JAKARTA – Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menegaskan penolakannya terhadap rencana konser Andrea Bocelli di Indonesia. Sikap ini mengemuka dalam konferensi pers bertajuk “Tolak Konser Andrea Bocelli di Indonesia” di AQL Islamic Center, Jakarta Selatan, Sabtu (31/10).
“Hingga hari ini, belum ada pernyataan langsung dari Bocelli bahwa ia berpihak pada kemanusiaan. Ini adalah konser kemanusiaan yang tidak berimbang dan sebagai sebuah bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan kami lewat pembukaan Undang-Undang Dasar 45.” papar Dr. Bachtiar Nasir.
“Bocelli bukan sekadar pendukung Zionisme, ia adalah kontributor utama IDF. Dalam konsernya, ia berhasil mengumpulkan 9 juta USD untuk IDF,” ungkap Husein Gaza.
Husein menuturkan jika kita melihat track record Zionis Israel sejak 2 dekade terakhir, pendekatan mereka terhadap negara yang menolak zionisme adalah hiburan. Mereka menargetkan anak muda, generasi muslim.
“Alangkah naif dan alangkah bodohnya kalau kita terlalu polos bahwa kedatangan ini tidak ada disisipi oleh agenda Zionis di dalamnya,” tegas Husein Gaza.
“Kita mendengar satu pembelaan, bahwa 3 bulan yang lalu konser Bocelli ini mendatangkan anak-anak Palestina naik ke atas panggung. Tapi ini tentunya tidak menjadi pembelaan yang cukup untuk bisa kita melihat bagaimana anak-anak yang menjadi korban di Gaza,” tutur Direktur Utama Adara Relief International sekaligus Dewan Pengarah GPCI, Maryam Rachmayani.
GPCI menilai pemerintah memiliki peran penting dalam menentukan keberlanjutan konser tersebut. Karena itu, GPCI berharap pemerintah mempertimbangkan kembali rencana penyelenggaraan konser tersebut.
Upaya ini juga sejalan dengan langkah Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sebelumnya, MUI juga telah menggelar forum untuk membahas pernyataan sikap terkait rencana konser Andrea Bocelli. MUI juga melakukan audiensi dengan Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) dan World Parliamentary Palestine Committee (WPPC) DPR RI.
Sikap ini berangkat dari komitmen Indonesia terhadap nilai kemanusiaan dan amanat konstitusi yang menolak segala bentuk penjajahan. Maka, GPCI mengajak masyarakat Indonesia untuk terus menyuarakan penolakan melalui berbagai saluran.








