Komunitas Kristen Palestina kembali mengalami kehilangan mendalam setelah seorang dokter bernama Mary Abu Dawud bersama ibunya, Maysaa, terbunuh akibat serangan udara militer Israel di Kota Gaza. Tragedi tersebut terjadi dalam rangkaian tiga serangan yang menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di kawasan al-Asala, Kota Gaza, pada Sabtu (3/10) sekitar pukul 01.30 dini hari.
Keduanya merupakan bagian dari lima warga Palestina yang menjadi korban jiwa dalam serangan tersebut. Putra Mary, Fuad, 14 tahun, mengetahui kematian ibu dan neneknya saat bersiap berangkat sekolah. Ia kemudian pergi ke rumah sakit bersama ayahnya untuk melihat jenazah mereka.
Mary merupakan seorang dokter. Selama agresi genosida, keluarganya sempat berlindung di Gereja Katolik Keluarga Kudus. Mereka kemudian pindah ke apartemen sebelum serangan terjadi.
Jenazah Mary dan Maysaa kemudian dibawa ke Gereja Santo Porfirius. Keluarga serta anggota Kristen Palestina berkumpul untuk mengikuti doa pemakaman. Sejumlah warga muslim juga hadir untuk memberikan penghormatan.
Baca juga: Hari Solidaritas Jurnalis Internasional: 262 Jurnalis Palestina Terbunuh Sejak Genosida Gaza
Patriark Latin Al-Quds, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, menyampaikan duka mendalam atas kematian keduanya. Gereja Santo Porfirius juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Kematian Mary dan Maysaa kembali menarik perhatian dunia terhadap kondisi rentan komunitas Kristen di Jalur Gaza, yang saat ini populasinya tercatat tinggal kurang dari 1.000 orang dengan mayoritas berlatar belakang tradisi Ortodoks.
Gereja Ortodoks Serbia turut menyampaikan keprihatinan mengenai kondisi Kristen Palestina. Dalam surat kepada Ramzi Khouri, Patriark Serbia Porfirije menyebut adanya penderitaan, persekusi, dan diskriminasi terhadap komunitas Kristen.
Menurut gereja tersebut, Kristen Palestina telah hadir di kawasan itu selama lebih dari 2.000 tahun. Karena itu, upaya meminggirkan komunitas keagamaan dapat mengancam keberagaman sosial dan sejarah kawasan.
Komite Kepresidenan Palestina untuk Urusan Gereja juga menyoroti serangan terhadap komunitas dan institusi Kristen. Kekhawatiran tersebut mencakup Tepi Barat dan Al-Quds bagian timur yang diduduki.
Selama agresi Gaza, sejumlah tempat ibadah Kristen turut terdampak. Pada Oktober 2023, serangan terhadap kompleks Gereja Santo Porfirius membunuh sedikitnya 18 orang yang berlindung di sana.
Bagi Fuad, kehilangan ibu dan neneknya menjadi pengalaman yang sangat personal. “Pendudukan Israel tidak membedakan orang Kristen dan Islam. Kami semua berisiko terbunuh di Gaza,” ujarnya.








