JAKARTA – Saladin Mission Leadership Program kembali menggelar Saladin Leadership Circle (SLC) #3 pada Sabtu (26/9). Agenda kali ini berkolaborasi dengan LDK Karisma dalam rangkaian Dies Miladies LDK Karisma Universitas Al-Azhar Indonesia.
Melalui Studium Generale, agenda ini memadukan talkshow bedah isu serta workshop kepemimpinan untuk para pemuda.
Pembahasan bermula dengan sejarah bagaimana narasi bisa membalikkan fakta melalui Hasbara. Maka, riset menjadi sangat penting untuk mematahkan narasi tersebut dengan mengedukasi masyarakat mengenai apa yang terjadi di Palestina.
Selanjutnya, sangat penting untuk memperkuat perjuangan ini melalui gerakan boikot. Terlebih, kita sebagai pemuda memiliki potensi besar yang dapat kita optimalkan untuk mendukung perjuangan Baitul Maqdis.
Tak hanya itu, peserta juga berkesempatan untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan diri melalui sesi workshop. Hal ini sejalan dengan misi Saladin Mission yaitu membentuk para pemimpin islam pembebas Baitul Maqdis.
Potensi Pemuda untuk Membangun Peradaban dan Membebaskan Baitul Maqdis
”Bagaimana bisa menjadi generasi muda yang memakmurkan peradaban dunia dan Palestina, jika kita masih malas berdakwah dan belajar?” tegas Dr. Ujang Komarudin, S.HI., M.Si., Lektor Kepala Program Studi Ilmu Hubungan Internasional UAI.
Melalui sesi keynote speech bertajuk “Tantangan Generasi Islam”, ia menekankan pentingnya ilmu dalam membangun peradaban.
“Kompetensi lahir dari dua kekuatan, yaitu ilmu pengetahuan dan pengalaman. Gabungan ini akan melahirkan kompetensi yang kuat dalam membangun peradaban yang mampu menjawab tantangan zaman,” tutur Ujang.

Selanjutnya, Fathimah, Project Leader Saladin Mission menuturkan bahwa bahwa Al-Aqsa, Palestina, serta Baitul Maqdis erat kaitannya dengan akidah umat Islam.
“Kita tidak bisa jadi orang yang biasa saja. Teruslah istiqomah dan menyamakan suhu, salah satunya dengan mendatangi lingkungan yang terus membahas Palestina dan Baitul Maqdis.”
Maka, Saladin Mission menjadi wadah yang tepat untuk memfasilitasi pemuda untuk membangun kompetensi, khususnya mengenai Palestina dan Baitul Maqdis.

“Saladin Leadership Circle menjadi bagian dari edukasi kepalestinaan, kepemudaan, dan kepemimpinan. Kami berharap agenda ini semakin merawat kepedulian pemuda terhadap Palestina dalam upaya pembebasan Baitul Maqdis,” imbuh Maryam Rachmayani, Direktur Utama Adara Relief International.
Bedah Isu Palestina dan Baitul Maqdis
Selanjutnya, Sarah Muthiah Widad, Ihdal Husnayain, serta Syauqi Hafiz mengajak peserta untuk membedah berbagai isu Palestina dan Baitul Maqdis.

Pertama, Sarah yang merupakan seorang aktivis Palestina memulai bahasan dengan bagaimana sebuah propaganda dapat membentuk narasi tentang Palestina. Melalui Hasbara, Israel menyebarkan berbagai narasi untuk menutupi dosa dan kejahatan yang mereka lakukan.
Mendukung upaya Hasbara, AS menggelontorkan dana tambahan untuk Israel sebesar 150 juta USD pada akhir tahun 2024, lebih besar 20 kali lipat dari sebelumnya. “Artinya kita menang. Semakin besar biaya untuk Hasbara, artinya semakin banyak narasi yang harus ditutupi Israel. Efek Thufanul Aqsa sangat luar biasa. Momen ini mampu membuat pergerakan media sosial semakin masif dan menggerakkan masyarakat global untuk mendukung Palestina.”
Berikutnya, Ihdal Husnayain, M. Han., Kepala Divisi Riset dan Pengembangan Adara Relief International, membahas riset Islam dan Baitul Maqdis.
Ia menjelaskan sejumlah tantangan riset Palestina. Salah satunya, keterbatasan sumber serta kendala bahasa.
Oleh karena itu, peneliti yang akrab disapa Naya ini mendorong peserta untuk mengembangkan riset sesuai bidang masing-masing. Kajian dapat mencakup ekonomi, sosial, antropologi, hingga kondisi kemanusiaan di Palestina.
“Semakin kita membaca, maka semakin banyak yang bisa kita lihat,” ujar Ihdal.
Sementara itu, Muhammad Syauqi Hafiz, Lc., Co-Founder BDS Indonesia, membahas Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS) serta gerakan pemuda.
Ia menjelaskan bahwa gerakan BDS mendorong perubahan melalui boikot terhadap pihak yang mendukung atau bekerja sama dengan Israel. “Tujuannya bukan boikot, tetapi untuk keadilan Palestina,” ujar Syauqi.
Menurut Syauqi, pemuda memiliki peran penting dalam perjuangan untuk Palestina. Sebab, pemuda memiliki potensi maksimal dengan kondisi yang masih rasional dan optimal. Maka, ia mengajak pemuda membangun gerakan yang rasional, terarah, dan konsisten.
Belajar Memimpin Diri Sendiri sebelum Memimpin Orang Lain
Selanjutnya, Tsalitsa Haura Syarifah, M.Psi., Psikolog sekaligus CEO Arsanara Development Partner, membawakan sesi workshop bertajuk “The Leader Within You”.

Sesi ini mengembangkan kepemimpinan diri sebagai bagian dari proses pembentukan pemimpin muslim yang siap membebaskan Baitul Maqdis.
Menurut psikolog yang akrab disapa Haura ini, pemimpin perlu memahami dirinya sebelum memimpin orang lain. “Sebelum memimpin orang lain, kita perlu belajar untuk memimpin diri sendiri,” jelas Tsalitsa.
“Dengan kepemimpinan yang baik, kita bisa mendorong perubahan, membentuk nilai dan perilaku anggota, serta menggerakkan dan menginspirasi orang lain untuk tujuan bersama,” tutur Haura.
Dalam workshop ini, Haura membagikan worksheet berisi mengenal kekuatan dan kekurangan diri, mengenal visi, serta menyusun target yang achievable.
Perpaduan pembahasan isu dan pengembangan kapasitas dalam Studium Generale ini menjadi bagian dari upaya Saladin Mission Leadership Program dalam mempersiapkan generasi muda yang siap mengambil peran untuk Palestina.








