Krisis air Gaza semakin memburuk dan mengancam kesehatan masyarakat. Layanan air bersih dan pengelolaan limbah juga berada di ambang keruntuhan akibat kekurangan bahan bakar serta suku cadang.
Alaa Al-Din Al-Batta, Wakil Kepala Persatuan Pemerintah Kota Gaza sekaligus Wali Kota Khan Younis, menyampaikan peringatan tersebut pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Menurutnya, lebih dari dua juta warga Palestina menghadapi kekurangan air minum dan kebutuhan rumah tangga. Selain itu, suhu tinggi meningkatkan risiko “haus massal” di tengah memburuknya layanan kesehatan.
Krisis air Gaza semakin parah karena pembatasan masuknya bahan bakar dan suku cadang. Padahal, pemerintah kota membutuhkan keduanya untuk mengoperasikan generator, sumur air, dan fasilitas pengolahan limbah.
Puluhan generator terancam berhenti karena kekurangan bahan bakar. Sejak Maret, pemerintah kota juga tidak menerima solar untuk mengangkut puing dan membersihkan jalan.
Selain itu, sekitar 700 generator membutuhkan pelumas. Namun, pasokan yang masuk hanya mencukupi kebutuhan sekitar 40 generator. Akibatnya, harga pelumas yang tersedia melonjak sekitar 1.000%.
Kini, generator hanya beroperasi maksimal 20% dari kapasitasnya. Pemerintah kota harus memprioritaskan penyediaan air dan pengelolaan limbah, sehingga proses pembersihan puing terpaksa dihentikan.
Jika fasilitas pengolahan limbah berhenti, air kotor dapat meluap ke jalan dan tenda pengungsian. Kondisi tersebut dapat mempercepat penyebaran penyakit dan memperburuk krisis air.
Oleh karena itu, Al-Batta mendesak PBB, komunitas internasional, serta mediator (Mesir, Turki, dan Qatar) agar bertindak segera. Ia meminta pembukaan jalur kemanusiaan untuk memasukkan bahan bakar, suku cadang, dan peralatan penting.
Krisis air di Gaza bukan sekadar persoalan kekurangan air. Krisis ini juga mengancam sanitasi, kesehatan, lingkungan, dan keselamatan jutaan warga. Tanpa pasokan yang memadai, krisis air Gaza berpotensi berkembang menjadi bencana kesehatan masyarakat yang lebih besar.
Sumber: Palinfo








