani, turut hadir mewakili Adara dalam forum tersebut. Kehadiran Adara sebagai lembaga kemanusiaan yang bededikasi untuk anak dan perempuan di Palestina sejalan dengan tema kegiatan yang berfokus untuk ibu di Palestina.
Forum ini mempertemukan organisasi masyarakat, lembaga filantropi, dan aktivis kemanusiaan. Para peserta membahas cara memperkuat peran perempuan dalam membela Palestina. Mereka juga mendorong kolaborasi agar kepedulian tidak berhenti pada wacana, tetapi berlanjut menjadi aksi nyata.
Menguatkan Peran Perempuan dalam Solidaritas Kemanusiaan

Trisna Ningsih Yuliati, Ketua IsDF MUI membuka rangkaian acara dengan menyampaikan laporan penyelenggara. Menurutnya, perempuan Palestina membutuhkan perhatian khusus karena mereka berperan sebagai pendidik, penggerak kemanusiaan, penjaga keluarga, dan penjaga harapan bagi generasi berikutnya.
“Pertemuan hari ini jangan hanya berhenti sebagai forum diskusi. Mari kita kuatkan jejaring dan komitmen, serta hadirkan aksi nyata.” tuturnya.
Selanjutnya, Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga, Siti Ma’rifah, menyoroti pentingnya meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pencegahan konflik dan upaya perdamaian global. “Jika perempuan menjadi pemimpin, maka kebijakan akan lebih manusiawi dan menyentuh.”
Sementara itu, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, menyatakan bahwa forum ini menjadi acara pertama kaum perempuan di MUI untuk Palestina.
“Kemunkaran dahsyat Israel harus diselesaikan dengan kekuasaan Israel didukung dengan budget, militer, mesin pembunuh, kekuatan politik dan diplomatik yang luar biasa. Maka harus dihadapi oleh kekuasaan yang memiliki kekuatan politik, publik, dan ekonomi yang sangat besar pula. Oleh karena itu, perjuangan ini harus dilakukan oleh semua lini, termasuk perempuan.” paparnya.
“Ibu di Palestina membutuhkan keselamatan, kesehatan, kebutuhan dasar, martabat dan dukungan. Tuntutan ini harus kita penuhi, dan kita tidak bisa sendirian,” tegas Sekretaris Jenderal MUI, Buya Dr. Amirsyah Tambunan, M.A..
“Secara diplomasi, stance kita jelas untuk Palestina. Sentuhan diplomasi ibu ibu bisa mengalahkan bapak bapak yang perkasa.”
International Women Dialogue: Peran Perempuan untuk Palestina

Talkshow menghadirkan sejumlah aktivis dan penggerak solidaritas Palestina. Mereka berbagi pengalaman sekaligus mengajak peserta memperkuat aksi bersama.
Sumeyra Akdeniz Ordu, anggota Steering Committee Global Sumud Flotilla (GSF), membuka sesi dengan menceritakan pengalamannya dalam mengikuti Global Sumud Flotilla. Ia memaparkan perjalanan misi flotilla, mulai dari persiapan pelayaran untuk membawa bantuan kemanusiaan, hingga intersepsi dan penculikan yang ia hadapi.
“Apa yang terjadi oleh aktivis, tidak ada apa apanya dengan perlakuan penjajah terhadap tawanan Palestina. Pengalaman perempuan Palestina akan jauh lebih brutal,” tegas Sumeyra. Ia juga mengajak peserta untuk tetap teguh, saling mendukung, dan terus menyuarakan hak-hak rakyat Palestina.
Berikutnya, aktivis kemanusiaan Annisa Theresia menekankan pentingnya membela Palestina melalui diplomasi dan tindakan sehari-hari. Ia mengajak perempuan untuk terus menyuarakan kebenaran dan memperkuat persatuan. Menurutnya, perjuangan para aktivis Palestina juga dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk bergerak.
Kemudian, Koordinator Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Maimon Herawati, mengajak peserta mengubah rasa prihatin menjadi gerakan aktif. Ia menyebut tiga modal penting untuk memperkuat gerakan Palestina, yaitu grup komunikasi, pertemuan rutin, dan jaringan anggota di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui grup komunikasi, masyarakat dapat menyebarkan informasi Palestina yang terverifikasi secara konsisten. Sementara itu, pertemuan rutin dan jaringan anggota dapat memperkuat koordinasi. Jika dikelola dengan baik, potensi masyarakat Indonesia dapat menjadi kekuatan besar dalam perjuangan Palestina.
Talkshow berlanjut dengan pemaparan Nurjanah Hulwani, Presiden Global Women’s Coalition for Quds and Palestine (GWCQP). Ia mengajak organisasi perempuan dan masyarakat memperluas dukungan bagi Palestina melalui berbagai aksi, termasuk di lingkungan masing-masing. Ia juga menegaskan bahwa pembelaan terhadap Palestina merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap akidah umat Islam serta kemanusiaan.
Workshop dan Pernyataan Sikap untuk Palestina
Setelah forum dialog, peserta mengikuti workshop per kelompok untuk merumuskan langkah nyata dalam memperkuat solidaritas perempuan Indonesia bagi Palestina. Diskusi ini terbagi dalam empat tema, yaitu perempuan dan kerja kemanusiaan; pendidikan dan penguatan generasi muda; media, narasi, dan representasi kemanusiaan; serta jejaring perempuan dan aksi solidaritas global.
Hasil diskusi kemudian dituangkan dalam rencana aksi nyata yang menjadi wujud kolaborasi MUI, lembaga filantropi, serta ormas di seluruh Indonesia.
Pertama, memperkuat solidaritas kemanusiaan yang aman dan akuntabel. Kedua, meningkatkan pendidikan serta penguatan generasi muda. Ketiga, membangun narasi kemanusiaan yang akurat dan beretika. Keempat, memperluas jejaring perempuan dan solidaritas global yang terkoordinasi serta berkelanjutan.
Forum lalu ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap Forum Perempuan, Iman, dan Kebebasan untuk Palestina. Selain menyerukan komitmen empat langkah nyata, peserta turut mendesak pembukaan akses bantuan kemanusiaan seluas-luasnya. Selain itu, mendesak Mahkamah Internasional (ICJ) dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk menetapkan dan mengadili Israel sebagai pelaku genosida di Palestina.







